nataragung.id, Artikel — Kadang aku suka termenung sendiri, bukan… bukan karena iri, apalagi ingin menakar kebahagiaanku dengan kebahagiaan wanita lain. Aku tahu, setiap rumah tangga punya ceritanya masing-masing, punya warna dan ujiannya sendiri. Tapi, sejatinya… wanita itu memang makhluk yang lemah. Bukan lemah karena tak berdaya, tapi lemah karena hatinya begitu halus, mudah tersentuh, dan mudah sekali merasa sendiri, meski di tengah keramaian.
Namun di tengah semua rasa itu, aku bersyukur… Allah memberi karunia berupa kemampuan untuk menjalani dan melihat hal-hal baik di setiap keadaan. Sekalipun hatiku pernah perih, aku tetap berusaha melihat hikmah yang tersembunyi di baliknya. Sekalipun tak semua yang aku harapkan terwujud, aku memilih untuk tetap memeluk syukur atas yang telah ada.
Pernah suatu kali, aku melihat seorang wanita diperlakukan dengan begitu manis oleh pasangannya. Di depan banyak orang, si suami menggenggam tangannya, mengusap kepala istrinya sambil tersenyum lembut. Mereka tertawa bersama, berbicara seolah dunia hanya milik berdua. Masyaallah… hati ini rasanya ikut hangat. Ada rasa kagum, ada rasa haru, tapi juga ada sedikit sesak yang tak bisa aku jelaskan.
Bukan karena aku tak bahagia dengan kehidupanku, tapi karena aku sadar… tidak semua wanita mendapatkan perlakuan seperti itu. Kadang kita hanya bisa tersenyum sambil berkata dalam hati, “Semoga suatu hari nanti, aku juga bisa merasakan diperlakukan seperti itu.”
Tapi nyatanya… aku memilih untuk tidak memikirkan terlalu jauh soal diriku. Aku lebih sering mengalihkan doa itu untuk anak-anakku. Dalam setiap sujud malamku, aku bisikkan pada Allah…
“Ya Rabb, semoga Engkau hadirkan pasangan hidup untuk anak-anakku kelak, yang bisa meratukan mereka. Pasangan yang menganggap mereka bukan hanya istri, tapi juga sahabat, rumah, dan separuh jiwanya. Pasangan yang tahu bagaimana menghargai, melindungi, dan memuliakan mereka.”
Aku ingin anak-anakku tumbuh menjadi wanita yang kuat, tapi tetap lembut hatinya. Wanita yang tahu bahwa cinta bukan sekadar kata-kata manis, tapi juga perbuatan yang membuat hati merasa aman. Aku ingin mereka menjadi istri yang baik, ibu yang penuh kasih, tapi juga pribadi yang tetap punya harga diri.
Karena aku tahu… di balik semua senyum seorang wanita, ada doa-doa panjang yang tak pernah orang lain dengar. Ada rindu untuk dimengerti, ada harap untuk dicintai, dan ada mimpi untuk selalu merasa menjadi yang istimewa di mata pasangannya.
Mungkin aku bukan wanita yang mendapatkan semua itu di dunia ini. Tapi kalau aku bisa memastikan anak-anakku merasakannya, aku rasa itu sudah cukup untuk membuatku bahagia. Dan untuk diriku sendiri… cukup aku syukuri bahwa aku masih diberi kekuatan untuk melihat cahaya, bahkan di tengah gelapnya keadaan.
Editor : Muhammad Arya