BADIK, Pelindung Harkat dan Harga Diri dalam Tradisi Lampung Buku – 2: Asal Usul, Legenda yang Terukir pada Bilah. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Setiap bilah badik Lampung bukanlah sekadar tempaan logam biasa. Ia adalah lembaran sejarah yang kaku, penyampai cerita yang bisu, dan penjaga memori kolektif suatu peradaban. Jika Buku Pertama membahas badik sebagai simbol filosofis, maka dalam buku kedua ini, kita menyelami jantung dari mitos dan legenda yang melahirkan sang penjaga tersebut. Asal-usul badik terukir pada setiap bilahnya, berbisik tentang zaman gemilang, pengorbanan, dan sumpah suci para leluhur yang membentuk jiwa masyarakat Lampung. Inilah hikayat tentang bagaimana sebilah senjata menjadi jelmaan semangat Piil Pesenggiri itu sendiri.

Bab 1: Dari Khazanah Skala Brak: Tambo dan Migrasi Besar
Hikayat asal-usul badik tak terlepaskan dari epos besar perpindahan orang Lampung dari dataran tinggi Skala Brak. Menurut Tambo Sekala Brak yang disimpan oleh Pepadun Marga Buay Belunguh, perjalanan dimulai ketika empat paksi (marga utama), Paksi Buay Bejalan Diway, Paksi Kenyangan, Paksi Nyerupa, dan Paksi Belunguh, turun menyebar ke penjuru Lampung. Mereka membawa serta pengetahuan tentang besi dan tempaan.

Sebuah kutipan dari naskah kuno Warahan Umpu menyatakan:
“Umpu Pernong tiuh di Skala Brak, ngehnyou Lampung ngehaghou lembaga, sijou besi, tembou senjata, piil pesenggiri haga tiyan.”
(Terjemahan dan Analisis): “Umpu Pernong tinggal di Skala Brak, mengajarkan adat Lampung dan lembaga, mengolah besi, menempa senjata, agar Piil Pesenggiri tetap terjaga.” Kutipan ini menegaskan bahwa keterampilan menempa senjata diajarkan langsung oleh leluhur (Umpu) dan merupakan bagian integral dari penjagaan adat dan harga diri (Piil Pesenggiri). Besi bukan hanya material, tetapi wahana untuk melestarikan suatu cara hidup.

Bab 2: Legenda Sang Pemburu dan Roh Gunung Rajabasa
Salah satu legenda paling hidup berasal dari wilayah selatan, sekitar Gunung Rajabasa. Dikisahkan tentang seorang pemburu ulung dari Marga Keratuan Darah Putih bernama Minak Temui Jati. Suatu hari, ia mengejar seekor rusa jelmaan hingga ke puncak gunung. Di sana, ia bertemu dengan seorang sesepuh berjubah putih, penunggu tempat tersebut.
Sang sesepuh memberikan sebilah besi berkarat yang telah tertancap di batu sejak zaman bahula. Sang pemburu diperintahkan untuk menempa kembali besi itu. Setelah melalui laku tapa dan semadi selama empat puluh hari, Minak Temui Jati berhasil menempa besi itu menjadi sebilah badik yang sangat indah. Pada bilahnya, secara gaib terlihat pola pamor seperti jejak kaki rusa yang dikejarnya. Badik itu dinamai Badik Jejama Rusa (Badik Jejak Rusa).
Sang sesepuh berpesan:
“Guna inou badik niku, bukan ghaghou ngehancoukon, tapi ghaghou ngejaghou hati diri. Sai sapa sai hinou ngehinaou andokmu, badik niku sai nerimo tulah.”
(Terjemahan dan Analisis): “Kegunaan badik ini, bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menjaga hati diri. Siapa saja yang menghina harga dirimu, badik ini yang akan menerima (memberi) tulah.” Legenda ini mengandung nilai spiritual yang dalam.

Badik diperoleh bukan melalui pertumpahan darah, melainkan melalui laku spiritual dan penyucian diri. Fungsinya bergeser dari alat ofensif menjadi pelindung spiritual. Pola pamor “jejak rusa” melambangkan pengejaran akan kebenaran dan penuntun dalam perjalanan hidup.

Bab 3: Silsilah dan Pusaka Marga: Badik sebagai Otoritas
Pada banyak marga, sebuah badik pusaka merupakan simbol otoritas dan kesinambungan kepemimpinan. Dalam Marga Pubian, misalnya, badik pusaka yang dikenal sebagai Badik Siwar Matoton (Badik Seluang yang Lurus) diwariskan turun-temurun kepada anak laki-laki tertua. Badik ini menjadi simbol sahnya seorang Penyimbang (kepala adat).
Prosesi serah terima badik pusaka ini adalah sebuah ritual sakral. Calon penerima harus melalui masa pemali (pantangan) dan belajar mengahou andok (menjaga harga diri). Dalam upacara, tetua adat akan mengucapkan mantra serah terima:
“Inou badik Siwar Matoton, titipan Umpu di luah, sai jadi pengingat, sai jadi pejaghou, andokmu, adokmu, ghamaoumu.”
(Terjemahan dan Analisis): “Ini badik Siwar Matoton, titipan leluhur di dunia, jadikan pengingat, jadikan penjaga, harga dirimu, adatmu, keluargamu.” Kutipan ini menempatkan badik sebagai “titipan” leluhur, yang berarti sang penerima bukanlah “pemilik” mutlak, melainkan khadam atau penjaga yang suatu saat nanti harus meneruskannya lagi. Ini mencerminkan filosofi kekuasaan dalam budaya Lampung yang bersifat kolektif dan bertanggung jawab, bukan individual.

Bab 4: Pamor dan Tulisan Gaib: Bahasa pada Bilah
Pola pamor (betik) pada bilah badik dipercaya bukanlah hasil tempaan yang acak. Setiap pola memiliki makna dan kisahnya sendiri. Motif pucuk rebung (tunas bambu) yang umum ditemui melambangkan keteguhan, pertumbuhan, dan kesinambungan. Motif ular naga melambangkan kekuatan, kebijaksanaan, dan perlindungan.
Yang lebih menarik adalah badik-balih yang diyakini memiliki tulisan gaib pada bilahnya, sering disebut sebagai huruf Ulu atau aksara Kaganga kuno. Seorang tetua adat dari Marga Sungkay bercerita tentang Badik Kitabou milik leluhurnya. Konon, pada bilah badik itu terukir kalimat dalam bahasa lampung kuno:
“Tiyan sai beghati bengou, sai bejuluk beadek, tiyan sai bepunyai.”
(Terjemahan dan Analisis): “Orang yang berhatikan bening, yang bergelar beradat, orang yang mempunyai (martabat).” Ukiran ini diyakini muncul dengan sendirinya dan hanya dapat dilihat oleh mereka yang “berhati bening”. Ini merupakan personifikasi dari nilai inti Piil Pesenggiri.

Badik tidak hanya melambangkan nilai-nilai itu, tetapi juga secara aktif “memilih” dan “mengingatkan” pemiliknya untuk senantiasa hidup dalam jalan tersebut.
Epilog: Legenda yang Terus Ditempa
Legenda dan asal-usul badik Lampung mungkin beragam dari satu marga ke marga lainnya, namun benang merahnya tetap sama: badik lahir dari rahim spiritualitas, kearifan, dan kebutuhan mendalam untuk mempertahankan identitas. Setiap kali seorang pandai besi menempa sebuah badik baru, ia tidak hanya membentuk besi dan kayu; ia sedang mengulangi dan menghidupkan kembali epos leluhur.
Legenda-legenda ini terukir abadi pada setiap bilah, menjadi pengingat bahwa harga diri (andok) bukanlah konsep abstrak. Ia dibentuk oleh sejarah, dijaga oleh sumpah, dan diwariskan melalui benda-benda pusaka yang penuh makna. Badik adalah hikayat yang bisa digenggam, legenda yang diselipkan di pinggang, dan penjaga yang akan terus berbisik tentang siapa kita dan dari mana kita berasal.

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Naskah Kuno: Tambo Sekala Brak (Transkripsi yang disimpan oleh Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak). Format: Fisik (Arsip Kerajaan).
2. Buku: Cerita Rakyat Daerah Lampung oleh Prof. Dr. Hilman Hadikusuma (Penerbit: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983). Format: Fisik.
3. Jurnal Ilmiah: “Simbolisme Senjata Tradisional dalam Masyarakat Adat Lampung” dalam Jurnal Archaeoastronomi dan Ethnosains, Vol. 5, No. 2 (2021). Format: Digital (Portal Jurnal Nasional).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

MUTIARA PAGI : Tiga Sifat Dunia. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id – Natar – Dunia ini hanyalah tempat persinggahan, bukan tempat tinggal abadi. Allah dan Rasul-Nya telah banyak mengingatkan kita tentang hakikat dunia, agar kita tidak terjebak dalam tipu dayanya.

Pertama, dunia adalah مَتَاعُ الغُرُور (mataa‘ul-ghurūr) – kesenangan yang menipu. Allah berfirman:

> وَمَا الْحَيَوٰةُ الدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ الْغُرُورِ

“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Āli ‘Imrān: 185)

Dunia tampak indah, namun ia bisa memperdaya manusia yang terlena. Banyak yang sibuk membangun istana dunia, padahal rumah di akhirat lebih layak untuk kita persiapkan.

Kedua, dunia adalah مَتَاعٌ إِلَى حِين (mataa‘un ilā hīn) – kesenangan yang hanya sementara. Allah berfirman:

> قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَى

“Katakanlah: kesenangan dunia itu hanya sebentar, sedangkan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa.” (QS. An-Nisā’: 77)

Hari-hari yang kita jalani hanyalah detik-detik singkat. Dunia ini ibarat mimpi malam, yang akan terbangun dengan kematian.

Ketiga, dunia adalah مَتَاعٌ قَلِيل (mataa‘un qalīl) – kesenangan yang sedikit. Allah berfirman:

> مَتَـٰعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَىٰهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

“Itu hanyalah kesenangan yang sedikit; kemudian tempat kembali mereka adalah neraka Jahannam, dan Jahannam itu adalah tempat yang buruk.” (QS. Āli ‘Imrān: 197)

Betapa kecil nikmat dunia dibandingkan nikmat akhirat yang kekal. Seindah apa pun dunia, ia tidak sebanding dengan satupun kenikmatan di surga.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

> الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin, dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

Maka janganlah kita tertipu oleh gemerlap dunia yang fana. Gunakanlah dunia sebagai jembatan menuju akhirat, sebagai ladang amal untuk menuai hasil di hari perhitungan. Sesungguhnya, dunia hanyalah sementara, menipu, dan sedikit; sedangkan akhiratlah yang kekal dan penuh dengan kenikmatan. (73).
WaAllahu A’lam

_____
? H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Kapolres Lampung Selatan Toni Kasmiri Gelar Panen Raya Jagung Kuartal III di Kecamatan Ketapang. Sekda Apresiasi Sinergi Untuk Ketahanan Pangan Nasional

nataragung.id – Ketapang – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lampung Selatan, Supriyanto, menghadiri kegiatan Panen Raya Jagung Serentak Kuartal III Tahun 2025 yang digelar Polres Lampung Selatan di Dusun Bangun Dana, Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang, Sabtu (27/9/2025).

Panen raya ini merupakan bagian dari program Sasembada Pangan Nasional yang dicanangkan Presiden RI Prabowo Subianto. Kegiatan serentak ini dipusatkan di Kabupaten Oku Timur, Sumatera Selatan, dan dihadiri langsung Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Melalui sambungan virtual, Kapolri menegaskan panen raya ini menjadi bukti nyata keberlanjutan program pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan menjaga stabilitas pasokan pangan nasional.

“Pada panen jagung hari ini luas lahannya 1.788 hektare dengan estimasi hasil panen 271 ton. Untuk kuartal III secara nasional, panen akan berlangsung di lahan seluas 166.512 hektare dengan estimasi 751.442 ton hingga akhir September 2025,” jelasnya.

Kapolri juga mengungkapkan bahwa kerja sama lintas sektor selama ini telah membuka luasan lahan mencapai 819.081 hektare, dengan 483.822 hektare di antaranya sudah ditanami. Ia menekankan pentingnya sinergi semua pihak untuk mendukung target penanaman 1 juta hektare sebagaimana arahan Presiden.

Di Lampung Selatan, kegiatan panen raya turut dihadiri Kapolres AKBP Toni Kasmiri beserta jajaran, anggota Forkopimda, perwakilan Bulog, Dinas Pertanian, serta kelompok tani.

Kapolres Lampung Selatan, AKBP Toni menyebut panen ini sebagai bukti nyata keterlibatan Polri dalam mendukung ketahanan pangan. Dari lahan ketahanan pangan seluas 2 hektare yang dikelola Polres, diperkirakan menghasilkan 12 ton jagung.

“Polres Lampung Selatan tidak hanya fokus pada penegakan hukum, tetapi juga hadir menjaga stabilitas ekonomi dan membantu masyarakat. Panen ini adalah bukti sinergi antara kepolisian, TNI, pemerintah daerah, dan kelompok tani,” ungkap Toni.

Sementara, Sekda Supriyanto memberikan apresiasi atas langkah Polres Lampung Selatan bersama masyarakat dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.

Menurutnya, panen raya jagung ini menjadi bukti nyata peran aktif kepolisian dalam membantu program pemerintah, khususnya di sektor pertanian dan pangan. (mara)

Stres, Pembunuh Karier yang Diam-Diam: 7 Cara Mengelolanya agar Tetap Produktif

nataragung.id, Artikel — Bayangkan seseorang yang dulu penuh semangat, datang ke kantor dengan ide-ide segar, berlari mengejar target, dan bercita-cita tinggi menapaki tangga karier. Namun perlahan, cahaya itu meredup. Senyum berubah menjadi keluhan, fokus berganti dengan kebingungan, dan absensi kerja semakin sering. Semua itu bukan karena mereka kehilangan kemampuan, melainkan karena satu musuh yang bekerja diam-diam: stres.

Stres adalah pembunuh karier yang paling diam-diam. Ia tidak datang dalam bentuk bentakan atau teguran atasan, tetapi perlahan menggerogoti motivasi, konsentrasi, bahkan reputasi seseorang.

Sebuah studi dari American Institute of Stress mencatat bahwa 77 persen pekerja mengalami stres yang memengaruhi kinerja mereka. Lebih mengejutkan lagi, 50 persen di antaranya mengaku kehilangan minat pada pekerjaan yang sebelumnya mereka sukai.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat orang yang awalnya ambisius berubah menjadi mudah marah, kehilangan fokus, atau mulai sering absen. Masalah sebenarnya bukan pada kemampuan mereka, melainkan pada cara mengelola stres. Jika tidak diolah, stres akan menjadi lingkaran setan: tekanan membuat performa turun, performa buruk menambah tekanan, dan akhirnya karier pun hancur.

Lantas, bagaimana cara mengelola stres agar tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan mental? Berikut tujuh langkah yang bisa dilakukan.


1. Mengenali Sinyal Awal Stres

Mengelola stres dimulai dari kesadaran. Banyak orang baru sadar ketika tubuh sudah memberi peringatan keras seperti insomnia atau sakit kepala. Padahal tanda awal biasanya sederhana: sulit fokus, mudah lupa, atau kehilangan minat.

Contoh, seorang manajer yang mulai menunda rapat penting atau menanggapi email dengan nada singkat sebenarnya sedang menunjukkan beban berlebih. Jika dikenali lebih awal, langkah pencegahan bisa dilakukan sebelum berujung burnout.


2. Menentukan Prioritas dengan Cerdas

Stres sering memburuk karena kita ingin menyelesaikan semua hal sekaligus. Prinsip 80/20 (Pareto) bisa menjadi panduan: fokuslah pada hal yang berdampak besar.

Seorang karyawan yang mendahulukan proyek utama akan lebih lega daripada yang sibuk dengan hal-hal kecil hanya demi merasa produktif. Menentukan prioritas bukan menghindar, melainkan mengarahkan energi ke hal yang benar-benar penting.


3. Membangun Kebiasaan Mikro Relaksasi

Mengelola stres tidak selalu butuh cuti panjang. Latihan pernapasan dua menit, berjalan singkat, atau meditasi sederhana sudah cukup membantu menurunkan kadar kortisol.

Penelitian di Harvard Medical School membuktikan, pernapasan dalam dapat menurunkan detak jantung dan membawa tubuh keluar dari mode “fight or flight”. Jeda singkat ini justru membuat performa kerja kembali tajam.


4. Mengelola Ekspektasi dan Batasan Diri

Sering kali yang membuat stres bukan pekerjaannya, melainkan ekspektasi yang berlebihan. Menetapkan batasan realistis adalah langkah penting.

Seorang karyawan yang berkata, “Saya bisa selesaikan ini besok dengan hasil lebih baik” akan lebih dihargai daripada memaksakan menyelesaikan pekerjaan secara terburu-buru dengan kualitas rendah.


5. Menjaga Kualitas Tidur

Tidur adalah mekanisme alami tubuh untuk memulihkan diri. Namun, tidur sering jadi korban pertama ketika stres datang.

Penelitian dari University of Pennsylvania menyebut, kurang tidur menurunkan kemampuan mengambil keputusan hingga 40 persen. Tidur cukup bukanlah kemewahan, melainkan investasi untuk karier jangka panjang.


6. Mengembangkan Jaringan Sosial yang Mendukung

Stres lebih ringan jika tidak dihadapi sendirian. Berbicara dengan rekan kerja atau mentor memberi dukungan emosional sekaligus solusi baru.

Psikolog menyebutnya sebagai social buffering effect, yakni perlindungan mental yang lahir dari hubungan sosial. Bahkan, sekadar merasa didengar sudah menurunkan tingkat stres secara signifikan.


7. Mencari Makna dari Pekerjaan

Menurut Viktor Frankl, makna adalah energi mental yang membuat manusia bertahan di situasi paling sulit.

Seorang guru yang melihat pekerjaannya sebagai cara membentuk masa depan generasi akan lebih tabah dibanding yang hanya menganggapnya sebagai rutinitas. Ketika pekerjaan punya makna, stres bukan lagi musuh, melainkan tanda bahwa kita sedang mengerjakan hal penting.


Penutup

Pada akhirnya, karier bukan hanya tentang seberapa cepat kita naik jabatan atau seberapa besar gaji yang kita terima. Karier adalah perjalanan panjang yang menuntut stamina mental dan fisik. Stres mungkin tidak terlihat, tetapi ia bisa menjadi pisau tajam yang perlahan mengikis masa depan kita.

Jangan biarkan dirimu hancur diam-diam hanya karena tak mampu mengelola tekanan. Kenali tanda-tandanya, ambil kendali, dan temukan kembali makna dari setiap pekerjaan yang kau lakukan.

Sebab, hidup bukan sekadar bekerja hingga lelah, melainkan menjaga diri agar tetap waras, kuat, dan siap melangkah menuju masa depan yang lebih baik.

 

Wabup Lampung Selatan Dampingi Ketua MPR RI Serap Aspirasi Warga di Desa Candimas – Natar

nataragung.id – Natar – Wakil Bupati Lampung Selatan, M. Syaiful Anwar, mendampingi Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, dalam kunjungan kerja ke daerah pemilihan (Kundapil) di Desa Candimas, Kecamatan Natar, Jumat (26/9/2025).

Turut hadir Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Ketua DPRD Provinsi Lampung Ahmad Giri Akbar, Ketua DPRD Lampung Selatan Erma Yusneli, Kapolres Lampung Selatan Toni Kasmiri, serta anggota DPRD provinsi maupun kabupaten dari Fraksi Gerindra.

Kunjungan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi pemerintah pusat dan daerah, sekaligus wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Syaiful Anwar mengapresiasi kehadiran Ketua MPR RI di Kabupaten Lampung Selatan. Ia menilai, kunjungan pimpinan lembaga tinggi negara ini mencerminkan komitmen kuat untuk senantiasa dekat dengan rakyat serta memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan secara nyata.

“Momentum kunjungan kerja ini bukan hanya menjadi wahana silaturahmi, tetapi juga sarana memperkuat sinergi antara pusat dan daerah dalam menjawab berbagai isu strategis bangsa, seperti ketahanan pangan, pengendalian inflasi, peningkatan daya saing UMKM, penguatan SDM, hingga percepatan transformasi ekonomi hijau dan digital,” kata Syaiful.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Kecamatan Natar memiliki peran strategis sebagai kawasan penyangga ibu kota Provinsi Lampung. Untuk itu, Pemkab Lampung Selatan saat ini mendorong inovasi melalui program unggulan Agro Eduwisata, yang mengintegrasikan sektor pertanian, pendidikan, dan pariwisata.

“Kami yakin program ini sejalan dengan visi MPR RI dalam membangun kedaulatan pangan, memperkuat ekonomi kerakyatan, dan menghadirkan pembangunan yang berkeadilan,” ujarnya.

Menutup sambutan, Syaiful menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya atas kunjungan Ketua MPR RI. Ia berharap momentum tersebut membawa keberkahan, mempererat persatuan, serta menjadi motivasi untuk terus bekerja demi Indonesia yang lebih baik. (mara)

BADIK, Pelindung Harkat dan Harga Diri dalam Tradisi Lampung. Buku – 1 : Sang Penjaga yang Diselipkan di Pinggang. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Dalam khazanah Nusantara, senjata tradisional kerap kali lebih dari sekadar alat berperang. Ia adalah penanda status, simbol kejantanan, dan yang terpenting, penjaga martabat. Di tanah Lampung, yang dikenal dengan falsafah Piil Pesenggiri-nya, harga diri, kehormatan, dan sikap menjaga diri, sebuah badik bukanlah belati biasa. Ia adalah sang penjaga yang diselipkan di pinggang, manifestasi fisik dari semangat yang tak boleh ternoda. Keberadaannya adalah peringatan sekaligus perlindungan, sebuah ikrar bisu bahwa harkat dan harga diri harus dipertahankan hingga tetes nadi penghabisan.

Sejarah badik Lampung tidak dapat dipisahkan dari migrasi besar-besaran masyarakat Lampung dari Skala Brak, gunung suci tempat bermulanya peradaban mereka.

Salah satu marga tertua, Paksi Pak Sekala Brak, dalam Tambo atau hikayat turun-temurun mereka, menceritakan bagaimana leluhur mereka turun dari pegunungan membawa tiga benda pusaka: keris, pedang, dan tombak. Namun, untuk keseharian dan perlindungan diri, sebuah senjata yang lebih praktis diciptakan: badik.

Legenda Marga Pubian menuturkan kisah tentang seorang pemuda gagah berani bernama Minak Sebalik Langit. Suatu ketika, ia harus menghadapi ancaman dari kelompok perampok yang mengganggu ketenteraman kampung. Dengan hanya berbekal sebilah badik yang diukir dengan motif pucuk rebung (tunas bambu), simbol keteguhan dan pertumbuhan, ia berhasil mengusir para penjahat itu.

Sejak saat itu, badik yang ia gunakan diwariskan turun-temurun dan menjadi simbol keberanian dan kepemimpinan dalam marga tersebut.

Dokumen kuno berupa warahan (naskah piagam) pada kulit kayu dari Marga Buay Nunyai juga menyebutkan badik sebagai bagian dari pesukeh (mas kawin) yang wajib diberikan, menandakan bahwa seorang laki-laki harus mampu melindungi kehormatan keluarga yang akan dibinanya.

Sebilah badik Lampung adalah sebuah mahakarya yang penuh makna. Setiap komponennya dirancang dengan filosofi mendalam.
1. Bilah (Awak Badik): Terbuat dari besi baja pilihan, seringkali dari baja meteor atau besi yang ditempa berulang kali. Pola pamornya, yang dalam bahasa Lampung disebut betik, diyakini memiliki kekuatan magis. Motif seperti ular lidi melambangkan kewaspadaan, sementara awan-awanan melambangkan kebijaksanaan yang luas. Bentuk bilahnya yang melebar di pangkal dan meruncing di ujung (bentuk badik khas Lampung, berbeda dengan badik Sulawesi) melambangkan dasar kehidupan yang kuat dan tujuan yang fokus.
2. Gagang (Hulu Badik): Biasanya terbuat dari kayu keras, gading, atau tanduk. Ukirannya sangat detail, seringkali berbentuk kepala burung serindit atau garuda, simbol kewibawaan dan kedekatan dengan alam atas. Ada pula yang berbentuk kepala naga, melambangkan kekuatan dan perlindungan. Gagang yang erat dan nyaman di genggaman menyimbolkan kepercayaan diri dan kendali yang matang.
3. Sarung (Sarung Badik): Terbuat dari kayu berlapis kain atau logam. Sarung ini sering dihiasi dengan benang emas dan perak serta manik-manik, menunjukkan status sosial pemiliknya. Motif sulur-suluran yang menghiasi sarung melambangkan kesinambungan generasi dan hubungan kekeluargaan yang erat.

Keberadaan badik adalah cerminan nyata dari empat pilar Piil Pesenggiri:
1. Pesenggiri (Harga Diri): Badik adalah penjaga harga diri. Sebuah pepatah Lampung kuno menyatakan, “Bejuluk Adok, Beaquet Bulan” (Bergelar secara resmi, berbadik bulan di pinggang). Artinya, gelar adat yang disandang seseorang (bejuluk adok) harus diimbangi dengan sikap dan kemampuan untuk mempertahankannya, yang diwakili oleh badik di pinggang. Badik mengingatkan pemakainya untuk selalu bertindak terhormat, karena setiap tindakannya mencerminkan harga diri keluarganya.
2. Nemui Nyimah (Sikap Terbuka dan Ramah): Meskipun merupakan senjata, badik tidak pernah dihunus untuk menunjukkan kesombongan. Ia terselip rapi, tanda bahwa pemiliknya bersikap nemui nyimah, siap menerima tamu dengan tangan terbuka. Namun, jika kehormatannya diinjak-injak, sang penjaga akan keluar. Ini selaras dengan filosofi, “Sai Bumi Dipandu, Sai Langit Dijulang” (Bumi dipijak, langit dijunjung), menghormati tamu tetapi juga menjunjung tinggi norma dan keadilan.
3. Nengah Nyappur (Suka Bersosialisasi): Dalam pergaulan, badik adalah bagian dari busana adat lengkap. Keberadaannya menunjukkan bahwa seorang laki-laki siap nengah nyappur (bergaul) dengan penuh kesadaran akan identitas dan tanggung jawabnya. Ia bukan untuk pamer, melainkan sebagai pengingat untuk menjaga sikap dalam pergaulan.
4. Sakai Sambayan (Gotong Royong): Badik juga berfungsi sebagai alat kerja, untuk memotong, membersihkan, atau membuka jalan. Ini melambangkan semangat sakai sambayan, bahwa seorang laki-laki harus siap membantu dan berguna bagi komunitasnya, bukan hanya dengan fisik tetapi juga dengan alat yang dimilikinya.

Kekuatan spiritual badik paling terasa dalam ritual-ritual adat. Dalam prosesi Cangget, tarian penyambutan tamu agung, gerakan para penari pria yang lincah dan tegas seringkali mensimulasikan gerakan silat dengan badik, menunjukkan kewaspadaan dan kehormatan.

Yang paling sakral adalah penggunaan badik dalam sumpah adat (sumpah saksiana). Untuk menyelesaikan sengketa berat yang tidak bisa diselesaikan dengan musyawarah, para pihak akan disumpah dengan badik. Seorang tetua adat akan membaca mantra dalam bahasa Lampung kuno, kira-kira berbunyi:
“Demi punggawa ni umpu, sai ni jama sai ni luah, beghi pun sai bejuluk, sai bepunyai… nekoh nikuah nihan, tiang pun sai nerimo sangkak, nerimo tulah…” (“Demi para leluhur yang di tempat yang lapang dan di tempat yang sempit, yang bergelar dan yang mempunyai… jika benar bersalah seperti ini, hamba pun menerima bala, menerima tulah…”)

Kutipan ini menunjukkan bahwa badik menjadi medium penghubung dengan dunia spiritual leluhur (umpu). Sumpah yang diucapkan di hadapan badik diyakini akan langsung didengar oleh mereka. Konsekuensi dari sumpah palsu bukanlah tusukan dari bilah badik secara fisik, melainkan sangkak (bencana) dan tulah (kutukan) spiritual yang akan menimpa pelaku dan keturunannya. Di sini, badik berfungsi sebagai perwujudan kebenaran dan keadilan transendental yang mutlak.

Di era sekarang, fungsi praktis badik sebagai senjata mungkin telah memudar. Namun, nilai-nilai yang diwakilinya tetap abadi. Badik telah bertransformasi menjadi cenderamata bernilai tinggi, pusaka keluarga, dan atribut penting dalam upacara adat. Ia mengingatkan generasi muda Lampung akan tanggung jawab untuk menjaga Piil Pesenggiri-nya di medan kehidupan modern yang mungkin lebih kompleks.
Badik bukanlah simbol kekerasan, melainkan simbol kewaspadaan diri. Ia adalah pengingat bahwa harga diri (harkat) bukanlah sesuatu yang diberikan, tetapi sesuatu yang dijaga dan dipertahankan dengan sikap, perbuatan, dan prinsip hidup yang luhur. Ia tetap menjadi Sang Penjaga yang Diselipkan di Pinggang, bukan lagi dari ancaman fisik, tetapi dari erosi moral dan identitas budaya. Ia adalah jiwa dari logam dan kayu yang terus berbisik tentang makna menjadi seorang yang berharkat dan bermartabat dalam tradisi Lampung.

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Buku: Adat Istiadat Lampung oleh Anshori Djausal, M.Hum. (Penerbit: Lengge, 2010). Format: Fisik dan Digital (PDF).
2. Jurnal Ilmiah: “Nilai-Nilai Piil Pesenggiri dalam Budaya Masyarakat Lampung” dalam Jurnal Filsafat UGM, Vol. 28, No. 1 (2018). Format: Digital (Portal Jurnal Nasional Terindeks Sinta).
3. Naskah Kuno: Tambo Paksi Pak Sekala Brak (Transkripsi dan terjemahan yang disimpan oleh Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak). Format: Fisik (Arsip Kerajaan) dan Digital (dokumentasi foto oleh Lembaga Adat).
4. Buku: Senjata Tradisional Nusantara oleh Albert G. Van Zonneveld (Penerbit: Koninklijk Instituut voor de Tropen, 2002). Format: Fisik.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

MUTIARA PAGI : Tirai Panggung Kehidupan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id – Natar – Sepanjang apapun sandiwara dimainkan, pada akhirnya tirai akan tertutup. Lampu panggung meredup, musik berhenti berbisik, dan langkah para aktor meninggalkan jejak yang tak lagi bisa diulang.

Penonton pun tahu, setiap tokoh punya akhirnya, setiap peran punya takdirnya.

Begitulah hidup ini. Kita semua adalah pemain dalam lakon yang tidak pernah kita pilih panggungnya, namun kita diberi kesempatan menuliskan naskahnya lewat sikap dan perbuatan. Ada yang memilih peran sebagai penebar kebaikan, ada pula yang tergelincir dalam peran yang mencederai dirinya sendiri.

Waktu berjalan, bab demi bab ditutup. Dan pada akhirnya, dunia hanyalah kursi penonton yang menilai, sementara kebenaranlah yang akan membuka hakikat peran kita masing-masing. Tepuk tangan bisa meriah, sorakan bisa menggema, tapi semua itu hanya sementara. Yang abadi adalah catatan amal yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasan kalian.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Maka bijaklah dalam bersikap. Jangan biarkan lakon hidup berakhir dengan penyesalan.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas adalah yang menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)

Jadikan ia kisah yang meninggalkan cahaya, meski tirai sudah tertutup. Sebab hidup bukan sekadar sandiwara, melainkan perjalanan menuju rumah keabadian. (72).
WaAllahu A’lam

_____
? H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Coffee Time Forum CSR Natar dan Pemerintah Kecamatan Natar: Sinergi Pelaku Usaha dan Pemerintah

Natar, 26 September 2025 – Forum CSR Natar bersama Pemerintah Kecamatan Natar menggelar acara Coffee Time di Hotel Bandara Syariah, Jumat (26/9). Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah pejabat, tokoh forum CSR, dan pelaku usaha yang ada di wilayah Kecamatan Natar.

Hadir dalam kesempatan tersebut Camat Natar Eko Irawan, S.STP., MM beserta Sekretaris Kecamatan Sucipto, S.KM., M.Kes, Ketua Forum CSR Lampung Dr. Saptarini, SH., MH, Ketua Forum CSR Kabupaten Lampung Selatan Akbar Bintang P,S.IP didampingi Sekretaris Sunano, SE., MM, Ketua Forum CSR Natar Andri Restuni, SH bersama jajaran pengurus dan anggota, serta pejabat dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Lampung Selatan Suryono, SE., MM.

Acara dibuka dengan sambutan dari Kabid Penempatan dan Perluasan Tenaga Kerja, Disnakertrans Lampung Selatan, Suryono, SE., MM. Ia mengajak para pelaku usaha di Natar untuk berpartisipasi dalam Job Fair yang akan digelar di Kalianda pada Oktober 2025 mendatang.

Selanjutnya, Ketua Forum CSR Natar Andri Restuni, SH menyampaikan paparan mengenai program CSR yang telah dilaksanakan, antara lain mendukung penyelenggaraan Natar Fair 2023, kegiatan sosial di bidang kesehatan, serta program bedah rumah bagi masyarakat yang membutuhkan.

Dalam sambutannya, Camat Natar Eko Irawan,S.STP.,MM menyampaikan apresiasi atas partisipasi pelaku usaha dalam kegiatan ini. Ia menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan pengusaha untuk bersama-sama membangun Kecamatan Natar melalui program CSR.

Pesan senada juga disampaikan oleh Ketua Forum CSR Lampung Selatan Akbar Bintang P,S.IP yang menuturkan bahwa Bupati Lampung Selatan menaruh harapan besar kepada para pengusaha, khususnya di wilayah Natar, agar turut berperan aktif membantu pembangunan daerah lewat CSR masing-masing perusahaan.

Sementara itu, Ketua Forum CSR Lampung Dr. Saptarini, SH., MH menekankan bahwa CSR sejatinya bukan hanya untuk kepentingan pemerintah, tetapi untuk keberlangsungan usaha itu sendiri. “Kalau kita tidak menjaga lingkungan dan alam, maka dunia usaha pun tidak akan mampu berjalan dengan baik,” tegasnya.

Acara Coffee Time ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta yang hadir. Melalui kegiatan ini, diharapkan akan terjalin kerja sama yang lebih solid antara pelaku usaha dan pemerintah dalam mendukung pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Natar.

Bupati Egi Ancam Pelaku Pungli di Dunia Pendidikan, Akan Copot Kepala Sekolah Jika Terbukti

nataragung.id – Kalianda – Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menegaskan sikap tanpa kompromi terhadap praktik pungutan liar (pungli) di lingkungan pendidikan. Ia menekankan, tidak akan memberi ampun bagi siapa pun yang terbukti melakukan pungli, terutama jika merugikan masyarakat.

Pesan itu disampaikan saat Rapat Koordinasi dan Silaturahmi dengan Kepala Satuan Pendidikan Jenjang Sekolah Dasar (SD) se-Kabupaten Lampung Selatan di Aula Krakatau, Kantor Bupati Lampung Selatan, Jumat (26/9/2025).

“Saya larang keras adanya pungli, saya tidak izinkan. Nggak ada ampun. Apalagi ngambilnya dari masyarakat. Kalau ketahuan, saya akan berhentikan kepala sekolah dengan tidak terhormat,” tegas Bupati Egi.

Kegiatan tersebut dihadiri para camat, koordinator pengawas, kepala bidang, serta ratusan kepala sekolah dasar. Secara keseluruhan, terdapat 506 kepala sekolah yang tergabung, meliputi 469 SD negeri dan 37 SD swasta, yang dibagi dalam dua sesi.

Bupati Egi menekankan, pendidikan di Lampung Selatan hanya bisa maju jika dikelola secara bersih dan profesional. Menurutnya, pendidikan yang bebas pungli akan memberi ruang lebih luas bagi siswa, guru, dan orang tua untuk berfokus pada peningkatan mutu belajar.

“Saya ingin pendidikan di Lampung Selatan maju, unggul, dan berdaya saing. Itu hanya bisa terwujud kalau kita bekerja jujur, tanpa pungli, dan mengutamakan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Dalam arahannya, Egi meminta para kepala sekolah menerjemahkan visi dan misi daerah dalam proses pembelajaran. Menurutnya, sekolah tidak hanya mencetak lulusan dengan intelektual tinggi, tetapi juga harus membekali siswa dengan kecerdasan emosional (EQ) dan spiritual (SQ).

Bupati Egi juga memaparkan data pendidikan Lampung Selatan, di mana 34 persen penduduk hanya berpendidikan SD, 25 persen SMP, dan 21 persen SMA. Kondisi ini dinilai belum sejalan dengan kebutuhan dunia kerja yang menuntut minimal lulusan SMA.

Ketimpangan tersebut, kata Egi, menjadi salah satu faktor penyumbang pengangguran yang perlu ditangani serius.

Untuk itu, ia meminta kepala sekolah segera menentukan skala prioritas program dengan metode diagram Eisenhower (do, decide, delegate, delete). Hasil perencanaan tersebut harus dilaporkan ke Dinas Pendidikan sebagai dasar penyusunan program tahun depan.

Selain itu, penyusunan program akan diintegrasikan dengan aspirasi dari masyarakat di tingkat kecamatan melalui camat, agar lebih tepat sasaran. “Program yang disusun harus impactful dan sustainable,” tegasnya.

Rakor ini menitikberatkan pada dua hal utama, yakni penguatan mutu pendidikan yang selaras dengan nilai moral dan budaya, serta pemberantasan praktik pungli. Bupati mengakhiri arahannya dengan pesan agar seluruh elemen pendidikan bekerja sama membangun Lampung Selatan yang maju dan berdaya saing. (mara)

Wagub Jihan Nurlela Kukuhkan Tim Literasi Provinsi Lampung 2025-2030, Tekankan Literasi sebagai Perisai Hadapi Tantangan Zaman

nataragung.id, Bandar Lampung —- Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, secara resmi mengukuhkan dan melantik Tim Literasi Provinsi Lampung periode 2025-2030, di Balai Keratun Lt. III, Jumat (26/9/25).

Tim yang diketuai oleh Bunda Literasi Provinsi Lampung Purnama Wulan Sari Mirza ini dilantik berdasarkan Surat Keputusan Gubernur nomor: G/037/V.18/HK/2025 tentang Pembentukan Tim Literasi Provinsi Lampung

Wagub Jihan Nurlela menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Lampung untuk menjadikan literasi sebagai pondasi utama dalam membentuk sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berdaya saing.

“Bagi saya, literasi adalah kunci untuk membuka masa depan. Tanpa literasi, mustahil anak-anak bangsa kita bisa berdaya saing. Literasi akan mengarsipkan ragam pengetahuan dengan rapi di kepala kita, menjadi perisai dan modal untuk menghadapi segala tantangan di masa depan,” tegas Wagub Jihan.

Wagub Jihan menyatakan bahwa bangsa yang literat adalah bangsa yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan solutif. Namun, di era digital ini, tantangan literasi semakin kompleks. Kemajuan teknologi seperti Kecerdasan Artifisial (AI) dinilai membawa dampak ganda dan perlu menjadi perhatian.

“Teknologi ini berpotensi menurunkan kemampuan membaca mendalam, mematikan semangat menulis, meningkatkan risiko misinformasi, dan menghilangkan kreativitas asli akibat budaya copy-paste,” ujar Wagub mengingatkan.

Merujuk pada data Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) Indonesia tahun 2023 yang berada pada skor 64,48 (kategori ‘sedang’), Wagub Jihan mengajak semua pihak untuk tidak berpuas diri. Ia menaruh harapan besar kepada Tim Literasi Provinsi, Bunda Literasi Provinsi, dan Bunda Literasi Kabupaten/Kota untuk menghidupkan inovasi program yang dapat menstimulasi minat baca generasi muda.

“Buku, majalah, dan media cetak adalah sumber informasi utama di masa lalu. Hari ini, di tengah kemudahan gawai, kita harus tetap mampu menjadikan buku dan sumber informasi yang terverifikasi sebagai rujukan utama,” pesannya.

Wagub mengakui Provinsi Lampung masih menghadapi tantangan serius, dengan angka buta aksara sebesar 2,64% yang berarti belum mencapai nol persen. Di sisi lain, Lampung memiliki peluang besar dengan lebih dari 64% penduduknya berada pada usia produktif menurut data BPS Tahun 2024.

“Ini adalah privilege sekaligus tantangan. Kita harus menstimulasi semangat mencari informasi di kalangan usia produktif ini,” ajaknya.

Untuk mendukung hal tersebut, Wagub mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi profesi, organisasi kewanitaan, media, dan swasta, untuk bersinergi memperbanyak koleksi buku di perpustakaan daerah.

“Koleksi buku kita masih belum memenuhi standar. Saya mohon dukungan dan kerja sama semua pihak untuk membantu perpustakaan di Lampung menambah koleksinya,” imbau Jihan Nurlela yang juga menyoroti pentingnya literasi digital sebagai fokus utama.

Wagub selanjutnya menekankan pentingnya gerakan nyata yang mengakar di semua lini masyarakat dan menjadikan literasi sebagai gerakan bersama, mulai dari rumah, sekolah, kampus, hingga ruang publik. Dengan dilantiknya Tim Literasi Provinsi Lampung, diharapkan terwujud SDM Lampung yang berkualitas dan berdaya saing, dibekali dengan literasi yang baik untuk menjawab tantangan zaman.

“Pemerintah Provinsi Lampung akan selalu mendukung melalui program-program yang sejalan dengan visi ‘Bersama Lampung Maju Menuju Indonesia Emas 2045’,” pungkasnya.

Editor  : Muhammad Arya