Ketua DPRD Lampung Selatan Hadiri Kajian Akbar Akhir Tahun PRM Kalisari Natar

nataragung.id, Natar — Suasana Masjid Abdullah Husein, Dusun Banjar Sari I, Kelurahan Kalisari, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, tampak berbeda dari biasanya, Ahad (21/12/2025). Sejak pagi, ratusan jamaah telah memadati masjid untuk mengikuti Kajian Akbar Akhir Tahun Majelis TaklimMu PRM Kalisari, sebuah momentum refleksi spiritual menjelang pergantian tahun.

Kegiatan ini semakin istimewa dengan kehadiran Ketua DPRD Lampung Selatan, Erma Yusneli, SE., MM. Kehadiran pimpinan legislatif daerah tersebut menjadi bentuk nyata dukungan terhadap gerakan dakwah dan penguatan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.

Dalam sambutannya, Erma Yusneli menekankan pentingnya majelis ilmu sebagai ruang muhasabah, penguatan iman, dan perekat ukhuwah. Ia mengajak seluruh jamaah menjadikan akhir tahun sebagai waktu untuk menata ulang niat, memperbaiki diri, serta meneguhkan komitmen dalam membangun masyarakat yang religius, harmonis, dan berakhlak.

Sementara itu, Ketua PRM Kalisari, Arif Ashifudin, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas kehadiran serta dukungan Ketua DPRD Lampung Selatan. Menurutnya, Erma Yusneli tidak hanya hadir secara langsung, tetapi juga memberikan dukungan nyata dengan mensupport konsumsi berupa nasi kotak bagi jamaah.

“Di luar dugaan, jumlah jamaah yang hadir jauh lebih banyak dari biasanya. Ini menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap kajian dan semangat untuk menutup tahun dengan ilmu dan muhasabah,” ujar Arif Ashifudin.

Arif Ashifudin menambahkan, Kajian Akbar Akhir Tahun ini merupakan kolaborasi antara Kajian Jamaah Majelis TaklimMu PRM Kalisari dengan kajian rutin dua bulan sekali yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Tangkit Batu. Kolaborasi ini menghadirkan jamaah yang lebih luas, termasuk jamaah Majelis TaklimMu serta Ibu-ibu ‘Aisyiyah dari enam Pimpinan Ranting yang ada di Kecamatan Natar.

Kajian tersebut menghadirkan Ustadz Hendra Matdravi, S.HI., M.A. sebagai pemateri dengan mengangkat tema “Muhasabah Akhir Tahun.” Dengan gaya penyampaian yang lugas, mendalam, dan menyentuh hati, Ustadz Hendra mengajak jamaah untuk menelusuri kembali perjalanan amal selama setahun terakhir, menyadari kekhilafan, serta memperkuat tekad untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa di tahun mendatang.

Materi yang disampaikan mampu menggugah kesadaran jamaah. Suasana kajian berlangsung khidmat, penuh perenungan, dan sarat makna, hingga jamaah merasakan sentuhan spiritual yang menenangkan dan membangkitkan semangat hijrah ke arah yang lebih baik.

Acara semakin hidup dengan sesi tanya jawab interaktif. Tiga jamaah yang mengajukan pertanyaan serta tujuh jamaah yang berhasil menjawab pertanyaan dari pemateri mendapatkan doorprize, menambah kehangatan dan antusiasme peserta kajian.

Sebagai penutup, seluruh jamaah mengikuti makan siang bersama, menjadi simbol kebersamaan, kekeluargaan, dan ukhuwah Islamiyah yang kuat di antara seluruh elemen jamaah.

Kajian Akbar Akhir Tahun ini menjadi penanda bahwa dakwah dan majelis ilmu terus hidup di tengah masyarakat Kalisari, sekaligus menjadi bekal spiritual untuk menyongsong tahun baru dengan iman, ilmu, dan harapan yang lebih baik.

Editor  : Muhammad Arya

Bupati Lampung Selatan Raih Anugerah Daerah Harmonis dan Berkelanjutan dari JMSI Lampung

nataragung.id – Bandar Lampung – Komitmen Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, dalam membangun daerah yang harmonis dan berkelanjutan kembali mendapat pengakuan.

Pada Musyawarah Daerah (Musda) II Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Lampung, ia dianugerahi Anugerah Daerah Harmonis dan Keberlanjutan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam pembangunan dan sinergi lintas pemangku kepentingan.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangkaian Musda II JMSI Lampung yang digelar di Hotel Azana, Bandar Lampung, Minggu (21/12/2025).

Penghargaan diterima oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Lampung Selatan, Anasrullah, mewakili Bupati Radityo Egi Pratama.

Anugerah tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Umum JMSI Pusat, Teguh Santosa, pada forum Musda yang mengusung tema “Pers Sehat, Profesional Menuju Indonesia Emas.”

Tema ini menegaskan peran strategis pers dalam mendukung pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi JMSI atas kontribusi signifikan Bupati Lampung Selatan dalam mendorong pembangunan daerah, menjaga stabilitas sosial, serta keberhasilannya membangun hubungan yang harmonis antara pemerintah daerah, stakeholder, dan masyarakat.

Ketua JMSI Lampung Selatan, Gandi Yusnadi, menyampaikan bahwa penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan untuk terus meningkatkan kinerja dan pelayanan publik.

“Kami menyampaikan apresiasi atas penghargaan bergengsi ini. Anugerah JMSI merupakan sebuah kehormatan bagi Pemkab Lampung Selatan dan juga JMSI. Ini menunjukkan sinergi yang baik antara pemerintah daerah, stakeholder, dan masyarakat,” ujar Gandi.

Ia berharap, ke depan Pemkab Lampung Selatan dapat terus memberikan kontribusi positif dan berkelanjutan bagi pembangunan daerah serta kesejahteraan masyarakat.

Musda II JMSI Provinsi Lampung tahun 2025 ini turut dihadiri Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Dajusal, Ketua Umum JMSI Pusat Teguh Santosa, Ketua JMSI Lampung Ahmad Novriwan, serta pengurus JMSI dari berbagai kabupaten dan kota se-Provinsi Lampung.

Selain Bupati Lampung Selatan, sejumlah tokoh dan kepala daerah lainnya juga menerima penghargaan JMSI atas dedikasi mereka dalam memajukan daerah serta membangun komunikasi yang konstruktif dengan media. (mara)

Sentuhan Kasih Sri Sultan : Membuka Gerbang Harapan Bagi Mahasiswa Terdampak Bencana. Oleh : Gunawan Handoko *)

nataragung.id – Bandar Lampung – JUMAT KLIWON, 19 Desember 2025, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X menghubungi pimpinan kampus perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta melalui komunikasi langsung, dan meminta bantuan pendataan mahasiswa yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Data tersebut diperlukan Pemda DIY untuk memberikan bantuan bebas biaya kuliah kepada mahasiswa yang terdampak bencana, untuk memastikan bahwa para mahasiswa dari keluarga terdampak bencana tetap dapat melanjutkan pendidikan mereka hingga selesai. Mereka memiliki kesempatan yang sama dengan mahasiswa yang lain dalam menggapai cita-citanya.

Bagi masyarakat Yogyakarta, apa yang dilakukan Sri Sultan dengan melakukan komunikasi langsung tanpa perantara merupakan titah seorang raja atau “Sabdo Pandito Ratu”. Bisa pula dimaknai bahwa kondisi yang dihadapi sangat penting dan genting, sehingga memerlukan penanganan yang cepat dan tepat.
Dalam konteks ini, Sri Sultan ingin memastikan bahwa informasi yang disampaikan diterima dengan jelas dan segera ditindaklanjuti.

Dalam kesehariannya, Sri Sultan jarang sekali mengeluarkan pernyataan atau komentar, namun ketika berbicara, kata-katanya penuh makna dan memiliki bobot yang kuat. Setiap ucapan Sri Sultan merupakan Sabdo Pandito Ratu, sebagai “sabda” yang memiliki makna sangat kuat, dan merupakan filosofi yang menggambarkan kebijaksanaan dan kepemimpinan yang bijak, dimana setiap ucapan dan keputusan yang diambil dianggap sangat berharga dan bersifat final, tidak bisa diubah. Maka beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Islam Indonesia (UII) dan Perguruan Tinggi lainnya langsung merespons dan menyiapkan data mahasiswa yang terdampak. Jumlahnya mencapai lebih dari 1.700 mahasiswa yang berasal dari provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Respon cepat juga dilakukan PTN dan PTS di Yogyakarta dengan menyiapkan berbagai bantuan sendiri, seperti keringanan biaya kuliah, biaya hidup, kupon makan dan layanan konseling.

Sebelumnya, Pemda DIY telah menyalurkan bantuan berupa uang tunai masing-masing Rp.1 miliar kepada Pemprov Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Selain itu, Pemda DIY juga telah mengirimkan bantuan obat-obatan dan perbekalan kesehatan untuk 3 provinsi terdampak bencana. Pengiriman bantuan dilakukan dalam senyap, tanpa banyak publisitas dan tidak ada upacara seremonial yang digelar, apalagi disertai spanduk atau gambar Gubernur DIY. Yang nampak justru kendaraan truk milik PT. Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) yang memberikan program pengiriman gratis untuk membantu penyaluran bantuan kepada korban bencana. Hal ini menunjukkan bahwa Pemda DIY lebih fokus pada pemberian bantuan yang efektif dan efisien kepada masyarakat yang membutuhkan, daripada mencari perhatian publik. Juga untuk menunjukkan empati dan kepedulian yang tulus terhadap korban bencana. Pemda DIY memiliki tradisi membantu masyarakat yang terdampak bencana, tidak hanya di Yogyakarta tetapi juga di daerah lain di Indonesia. Ketika terjadi musibah bencana, Pemda DIY selalu sigap memberikan bantuan dan dukungan kepada mahasiswa yang terdampak korban. Tradisi ini sejalan dengan semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang kuat di Yogyakarta.

Yogyakarta tidak ingin hanya dikenal sebagai kota pelajar, tetapi juga kota yang memberikan jaminan atas kelangsungan pendidikan bagi siapa saja untuk mengakses pendidikan, termasuk mereka yang mengalami hambatan atau kesulitan. Dalam kondisi seperti sekarang ini, kebijakan Gubernur DIY yang memberikan bebas biaya kuliah kepada mahasiswa yang terdampak bencana benar-benar menyentuh hati banyak orang. Air mata kegembiraan dan rasa syukur dari mereka yang terdampak bencana adalah bukti bahwa kebijakan ini sangat berarti dan membawa harapan baru.

Dengan kebijakan ini, mahasiswa yang terdampak bencana dapat melanjutkan pendidikan mereka tanpa harus khawatir tentang biaya kuliah maupun biaya hidup. Ini tentu saja dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan yang mereka alami, sehingga mereka dapat fokus pada pendidikan dan masa depan mereka. Apa yang dilakukan Sri Sultan dinilai sebagai tindakan yang mulia dan penuh rasa kasih sayang. Bukan hanya membantu meringankan beban ekonomi mereka, tetapi juga memberikan harapan dan kesempatan bagi mereka untuk terus mengejar pendidikan dan masa depan yang lebih baik. Langkah ini patut diapresiasi dan dapat dicontoh bagi daerah lain dalam meringankan masalah serupa. Ketika orang tua terdampak bencana, mereka mungkin mengalami kesulitan untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka, terutama yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Para orang tua menyadari bahwa pendidikan tinggi merupakan investasi penting untuk masa depan anak-anak, namun biaya yang dibutuhkan seringkali cukup besar. Maka prioritas utama mereka adalah memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal dan kesehatan, sehingga biaya pendidikan menjadi beban tambahan yang sangat berat. Semoga bantuan ini dapat menjadi sumber motivasi dan harapan baru bagi para mahasiswa dan keluarga yang terdampak bencana.
Mari kita hadapi tantangan ini bersama-sama dengan semangat dan optimisme, dan teruslah mengejar cita-cita dengan tekad yang kuat. Dibalik bencana harus tetap ada asa. **

*) Penulis Adalah : Pemerhati masalah sosial, tinggal di Bandar Lampung.

Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 3: Kukuk Bejuluk, Etika Makan dan Tatanan Sosial dalam Saibatin. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Pada zaman Kerajaan Sekala Brak masih berjaya, hiduplah empat bersaudara keturunan Umpu Bejalan Diway: Umpu Pernong, Umpu Nyerupa, Umpu Belunguh, dan Umpu Belunguh yang lain. Mereka dikenal sebagai pemberani dan bijaksana.

Namun suatu ketika, perdebatan sengit muncul di antara mereka tentang siapa yang paling berhak memimpin perburuan besar menyambut musim panen. Masing-masing merasa memiliki kelebihan dan mengklaim hak sebagai pemimpin.
Sang ayah, Umpu Bejalan Diway, tidak serta merta memutuskan. Beliau memerintahkan keempat putranya untuk berpuasa dan bermeditasi di empat penjuru bukit selama tujuh malam. Pada malam ketujuh, masing-masing mendapatkan mimpi yang berbeda tentang cara mendapatkan air di padang gersang. Ketika berkumpul kembali, sang ayah menyajikan hidangan istimewa dalam satu wadah besar: nasi kuning dengan jantung pisang, daging rusa buruan termuda, ikan gabus dari sungai tersuci, dan sayur paku paling muda.
“Siapa yang harus makan pertama?” tanya sang ayah. Keempatnya terdiam. Kemudian Umpu Bejalan Diway berkata: “Mimpi kalian adalah petunjuk. Umpu Pernong bermimpi menemukan mata air dengan menaiki pohon tertinggi, karena itu kau akan memimpin dari ketinggian kebijaksanaan dan makan paling awal. Umpu Nyerupa bermimpi menggali sumur yang dalam, kau akan mengurusi tanah dan air kehidupan, makan setelah kakakmu. Umpu Belunguh bermimpi menemukan embun di daun talas, kau akan menjaga tunas-tunas muda, makan ketiga. Dan yang termuda bermimpi menghimpun tetesan hujan, kau akan mengumpulkan apa yang tersisa untuk disempurnakan.”
Sejak itulah lahir sistem Bejuluk (gelar adat) dan Kukuk (aturan/tata cara) dalam tatanan masyarakat Saibatin.
Aturan makan yang tertib dan terhormat menjadi cerminan dari tatanan kosmis yang menjaga harmoni antara manusia, alam, dan leluhur.

LAMBAN SEBAGAI PETA KOSMOLOGI

Dalam masyarakat Saibatin (adat Lampung Peminggir), lamban (rumah adat) bukan sekadar tempat tinggal, melainkan miniatur alam semesta yang terstruktur. Setiap bagian rumah memiliki makna filosofis mendalam yang tercermin dalam tata cara makan.
Bagian haluan (depan rumah) merupakan area paling terhormat, ditempati oleh para penyimbang (pemangku adat) dengan gelar tertinggi. Bagian tengah untuk keluarga inti dan tamu terhormat, sementara buntut (belakang) untuk generasi muda. Konsep ini dikenal sebagai Tiyuh Tigo Tungku, tiga tungku kehidupan yang saling mendukung.
Ketika hidangan disajikan, arah dan urutannya mengikuti peta kosmologi ini. Sebagaimana tercatat dalam naskah kuno Piil Pesenggiri: “Haluan nengah buntut, sai sai bejuluk beadek, sai sai bepanggik bepengahuan” (Haluan tengah buntut, masing-masing memiliki gelar dan adat, masing-masing memiliki panggilan dan pengetahuan).

Analisis: Kutipan ini menunjukkan bahwa hierarki dalam masyarakat Saibatin bukan untuk merendahkan, melainkan untuk menegaskan tanggung jawab dan peran masing-masing individu dalam menjaga keseimbangan sosial. Setiap posisi dalam lamban memiliki martabat dan kewajibannya sendiri, yang dihormati melalui tata cara makan.

TIGA TINGKATAN JULUK DALAM TATA MAKAN.

Sistem gelar dalam Saibatin memiliki tiga tingkatan utama yang mempengaruhi tata cara makan:
1. Penyimbang/Princeps: Gelar tertinggi seperti Pangeran, Batin, dan Dalom. Dalam penyajian makanan, mereka mendapatkan bagian pertama dari setiap jenis hidangan. Sebelum mereka menyentuh makanan, tidak seorang pun boleh mulai makan. Ini bukan keistimewaan, melainkan tanggung jawab, sebagai penguji kualitas makanan dan penerima resiko pertama jika ada masalah.
2. Bumi Jurai/Tokoh Adat: Gelar menengah seperti Khaja, Khadin, Minak. Mereka menerima hidangan setelah penyimbang, dan biasanya mendapatkan bagian yang lebih spesifik seperti daging bagian paha atau dada yang dianggap paling baik.
3. Anak Jurai/Anak Buah: Golongan muda atau yang belum bergelar. Mereka makan terakhir, seringkali dari bagian yang tersisa. Prosesi ini mengajarkan kesabaran, penghormatan, dan siklus kehidupan, bahwa yang muda harus menghormati yang tua, dan kelak akan menjadi tua yang dihormati.

Dalam naskah Kuntara Raja Niti dijelaskan: “Makan bukan sekedar kenyang, tapi pangkat pengajaran. Yang tua dapat duluan, bukan karena lapar lebih dahulu, tapi karena tanggung lebih berat. Yang muda dapat belakangan, bukan karena kurang kasih, tapi karena belajar sabar dan hormat.”
Analisis: Filsafat ini menunjukkan bahwa setiap prosesi makan adalah pelajaran hidup. Sistem hierarki dalam makan mencerminkan sistem tanggung jawab sosial di mana hak istimewa selalu sebanding dengan beban tanggung jawab yang dipikul.

SIMBOLISME MAKANAN DALAM STRATIFIKASI SOSIAL.

Jenis makanan yang disajikan juga mencerminkan stratifikasi sosial yang penuh makna:
• Nasi Putih: Disajikan pertama untuk semua kalangan, melambangkan kehidupan dasar yang setara. Semua manusia sama-sama membutuhkan nasi sebagai penyambung nyawa.
* Daging Bagian Tertentu: Daging paha depan untuk penyimbang (simbol kekuatan memimpin), dada untuk bumi jurai (simbol keberanian dan pengayoman), sayap dan kaki untuk anak jurai (simbol kesigapan dan dasar berpijak).
* Ikan Utuh: Kepala ikan selalu menghadap ke penyimbang tertinggi, melambangkan kebijaksanaan dan arah kepemimpinan. Badan ikan dibagikan menurut urutan gelar.
* Air Minum: Disajikan dalam cangkir khusus untuk penyimbang, cawan untuk bumi jurai, dan gelas biasa untuk anak jurai. Perbedaan wadah melambangkan perbedaan tanggung jawab, bukan perbedaan nilai manusia.

Dalam tradisi lisan diwariskan petuah: “Satu ladang padi, satu kolam ikan, tapi bukan sama bagian. Bukan tidak adil, tapi mengingatkan: yang dapat bagian terbaik harus ingat yang menanam, yang dapat bagian sedang harus ingat mengolah, yang dapat bagian akhir harus ingat bersyukur.”

RITUAL SEBELUM, SELAMA, DAN SESUDAH MAKAN.

Prosesi makan dalam acara adat Saibatin adalah ritual lengkap:
1. Sebelum Makan: Doa dipimpin oleh penyimbang tertua dengan menyebut nama leluhur. Air pembasuh tangan disajikan mulai dari yang tertinggi gelarnya. Hal ini melambangkan penyucian niat dan penghormatan pada leluhur yang telah membuka jalan.
2. Selama Makan: Tidak berbicara dengan mulut penuh, tidak mengambil bagian orang lain, tidak berdiri sebelum yang lebih tinggi selesai. Aturan ini melatih pengendalian diri dan kesadaran sosial. Jika harus berbicara, tangan kanan diletakkan di atas paha sebagai tanda sopan santun.
3. Sesudah Makan: Tangan dibasuh kembali mulai dari yang tertua. Sisa makanan tidak dibuang sembarangan, melainkan dikumpulkan untuk binatang atau dikubur. Ini mengajarkan penghargaan pada sumber daya dan menghindari kesombongan.

Kitab Adat Saibatin mencatat: “Makan selesai, mulut bersih, tangan bersih, tapi hati harus paling bersih. Kenyang dari rezeki sama, tapi ingat yang belum dapat, ingat yang menanam, ingat yang memasak, ingat yang melayani.”

KUKUK BEJULUK DI ZAMAN MODERN.

Dalam masyarakat kontemporer, nilai-nilai Kukuk Bejuluk tetap relevan sebagai penjaga harmoni sosial. Meski praktik formal mungkin telah disederhanakan, filosofinya hidup dalam bentuk menghormati orang tua, memahami tanggung jawab sesuai posisi, dan menjaga tata krama dalam kebersamaan.
Etika makan Saibatin mengajarkan bahwa makanan bukan sekadar pengisi perut, melainkan media pendidikan karakter, peneguhan identitas, dan pemeliharaan tatanan sosial yang beradab. Setiap suapan mengandung sejarah, setiap sajian membawa filosofi, setiap posisi mengajarkan tanggung jawab.

Di tengah gaya hidup individualistik modern, tradisi Kukuk Bejuluk mengingatkan kita bahwa makan bersama adalah ibadah sosial, ritual yang mengikat manusia dalam jaring-jaring penghormatan, tanggung jawab, dan kasih sayang yang terstruktur namun penuh kehangatan.

SUMBER REFERENSI:
1. Raja Niti: Naskah Adat Lampung (alih aksara dan terjemahan). Pusat Dokumentasi Kebudayaan Lampung, 2015. [Format Fisik]
2. Piil Pesenggiri: Identitas dan Jati Diri Orang Lampung karya Prof. Dr. Hilman Hadikusuma. Penerbit Mandar Maju, 1998. [Format Fisik]
3. Sistem Kekerabatan dan Pewarisan Gelar Adat Lampung Saibatin (Disertasi) oleh Dr. Rika Anggraini, Universitas Indonesia, 2012. [Format Digital]
4. Katalog Naskah Kuno Lampung Museum Negeri Provinsi Lampung, edisi revisi 2019. [Format Fisik/Digital]
5. Adat Istiadat Lampung: Upacara-Upacara Lingkaran Hidup oleh Tim Penyusun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung, 2003. [Format Fisik]

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

MUTIARA PAGI : Hidup dalam Kelelahan yang Bermakna. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id – Natar – Allah SWT berfirman QS Al-Balad : 4, yang berbunyi :

﴿لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنسَانَ فِي كَبَدٍ﴾

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam keadaan penuh susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)

Ayat ini mengajarkan sebuah kebenaran besar tentang kehidupan: bahwa kelelahan bukanlah tanda kegagalan, dan kesusahan bukanlah bukti ketertinggalan.

Allah sejak awal telah menetapkan bahwa hidup manusia adalah perjalanan perjuangan. Tidak ada satu pun insan yang benar-benar terbebas dari beban, hanya saja bentuknya berbeda-beda.

Sebagian orang diuji dengan kekurangan, sebagian lain diuji dengan kelimpahan.

Ada yang lelah mencari rezeki, ada pula yang lelah menjaga amanah rezeki itu sendiri. Firman Allah:

﴿وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً﴾

“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS. Al-Anbiyā’: 35)

Allah tidak mengabarkan tentang beratnya hidup untuk membuat hamba-Nya berputus asa,
tetapi agar manusia memahami bahwa apa yang ia rasakan bukanlah sesuatu yang ganjil.

Bahwa lelah adalah bagian dari sunatullah, dan setiap jiwa sedang berjalan di jalur ujiannya masing-masing.

Karena itu, ketika kita menyadari bahwa semua manusia pasti lelah, maka pertanyaan terpenting bukan lagi “mengapa aku lelah?” melainkan “untuk apa aku lelah?”

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

«لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ»

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat
hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini mengingatkan bahwa kelelahan hidup akan dipertanggungjawabkan, apakah ia dihabiskan hanya untuk dunia yang fana, atau juga untuk akhirat yang kekal.

Islam tidak melarang kita bersungguh-sungguh dalam urusan dunia. Bahkan kerja dan usaha yang halal adalah ibadah. Namun Islam mengajarkan keseimbangan.

﴿وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا﴾

“Carilah pada apa yang telah Allah karuniakan kepadamu kebahagiaan negeri akhirat,
dan janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qaṣaṣ: 77)

Orang yang paling beruntung bukanlah mereka yang paling sedikit lelah,
melainkan mereka yang menjadikan lelahnya bernilai ibadah.

Lelah dalam ketaatan, lelah menjaga kejujuran, lelah menahan diri dari maksiat, dan lelah bersabar di jalan yang lurus.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

«أَعْظَمُ الأَجْرِ مَعَ أَعْظَمِ البَلَاءِ»

“Besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian.” (HR. Tirmidzi)

Maka jangan iri kepada mereka yang tampak ringan hidupnya, karena kita tidak tahu ujian apa yang sedang Allah titipkan pada hatinya.

Dan jangan merasa hina dengan kelelahanmu,
sebab bisa jadi itulah jalan Allah untuk meninggikan derajatmu.

Terkadang Allah menunda pemberian-Nya,
bukan karena Ia lupa, melainkan karena Ia Maha Tahu waktu yang paling tepat.

﴿وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا﴾

“Dan ketika dia telah mencapai usia dewasa dan kekuatannya, Kami anugerahkan kepadanya hikmah dan ilmu.” (QS. Al-Qaṣaṣ: 14)

Jika sebagian doa belum terjawab, jika sebagian harapan belum terwujud, yakinlah bahwa Allah sedang mempersiapkanmu, agar saat nikmat itu datang, engkau mampu menjaganya.

Akhirnya, marilah kita memilih untuk lelah dengan cara yang benar.

Karena lelah di dunia akan berakhir, namun lelah di jalan Allah akan berbuah istirahat yang abadi.
(KIS/133).
WaAllahu A’lam

_____
? H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Tsunami Selat Sunda, Antara Duka dan Pembelajaran (Mengenang 7 Tahun Tsunami Selat Sunda). Oleh : Gunawan Handoko *)

nataragung.id – Bandar Lampung – BENCANA TSUNAMI Selat Sunda yang terjadi pada 22 Desember 2018 lalu telah memporakporandakan kawasan pesisir Kalianda Lampung dan beberapa wilayah di provinsi Banten.

Akibat erupsi Gunung Anak Krakatau itu telah memicu longsor bawah laut dan menimbulkan bencana tsunami. Meski tidak sedahsyat bencana tsunami yang terjadi di Aceh pada Desember 2004, namun telah berakibat ribuan bangunan rumah hancur, infrastuktur dan properti rusak, ratusan kapal hancur dan hilang, serta jumlah korban jiwa yang signifikan. Jika ada yang bertanya, seberapa penting kita mengingat dan mengenang setiap peristiwa bencana yang pernah terjadi? Jawabnya sangat penting, sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat serta pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Karena kesiapsiagaan dan mitigasi bencana memerlukan kerjasama dan partisipasi aktif dari semua pihak, antara pemerintah, masyarakat dan lembaga terkait. Dengan demikian kita dapat mengurangi resiko dan meningkatkan keselamatan masyarakat. Dengan mengenang kembali peristiwa bencana, berarti kita menghormati dan mengenang para korban bencana, baik yang kini masih hidup maupun meninggal dunia. Terlebih Gunung Anak Krakatau masih terus bergeliat sehingga perlu terus diwaspadai, karena potensi erupsi dan ancamannya sewaktu-waktu dapat terjadi. Selama ini pengawasan dan pemantauan terus dilakukan oleh PVMBG untuk memberikan informasi yang akurat dan tepat kepada masyarakat.

Selat Sunda yang merupakan jalur pelayaran penting dan sibuk memang memerlukan perhatian khusus dan pengawasan ketat untuk mengantisipasi potensi bencana yang mungkin timbul dari aktivitas Gunung Anak Krakatau. Maka semua pihak terkait perlu terus berkoordinasi dan meningkatkan kewaspadaan untuk memastikan keselamatan masyarakat dan kelancaran jalur transportasi.

Lampung merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang rawan bencana, seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor dan erupsi Gunung Anak Krakatau. Kondisi geografis dan geologis Lampung yang berbatasan dengan Samudera Hindia dan memiliki gunung berapi aktif menjadi faktor utama kerawanan bencana.

Bagi kita yang hidup di daerah rawan bencana, sudah seharusnya memiliki kebijakan, strategi, perencanaan atau program-program yang dilakukan sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan menghadapi bencana. Kita telah banyak mendapat pelajaran dari berbagai bencana yang telah menimbulkan kerugian harta benda dan jiwa yang tidak sedikit. Selain disebabkan oleh alam, aktivitas masyarakat juga memiliki andil dalam memicu terjadinya bencana. Maka perlu upaya konkret secara faktual dalam memahami dan mengantisipasi kondisi alam secara teoritis dan logis. Salah satu wujudnya, melalui manajemen penanganan bencana yang terarah dan terpadu. Dengan demikian, korban dapat terselamatkan dan upaya pemulihan pasca bencana dapat dilakukan dengan cepat. Memang, mitigasi bencana bukanlah sebuah strategi akhir, namun sangat diperlukan agar resiko-resiko yang ada dapat diminimalisir. Untuk itu diperlukan berbagai bentuk pendekatan dalam menetapkan strategi mitigasi. Selain mengendalikan penggunaan ruang, juga tentang filosofi normatif yang berbasis pada mitigasi bencana secara nasional, baik kejadian yang terduga maupun tidak. Prinsip mitigasi adalah meminimalisasikan dampak bencana.

Mitigasi bencana mencakup perencanaan dan pelaksanaan tindakan-tindakan untuk mengurangi berbagai resiko dampak dari suatu bencana yang dilakukan sebelum terjadi, termasuk kesiapan dan tindakan-tindakan pengurangan resiko jangka panjang. Upaya mitigasi dapat dilakukan dalam bentuk mitigasi struktur dengan memperkuat bangunan dan infrastruktur yang berpotensi terkena bencana, desain rekayasa, dan konstruksi untuk menahan serta memperkokoh struktur ataupun membangun struktur bangunan penahan longsor, penahan dinding pantai, dan lain-lain. Selain itu upaya mitigasi juga dapat dilakukan dalam bentuk non struktural, seperti menghindari wilayah bencana dengan menjauhkan bangunan dari lokasi bencana, melalui perencanaan tata ruang dan wilayah serta dengan memberdayakan masyarakat dan pemerintah daerah.
Mitigasi bencana yang efektif paling tidak harus memiliki tiga unsur utama, yaitu penilaian bahaya, peringatan dan persiapan. Penilaian bahaya, untuk mengidentifikasi populasi dan aset yang terancam, serta tingkat ancamannya.

Penilaian ini memerlukan pengetahuan tentang karakteristik sumber bencana, probabilitas kejadian bencana, serta data kejadian bencana di masa lalu. Peringatan, agar masyarakat paham tentang bencana yang akan mengancam. Persiapan, kategori ini tergantung kepada unsur mitigasi sebelumnya yang membutuhkan pengetahuan tentang daerah yang kemungkinan terkena bencana dan pengetahuan tentang sistem peringatan untuk mengetahui kapan harus melakukan evakuasi dan kapan saatnya kembali ketika situasi telah aman. Tingkat kepedulian masyarakat maupun pemerintah daerah dan pemahamannya sangat penting pada tahapan ini untuk dapat menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi dampak akibat bencana.

Lampung salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki potensi bencana alam yang signifikan, termasuk tsunami, gempa bumi, dan letusan Gunung Anak Krakatau, selain bencana banjir dan tanah longsor. Maka menjadi penting bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk selalu waspada dan siap siaga dalam menghadapi potensi bencana tersebut. Kita tidak cukup hanya melakukan tanggap darurat setiap kali terjadi bencana, dengan memberi bantuan logistik seperti sembako, air bersih, pelayanan kesehatan, evakuasi korban dan bantuan lainnya, namun perlu ada upaya konkrit untuk pencegahan dan kesiapsiagaan yang berkelanjutan. Masyarakat kita memang dikenal sabar dan penurut, tetapi kesabaran ini tidak boleh membuat pemerintah lengah dalam menangani masalah bencana.

Saatnya kita berbenah dengan memperlakukan alam ini secara arif dan bijak. Perlu ada penataan ruang yang lebih baik dan penegakan hukum yang ketat untuk melindungi Ruang Terbuka Hijau dan kawasan resapan air. Keangkuhan terhadap alam dengan unjuk gelar ilmu dan tehnologi hanya akan membuahkan malapetaka yang pada akhirnya harus dibayar mahal, bahkan sangat mahal. (**).

*) Penulis Adalah Pemerhati Masalah Sosial, tinggal di Bandar Lampung

Smart Farming Berbasis Private 5G Diuji di Trimomukti, Drone Kirim Data Pertanian Secara Real-Time

nataragung.id – Candipuro – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan bersinergi dengan Kementerian Pertanian dan Universitas Bandar Lampung (UBL) menggelar pelatihan pilot drone bagi petani di Desa Trimomukti, Kecamatan Candipuro.

Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (19/12/2025) ini, menjadi bagian dari penerapan teknologi pertanian cerdas (smart farming) berbasis Jaringan Private 5G.

Pelatihan tersebut difasilitasi oleh PT Corbec Communication dengan menghadirkan solusi jaringan Private 5G untuk mendukung pengelolaan pertanian modern yang lebih presisi, efisien, dan terintegrasi secara digital.

Inovasi ini juga sejalan dengan program prioritas Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, yang menitikberatkan pada pengembangan sektor agroduwisata berbasis teknologi dan peningkatan daya saing pertanian daerah.

Chief Technology Officer (CTO) PT Corbec Communication, Hufadil As’ari, menjelaskan bahwa infrastruktur Jaringan Private 5G yang dipasang meliputi tiga unit antena pemancar (gNB) tipe Omni, HPE ANW P5G Core Data dengan kapasitas hingga 600 pelanggan, serta 14 unit Outdoor Customer Premises Equipment (CPE) sebagai perangkat penerima sinyal.

“Teknologi ini memberikan konektivitas penuh bagi seluruh perangkat precision farming. Sensor-sensor di lahan dapat terkoneksi secara online, sehingga petani bisa memantau kondisi lahan bahkan hewan ternak dari rumah, meski berada pada jarak hingga 40 kilometer,” jelas Hufadil usai kegiatan uji coba.

Salah satu keunggulan utama uji coba ini adalah pemanfaatan drone yang dipasangi 5G CPE. Drone tersebut mampu mengirimkan data, seperti tayangan video kamera, secara real-time melalui jaringan 5G ke perangkat seluler petani. Hal ini memungkinkan pemantauan lahan pertanian secara cepat dan akurat tanpa hambatan jaringan.

Selain untuk sektor pertanian, solusi jaringan Private 5G ini juga memiliki latensi ultra-rendah dan kontrol jaringan penuh yang berpotensi dikembangkan untuk Jaringan Private Pemerintah, mendukung layanan e-Government, konektivitas antarinstansi, hingga pengawasan Smart City berbasis CCTV yang lebih stabil.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Lampung Selatan, Mugiyono, yang ikut menyaksikan uji coba terebut berharap penerapan teknologi ini dapat menjadi titik balik kemajuan pertanian di wilayah Candipuro.

“Mudah-mudahan cita-cita kita mewujudkan smart farming di Trimomukti bisa terwujud. Dengan teknologi ini, pengawasan irigasi maupun gangguan di lahan dapat dilakukan secara real-time langsung dari rumah,” ujar Mugiyono.

Melalui penerapan teknologi Smart Farming berbasis Private 5G, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan optimistis mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian sekaligus menjadikan Desa Trimomukti sebagai desa percontohan nasional, bahkan internasional, dalam integrasi teknologi digital di sektor pertanian.

Hadir juga dalam kegiatan tersebut, Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Ir. Hermansyah, dan Kepala Pusat Studi Mekatronik dan Otomasi UBL, Dr. Ir. Riza Muhida, S.T., M.Eng. (mara)

Tips Pengobatan Tradisional Untuk Mengurangi Sakit Gigi

nataragung.id – Natar – Sakit gigi memang sangat tidak nyaman, tapi jangan khawatir, ada beberapa obat tradisional yang bisa membantu mengurangi rasa sakitnya. Berikut beberapa di antaranya:

Salah satu tips untuk mengurangi/mengobati sakit gigi adalah dengan mempergunakan : Bawang Putih

Bawang putih memiliki sifat antibakteri yang dapat membantu mengurangi rasa sakit dan membunuh bakteri penyebab infeksi. Cara penggunaannya:
– Haluskan 1 siung bawang putih dan oleskan ke gigi yang sakit.
– Diamkan selama beberapa menit sebelum membilas mulut dengan air hangat.

– Frekuensi penggunaan: Kamu bisa menggunakan bawang putih 2-3 kali sehari, tergantung pada tingkat keparahan sakit gigi.

– Durasi pengobatan: Kamu bisa melanjutkan pengobatan dengan bawang putih selama 2-3 hari. Jika sakit gigi tidak membaik atau bahkan memburuk, sebaiknya kamu mengunjungi dokter gigi untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat.

– Peringatan: Bawang putih dapat menyebabkan iritasi pada gusi atau mukosa mulut jika digunakan terlalu sering atau terlalu lama. Jika kamu mengalami iritasi, hentikan penggunaan bawang putih dan coba metode lain.

* Namun, perlu diingat bahwa bawang putih bukanlah pengganti perawatan gigi yang profesional. Jika kamu mengalami sakit gigi yang parah atau berlanjut, sebaiknya kamu mengunjungi dokter gigi untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat.

Metode lainnya seperti dibawah ini

1. Minyak Cengkeh
Minyak cengkeh memiliki sifat analgesik dan antiseptik yang dapat membantu mengurangi rasa sakit dan membunuh bakteri penyebab infeksi. Cara penggunaannya:
– Campurkan 3-5 tetes minyak cengkeh dengan 1 sendok teh minyak zaitun.
– Celupkan kapas ke dalam campuran minyak dan oleskan ke gigi yang sakit.
– Diamkan selama beberapa menit sebelum membilas mulut dengan air hangat.

2. Garam
Garam dapat membantu mengurangi peradangan dan membunuh bakteri penyebab sakit gigi. Cara penggunaannya:
– Larutkan 1 sendok teh garam dalam segelas air hangat.
– Berkumurlah dengan larutan garam selama 30 detik sebelum membuangnya

4. Jahe
Jahe memiliki sifat anti-inflamasi yang dapat membantu mengurangi peradangan dan rasa sakit. Cara penggunaannya:
– Haluskan sepotong jahe segar dan oleskan ke gigi yang sakit.
– Diamkan selama beberapa menit sebelum membilas mulut dengan air hangat.

5. Lidah Buaya
Lidah buaya memiliki sifat antibakteri dan anti-inflamasi yang dapat membantu mengurangi rasa sakit dan peradangan. Cara penggunaannya:
– Oleskan gel lidah buaya ke gigi yang sakit.
– Diamkan selama beberapa menit sebelum membilas mulut dengan air hangat.

Itulah beberapa tips tradisional untuk mengurangi rasa sakit gigi. Selamat mencoba, semoga bermanfaat dan sakit giginya bisa sembuh. (SMh)

#Foto hanya pemanis

Pilkada dan APBD dalam Lingkaran Korupsi Kepala Daerah

nataragung.id – Lampung Selatan – Tertangkapnya Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya oleh KPK pada Desember 2025 sebenarnya tidak lagi mengejutkan siapa pun yang mengikuti politik lokal Lampung secara serius. Ini bukan peristiwa tunggal, melainkan bab lanjutan dari pola panjang yang berulang. Dalam kurun kurang dari dua dekade, Lampung Tengah sudah mencatat tiga bupati yang terjerat kasus korupsi. Andy Achmad Sampurnajaya terjerat penyalahgunaan APBD 2008, Mustafa terjerat suap dan pengondisian APBD 2018, dan kini Ardito yang diduga memungut fee proyek 15 hingga 20 persen untuk menutup utang kampanye Pilkada 2024. Kalau ini masih disebut kebetulan, barangkali kita memang sengaja menutup mata.

Data KPK memperkuat kesan itu. Sejak 2004 hingga 2024, lebih dari 200 kepala daerah diproses hukum dalam perkara korupsi. Sekitar 60 persen perkara yang ditangani KPK berasal dari pemerintah daerah. Lampung bukan anomali. Selain Lampung Tengah, publik Lampung masih mengingat Zainudin Hasan di Lampung Selatan yang divonis 12 tahun penjara karena menerima fee proyek dan gratifikasi puluhan miliar rupiah, serta Agung Ilmu Mangkunegara di Lampung Utara yang tertangkap OTT karena suap proyek infrastruktur. Polanya nyaris sama di semua tempat. APBD menjadi ladang transaksi, proyek menjadi komoditas politik, dan kepala daerah berdiri sebagai simpul utama distribusi rente.

Kasus Ardito menjadi menarik karena KPK secara terbuka mengungkap bahwa uang hasil korupsi dipakai untuk melunasi utang kampanye. Nilainya tidak kecil. Sekitar Rp5,25 miliar disebut berkaitan langsung dengan pembiayaan Pilkada. Ini membuka fakta yang selama ini sering dibicarakan setengah berbisik. Biaya politik lokal memang mahal, dan sering kali jauh melampaui kemampuan resmi partai politik. Di daerah sebesar Lampung Tengah dengan penduduk sekitar 1,5 juta jiwa, kontestasi pilkada bukan urusan ratusan juta, melainkan belasan hingga puluhan miliar rupiah.

Tekanan itu tidak berhenti setelah kemenangan. APBD Lampung Tengah 2024 yang mencapai sekitar Rp2,77 triliun menjadi ruang paling strategis untuk mengembalikan modal politik. Dalam ilmu kebijakan publik, situasi ini dikenal sebagai budget capture, ketika anggaran publik bergeser fungsi dari alat pelayanan menjadi alat distribusi kepentingan. Data perkara menunjukkan bagaimana pengadaan barang dan jasa menjadi pintu masuk paling mudah. Fee proyek, pengondisian pemenang tender, dan peran perantara dari lingkaran elite lokal menjadi pola yang nyaris selalu muncul.

Di titik ini, menyalahkan individu semata jelas tidak cukup. Tiga bupati Lampung Tengah tersandung kasus korupsi dengan modus berbeda tetapi pola yang sama. Artinya, pergantian aktor tidak pernah diikuti pembenahan sistem. Rekrutmen politik tetap berbasis modal, pengawasan APBD lemah, dan partai politik gagal menjalankan fungsi kontrol. Bahkan setelah satu kepala daerah dipenjara, struktur pendukungnya tetap bertahan dan siap bekerja untuk aktor berikutnya.

KPK tentu tetap penting. OTT masih menjadi instrumen yang efektif untuk memutus praktik korupsi yang sedang berlangsung. Namun, fakta bahwa OTT terus berulang di daerah yang sama justru mengindikasikan keterbatasan penindakan yang hanya menyentuh permukaan. Jaringan kontraktor, broker proyek, dan aktor politik lokal sering kali lolos dari sorotan utama. Publik pun mulai terbiasa melihat siklus yang sama. Ada OTT, ada konferensi pers, ada vonis, lalu semua kembali normal seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Peran partai politik dalam siklus ini juga sulit diabaikan. Hampir semua kepala daerah yang terjerat OTT adalah kader atau diusung partai. Namun evaluasi internal jarang terdengar. Sanksi struktural hampir tidak pernah dilakukan. Pencalonan tetap berbasis popularitas dan kemampuan finansial, bukan kapasitas dan integritas. Dalam kondisi seperti ini, korupsi bukan penyimpangan, melainkan risiko yang sejak awal sudah diperhitungkan.

Di sinilah wacana pembiayaan politik oleh negara menjadi relevan untuk dibicarakan secara lebih jujur. Banyak negara demokrasi menyediakan pendanaan negara yang memadai bagi partai politik dengan syarat transparansi dan audit ketat. Tujuannya sederhana, memutus ketergantungan partai dan kandidat pada sponsor ekonomi. Indonesia sebenarnya sudah memiliki skema bantuan keuangan partai, tetapi jumlahnya jauh dari cukup untuk menutup biaya pendidikan politik dan kontestasi elektoral, terutama di daerah.

Tanpa pembiayaan politik yang realistis dan akuntabel, kepala daerah akan terus berada dalam tekanan untuk mencari sumber dana informal. Dan selama itu pula APBD akan terus diperlakukan sebagai alat pengembalian modal. Kasus Lampung Tengah memberi contoh nyata bagaimana biaya politik, utang kampanye, dan korupsi anggaran saling terhubung secara langsung.

Lampung Tengah hari ini salah satu potret sistem politik lokal dari lanskap politik nasional yang dibiarkan berjalan tanpa koreksi serius. Selama akar persoalan ini tidak disentuh, publik hanya akan menyaksikan satu nama diganti nama lain dalam daftar tersangka. Sementara APBD tetap menjadi panggung utama perebutan rente, dan korupsi terus berulang dengan wajah yang berbeda tetapi cerita yang sama.

Penulis : Wahyu Agung Putra Pamungkas (penikmat demokrasi dan politik lokal, menulis dibantu AI, tinggal di Lampung Selatan)

Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 2: Mupok Mufaham, Makan Bersama sebagai Media Penyelesaian Konflik. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan.
Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung.
Seri 2: Mupok Mufaham, Makan Bersama sebagai Media Penyelesaian Konflik.
Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Konon, di tepian Way Sekampung, hiduplah dua saudara seibu sebapak, Semeton dan Sematin. Suatu hari, perselisihan tajam merebak di antara mereka berebut sebidang tanah warisan (pusako) yang subur. Amarah membara, kata-kata kasar terlontar, hingga nyaris berujung darah. Sang ibu, Ratu Dipasanda, berduka melihat putra-putranya bagai musuh. Dengan bijak, ia tidak memihak. Ia memanggil seorang tua sakti, Mangkubumi, yang dihormati sebagai penjaga adat.
Mangkubumi pun bertindak. Ia memerintahkan kedua bersaudara itu untuk datang ke sebuah balai (rumah pertemuan) di tengah tanah sengketa. Di sana, telah disiapkan sebuah kancah (kuali) besar berisi batu yang dipanaskan hingga membara. “Barang siapa yang merasa paling benar,” sabdanya, “celupkanlah tangannya ke dalam kancah ini dan ambil batu yang membara. Kebenaran akan melindunginya.”
Kedua bersaudara itu terdiam, tak satu pun berani menguji kesaktiannya.

Melihat itu, Mangkubumi lalu mengambil segenggam beras dan sepotong ikan, lalu melemparkannya ke dalam kancah yang sama. Tak lama, aroma nasi dan ikan panggang yang harum memenuhi ruangan. “Lihatlah,” kata Mangkubumi. “Kancah yang sama bisa menjadi alat penyiksa atau alat pencipta kehidupan. Demikian pula hati kalian. Bisa menyimpan dendam yang membakar, atau bisa menciptakan perdamaian yang menyejukkan. Mari kita ubah bara konflik ini menjadi api tungku untuk memasak santapan kebersamaan.” Ia kemudian menyajikan nasi dan ikan dari kancah itu, mempersilakan Semeton dan Sematin makan dari satu piring yang sama. Air mata menetes, pelukan terjadi. Sejak peristiwa itu, lahirlah filosofi Mupok Mufaham (Duduk Makan Sampai Paham), di mana meja makan menjadi medan netral untuk mencairkan kebekuan dan merajut kembali ikatan yang putus.

Nyikok Mamak, Makan dari Satu Sumber, Satu Hati.

Salah satu ritual perdamaian adat yang paling sakral adalah Nyikok Mamak atau Ngedauken. Ritual ini adalah puncak dari proses penyelesaian sengketa (sengketa adat) yang telah melalui tahapan musyawarah (bimbang) dan penjelasan (pepadun). Nyikok Mamak secara harfiah berarti “memotong dan membagikan daging (biasanya dari kerbau atau sapi) oleh pihak yang bersengketa kepada seluruh kerabat dan masyarakat.”

Filosofi dasarnya termaktub dalam petuah adat yang tercatat dalam Dalom Piil Pesenggiri, naskah lisan yang diwariskan turun-temurun: “Konflik itu seperti daging mentah, keras dan berbau. Hanya dengan memotongnya, membumbuinya dengan ikhlas, dan memasaknya bersama-sama di atas api kesadaran, barulah ia bisa menjadi santapan yang mengenyangkan dan mempersatukan.”

Analisis mendalam terhadap prosesi ini mengungkap lapisan maknanya:
1. Pemotongan Hewan: Hewan korban, biasanya kerbau, melambangkan “diri” dari konflik itu sendiri. Ia harus “dibunuh” atau diakhiri. Proses pemotongan yang dilakukan bersama oleh kedua belah pihak yang bertikai adalah tindakan simbolis untuk bersama-sama mengakhiri sumber perseteruan.
2. Pembagian Daging: Daging yang telah dipotong kemudian dibagi secara adil dan merata kepada semua yang hadir, tidak terkecuali. Ini adalah simbol konkret bahwa penyelesaian konflik harus adil (adil) dan manfaat perdamaian harus dirasakan oleh seluruh komunitas, bukan hanya pihak yang bersengketa. Setiap orang menerima bagian yang sama, menegaskan bahwa di hadapan perdamaian, semua setara.
3. Memasak dan Makan Bersama: Ini adalah inti dari Mupok Mufaham. Makan dari daging yang sama, yang dimasak dalam kuali yang sama, adalah metafora kuat untuk menyatukan kembali pengalaman pahit menjadi satu kenangan yang ditransformasikan. Saat gigitan pertama masuk, secara fisik dan psikologis, para mantan lawan sedang mencerna kesepakatan mereka, menerimanya ke dalam tubuh, dan menjadikannya bagian dari diri mereka yang baru.

Peran “Sangkok” dan “Piring Perdamaian”

Dalam ritual ini, peralatan makan bukanlah benda biasa. Sangkok (mangkuk dari kayu atau anyaman) yang digunakan sering kali adalah benda pusaka atau dibuat khusus untuk acara ini. Demikian pula dengan piring (piring). Keduanya melambangkan wadah atau “tanah” di mana perdamaian akan ditanam dan tumbuh.

Lebih dalam lagi, ada konsep Piring Satu Isi. Sebuah piring besar berisi nasi dan lauk-pauk diletakkan di tengah. Para pihak yang berkonflik, dipandu oleh tetua adat (penyimbang), kemudian mengambil nasi dan lauk dari piring yang sama itu secara bergantian untuk disantap. Fase ini disebut Ngapeh Sain. Sebuah ketentuan adat menyebutkan, “Sai ngapeh sain, sai makmeghan, konflik pun gelakh” (Siapa yang mengambil dari sumber yang sama, siapa yang menyantapnya, konflik pun selesai).

Tindakan fisik mengambil makanan dari wadah bersama adalah ikrar publik bahwa mereka telah sepakat untuk berbagi kembali sumber daya, rezeki, dan kehidupan sebagai satu komunitas.

Simbolisme Bahan Makanan dalam Rekonsiliasi.

Setiap bahan yang disajikan dalam Mupok Mufaham mengandung pesan moral yang dalam:
* Nasi Putih: Lambang niat yang tulus, bersih, dan menjadi dasar kehidupan. Sebelum perdamaian dicapai, semua kepalsuan dan kecurangan harus disingkirkan seperti sekam yang terpisah dari beras.
* Ikan Pindang atau Gabus: Ikan, makhluk air, melambangkan kelincahan dan kebijaksanaan untuk “berenang” melewati kesulitan. Kuah pindang yang asam dan segar dimaknai sebagai pengingat bahwa proses perdamaian mungkin terasa “kecut” di awal, tetapi hasilnya menyejukkan hati.
* Sayur Rebung: Tunas bambu yang lurus dan harus dikuliti lapis demi lapis sebelum bisa dimakan, melambangkan proses introspeksi dan pengakuan kesalahan yang berlapis sebelum mencapai hati yang bersih.
* Sambal Seruit: Rasa pedasnya adalah peringatan agar di masa depan tidak mudah terpicu emosi. Proses mengulek berbagai bahan menjadi satu juga melambangkan penyatuan perbedaan pendapat.

Dari Ritual ke Realitas, Prinsip “Sakukh Sakatakh”.

Setelah ritual makan usai, tidak serta-merta semua selesai. Di sinilah filosofi Sakukh Sakatakh (seiya sekata, sepaham) diimplementasikan. Para pihak yang berdamai akan menyatakan ikrar perdamaian, sering kali dengan menyebut nama leluhur dan marga mereka. Sebuah dokumen perdamaian adat (surat pepadun) mungkin akan ditandatangani, tetapi kekuatannya bukan terletak pada tinta, melainkan pada publisitas ritual makan yang telah disaksikan oleh seluruh komunitas.
Makan bersama telah menjadi saksi hidup. Jika di kemudian hari salah satu pihak mengingkari kesepakatan, ia tidak hanya melanggar janji pada lawannya, tetapi telah “muntah” atau mengotori santapan sakral yang telah ditelan. Ia akan berhadapan dengan murka leluhur dan pengucilan sosial. Dengan demikian, Mupok Mufaham adalah sistem penegakan perdamaian yang menggunakan kekuatan moral, spiritual, dan sosial yang terinternalisasi melalui tindakan makan.

Meja Makan, Medan Perdamaian Abadi.

Dalam dunia modern di mana konflik diselesaikan di pengadilan dengan vonis yang sering meninggalkan rasa menang-kalah, adat Lampung menawarkan jalan lain: rekonsiliasi yang memulihkan hubungan. Mupok Mufaham mengajarkan bahwa sebelum mencari siapa yang salah dan benar, bangunlah dulu ikatan kemanusiaan yang rusak itu. Dan ikatan itu dibangun kembali melalui bahasa universal: berbagi makanan.
Ritual ini menunjukkan bahwa makan bersama bukanlah sekadar acara sosial, melainkan tindakan politis dan spiritual yang dahsyat. Ia adalah pengakuan bahwa kita, meski berbeda pendapat, tetap berasal dari sumber kehidupan yang sama dan harus belajar untuk berbagi lagi. Ketika suapan terakhir ditelan, yang tertelan bukan hanya nasi, tetapi juga dendam. Yang tersisa di piring adalah harapan untuk memulai babak baru.
Di dalam lamban dan di balai-balai adat Lampung, meja makan telah lama menjadi ruang sidang perdamaian yang paling manusiawi.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Dalom Piil Pesenggiri: Kajian Nilai-Nilai Budaya Lampung oleh Drs. Hi. Alimanuddin. Penerbit AURA, 2018. (Format Fisik, memuat transkripsi dan analisis petuah adat lisan).
2. Penyelesaian Sengketa Menurut Hukum Adat Lampung (Tesis) oleh Maria Magdalena, Fakultas Hukum Universitas Lampung, 2005. (Format Digital/Perpustakaan Universitas, membahas detail ritual Nyikok Mamak).
3. Adat Istiadat Masyarakat Lampung: Upacara-Upacara Adat oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, 1999. (Format Fisik/Digital Arsip Daerah).
4. Kitab Kuntara Raja Niti (Bagian tentang Penyelesaian Perselisihan). Koleksi Naskah Kuno Museum Negeri Provinsi Lampung “Ruwa Jurai”. (Format Fisik/Faksimili).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.