Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 1: Hakikat Pi’il Pesenggiri – Filosofi Dasar Martabat Manusia. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Pada masa ketika Sekala Brak masih diselimuti kabut tebal dan gunung dianggap sebagai penjaga sumpah, hiduplah seorang pemuda bernama Minak Suttan Balau. Ia dikenal bukan karena harta atau kekuatan, melainkan karena sikapnya.

Suatu hari, ia difitnah mengambil hak orang lain. Dengan tenang, Minak tidak membalas amarah dengan amarah. Ia memilih membuktikan kebenaran melalui musyawarah adat.
Ketika kebenaran terungkap, tetua berkata, “Ia menjaga pi’il-nya, maka martabatnya dijaga adat.” Kisah ini hidup turun-temurun sebagai pengantar makna Pi’il Pesenggiri.

Pengertian Dasar Pi’il Pesenggiri
Bagi masyarakat adat Lampung, Pi’il Pesenggiri adalah inti dari keberadaan manusia. Pi’il merujuk pada perilaku terpuji, sedangkan pesenggiri bermakna harga diri yang dijaga dengan kehormatan. Keduanya menyatu menjadi pedoman hidup yang menuntun cara berbicara, bertindak, dan mengambil keputusan.

Filosofi ini tidak mengajarkan kesombongan, melainkan tanggung jawab moral. Orang yang memiliki Pi’il Pesenggiri tidak akan merendahkan orang lain, sebab menjaga martabat diri berarti menghormati martabat sesama.

Nilai ini menjadi fondasi identitas orang Lampung, baik dalam adat Saibatin yang berhierarki maupun Pepadun yang bersifat musyawarah.

Jejak Sejarah dan Dokumen Adat.

Dalam naskah adat tua Lampung seperti Kuntara Raja Niti, Pi’il Pesenggiri disebut sebagai hukum batin manusia. Salah satu petuah adat berbunyi:
“Pi’il ni badan, pesenggiri ni nyawa.” (Pi’il adalah tubuh, pesenggiri adalah nyawa.)
Kutipan ini menunjukkan bahwa tanpa Pi’il Pesenggiri, manusia dianggap kehilangan ruh sosialnya. Analisisnya memperlihatkan bahwa adat Lampung memandang kehormatan bukan sebagai atribut lahiriah, melainkan kualitas batin yang tampak melalui perbuatan.

Sejarah marga-marga tua seperti Abung Siwo Mego, Pepadun Tulang Bawang, dan Saibatin Pesisir mencatat bahwa pelanggaran Pi’il Pesenggiri dapat dikenai sanksi adat. Hal ini membuktikan bahwa nilai ini telah lama menjadi hukum hidup, bukan sekadar nasihat.

Pi’il Pesenggiri dalam Struktur Marga.

Dalam sistem Saibatin, Pi’il Pesenggiri tercermin pada sikap pemimpin adat yang harus menjadi teladan. Seorang penyimbang tidak dinilai dari garis keturunan semata, tetapi dari keluhuran budi. Jika ia mencederai martabat, legitimasi adatnya akan runtuh.
Pada masyarakat Pepadun, Pi’il Pesenggiri diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam musyawarah dan keberanian bertanggung jawab atas ucapan.

Seseorang yang ingkar janji dianggap “jatuh pi’il”-nya, suatu keadaan yang lebih memalukan daripada kehilangan harta.

Legenda Asal-usul Nilai Pi’il.

Legenda Sekala Brak menceritakan perjanjian leluhur Lampung saat membuka wilayah baru. Mereka bersumpah untuk hidup saling menghormati demi menjaga keseimbangan.
Sumpah itu dikenal sebagai janji pi’il, yang diwariskan secara lisan.

Dalam legenda tersebut disebutkan, manusia yang melanggar pi’il akan kehilangan kepercayaan masyarakat. Analisis legenda ini menunjukkan bahwa Pi’il Pesenggiri lahir dari kebutuhan menjaga harmoni kelompok, agar konflik tidak merusak tatanan hidup bersama.

Dimensi Spiritual Pi’il Pesenggiri.

Pi’il Pesenggiri memiliki dimensi spiritual yang kuat. Dalam pandangan adat, menjaga martabat adalah bentuk syukur atas kehidupan. Salah satu petuah tua menyebut:
“Sai ngusung pi’il, dirawat alam.” (Siapa menjaga martabat, akan dijaga alam.)
Makna filosofisnya menempatkan manusia sebagai bagian dari tatanan kosmis. Perilaku tidak bermartabat diyakini mengganggu keseimbangan, sedangkan keluhuran akhlak mendatangkan ketenteraman. Inilah sebabnya Pi’il Pesenggiri tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga sakral.

Pi’il Pesenggiri dalam Kehidupan Sehari-hari.

Dalam kehidupan sehari-hari orang Lampung, Pi’il Pesenggiri tampak pada kesantunan berbicara, keteguhan menepati janji, dan etos berusaha yang jujur. Semangat kompetitif yang terkandung di dalamnya bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menjadi lebih baik tanpa mencederai orang lain.

Nilai ini mendidik seseorang agar malu berbuat curang, malu bergantung pada belas kasihan, dan malu hidup tanpa kontribusi. Rasa malu di sini bukan tekanan, melainkan pengingat moral.

Tantangan dan Relevansi Zaman Kini.

Di tengah perubahan zaman, Pi’il Pesenggiri menghadapi tantangan individualisme dan pragmatisme. Namun, nilai dasarnya tetap relevan. Ia mengajarkan bahwa martabat tidak bisa dibeli dan kehormatan tidak bisa diwariskan tanpa usaha.

Analisis ini menunjukkan bahwa Pi’il Pesenggiri justru semakin penting sebagai penyeimbang modernitas, agar kemajuan tidak menghilangkan kemanusiaan.
Martabat sebagai Warisan Abadi
Pi’il Pesenggiri adalah cermin diri orang Lampung. Ia bukan aturan tertulis semata, melainkan kesadaran hidup yang diwariskan melalui cerita, adat, dan teladan. Selama nilai ini dijaga, jati diri Lampung akan tetap hidup, meski zaman terus berubah.

Referensi Terverifikasi
* Hadikusuma, Hilman. Hukum Adat Lampung. Bandung: Alumni.
* Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Adat Istiadat Daerah Lampung.
* Manuskrip Kuntara Raja Niti, koleksi Museum Lampung.
* Fachruddin, Irfan. Pi’il Pesenggiri sebagai Falsafah Hidup Orang Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

MUTIARA PAGI : Kadang Keterbatasan Menyelamatkan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id – Pemanggilan – Kadang kita mengeluh pada keterbatasan, seakan ia adalah penghalang segala impian. Kita merasa sempit oleh keadaan, terikat oleh kemampuan, dan tertahan oleh apa yang tidak kita miliki. Padahal, sering kali justru di sanalah keselamatan disembunyikan.

Keterbatasan mengajarkan kita berhenti sebelum melampaui batas. Ia menahan langkah agar tidak terjerumus pada kesombongan, tidak terbakar oleh ambisi yang membabi buta.

Seandainya semua pintu terbuka lebar, mungkin kita lupa memilih mana jalan yang benar dan mana yang hanya tampak indah di mata.

Keterbatasan juga melatih kita bersandar. Saat daya tak lagi cukup, kita belajar berdoa. Saat akal tak menemukan jalan, hati mulai tunduk dan pasrah.

Di situlah manusia mengenal makna tawakal—bahwa tidak semua harus ditaklukkan, sebagian cukup diserahkan kepada Allah.

Banyak orang diselamatkan bukan karena kuatnya mereka, tetapi karena lemahnya mereka.

Lemah yang membuat mereka berhati-hati, sederhana yang menjauhkan dari kerakusan, dan kurang yang menjaga dari dosa-dosa yang berlebihan.

Keterbatasan menjadi pagar tak terlihat yang melindungi, meski sering disalahpahami sebagai hukuman.

Maka jangan selalu membenci keterbatasan. Bisa jadi ia adalah cara Allah menjaga kita, menunda sesuatu yang akan mencelakakan, atau mengarahkan pada jalan yang lebih berkah.

Sebab tidak semua yang kita inginkan membawa kebaikan, dan tidak semua yang dibatasi berarti keburukan.

Kadang, keterbatasan bukan untuk melemahkan kita, tetapi untuk menyelamatkan. (KIS/139).
Wallahu A’lamu

_____
? H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Sosialisasi 4 Pilar MPR RI Menggema di Natar, Mukhlis Basri Teguhkan Ideologi Kebangsaan

nataragung.id, Natar — Pelataran kediaman Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Lampung Selatan, Hendry Gunawan, di Desa Natar Induk, Kecamatan Natar, Minggu (28/12/2025), menjadi saksi menguatnya kembali denyut ideologi kebangsaan. Di tempat itu, Drs. Hi. Mukhlis Basri, Anggota MPR RI Fraksi PDI Perjuangan sekaligus Anggota DPR RI Dapil Lampung I, menggelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di hadapan ratusan peserta.

Acara yang berlangsung penuh khidmat dan sarat semangat kebangsaan tersebut dihadiri fungsionaris DPC PDI Perjuangan Kecamatan Natar, para kepala desa, tokoh masyarakat, serta ratusan tamu undangan dari berbagai elemen masyarakat.

Sebagai tuan rumah, Hendry Gunawan dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas kehadiran Mukhlis Basri di tengah masyarakat Natar. Ia menegaskan bahwa kegiatan sosialisasi ini bukan sekadar agenda formal, melainkan ruang strategis untuk menanamkan kembali nilai-nilai kebangsaan di akar rumput.

“Empat Pilar MPR RI adalah fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui kegiatan ini, kita ingin memperkuat kembali semangat persatuan dan kecintaan terhadap NKRI,” ujar Hendry Gunawan.

Dalam pemaparannya, Mukhlis Basri menjelaskan secara komprehensif peran dan fungsi DPR RI dan MPR RI, sekaligus menegaskan urgensi Empat Pilar MPR RI yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai penyangga utama keutuhan bangsa di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.

Dengan gaya lugas dan penuh penekanan, Mukhlis menegaskan bahwa Pancasila bukan hanya jargon, melainkan pedoman hidup yang harus terus dijaga dan diamalkan dalam setiap sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pada kesempatan tersebut, Mukhlis Basri juga memperkenalkan kepengurusan baru PDI Perjuangan, baik di tingkat DPD PDI Perjuangan Provinsi Lampung maupun DPC PDI Perjuangan Kabupaten Lampung Selatan, dengan menyebut nama Lesty Putri Utami, yang merupakan putri kandungnya sendiri. Ia menegaskan bahwa regenerasi kepemimpinan partai merupakan keniscayaan demi menjaga kesinambungan perjuangan ideologis partai.

Tak lupa, Mukhlis memberikan suntikan semangat kepada seluruh pengurus dan kader PDI Perjuangan agar tetap solid, militan, dan konsisten membela kepentingan rakyat, khususnya masyarakat kecil.

Dalam sambutan penutupnya, Mukhlis Basri juga menyinggung aspirasi pemekaran Kecamatan Natar menjadi daerah otonom baru dengan nama Bandar Negara. Ia menyatakan dukungannya terhadap aspirasi tersebut, seraya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersikap realistis dan sabar dalam memperjuangkannya.

“Secara potensi, Natar sudah sangat layak untuk mekar. Silakan panitia terus berproses dan berjuang. Namun jangan berharap terlalu jauh dalam waktu dekat, karena pemekaran masih menunggu dibukanya moratorium oleh Presiden,” tegas Mukhlis.

Pernyataan tersebut disambut antusias oleh peserta yang hadir. Acara kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab, di mana masyarakat secara langsung menyampaikan aspirasi, pertanyaan, serta harapan kepada Mukhlis Basri terkait kebangsaan, pembangunan daerah, hingga masa depan Natar.

Dialog interaktif tersebut semakin menegaskan kedekatan wakil rakyat dengan konstituennya, sekaligus menjadikan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI ini bukan hanya sebagai agenda seremonial, melainkan ruang partisipatif yang hidup dan bermakna bagi masyarakat Natar.

Editor  : Muhammad Arya

Tahun Baru Tanpa ‘Dar-Der-Dor’.(Menyongsong Tahun Baru 2026). Oleh : Gunawan Handoko *)

nataragung.id – Bandar Lampung – HIMBAUAN Gubernur Lampung untuk tidak membunyikan petasan dan kembang api di malam pergantian tahun 2026 merupakan tindakan terpuji sebagai bentuk empati bagi para korban bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Walaupun sifatnya hanya himbauan, bukan perintah atau instruksi, namun perlu diapresiasi oleh masyarakat, khususnya masyarakat Lampung yang dikenal penuh toleransi dan keramahan.

Tempat-tempat hiburan diharapkan dapat mengikuti himbauan Gubernur untuk tidak menggelar acara pesta tahun baru, untuk menunjukkan kepedulian dan empati terhadap masyarakat yang terdampak, serta membantu menciptakan suasana yang lebih khidmat dan reflektif di malam pergantian tahun.

Selain untuk menunjukkan kesadaran dan kepedulian sosial, himbauan Gubernur ini juga mengajarkan kepada kita tentang pentingnya nilai-nilai kesetiakawanan dan solidaritas sosial terhadap sesama.

Dengan mematuhi himbauan tersebut, kita telah menunjukkan empati dan kepedulian terhadap mereka yang tertimpa bencana. Nilai-nilai kesetiakawanan dan solidaritas sosial seperti ini sangat penting dalam membangun masyarakat yang harmonis dan peduli sesama. Maka semua pihak perlu berpikir ulang, masih pantaskah berpesta pora yang penuh hingar bingar, menggelar panggung-panggung hiburan dan pesta kembang api untuk menambah gegap gempitanya malam tahun baru. Bukankah peristiwa pergantian tahun merupakan fenomena sesaat yang hanya memberikan kenikmatan dalam hitungan menit.

Secara tidak sadar, kita telah menghamburkan sekian banyak uang yang sesungguhnya uang tersebut sangat dibutuhkan oleh saudara-saudara kita yang sedang dirundung duka akibat bencana banjir bandang. Disinilah rasa dilematis seorang manusia di mulai, siapapun akan merasa miris ketika menyaksikan jasad manusia tertimbun lumpur dan longsoran tanah, ribuan manusia yang kehilangan rumah dan dipastikan dalam beberapa hari ke depan harus tidur ditenda-tenda darurat, rumah-rumah ibadah dan bangunan sosial lainnya. Tidak ada pihak yang bisa memastikan, sampai kapan mereka harus tinggal ditempat pengungsian. Masih beruntung, masyarakat disana tidak serta merta protes, meski harus menanggung penderitaan sangat berat. Dalam kegalauan hati, mereka yang hanya bisa saling pandang penuh tanya, siapa diantara mereka yang berlumur dosa, apa salah mereka dan mengapa korban yang paling banyak justru di derita masyarakat yang masuk kategori sebagai kaum yang lemah dan miskin.
Bukankah pada kenyataan sehari-hari mereka tergolong makhluk yang paling suci, pasrah dan tidak pernah menipu apalagi korupsi.

Meski demikian, mereka lebih memilih pasrah dan meyakini bahwa semua ini terjadi karena musibah atau peringatan ‘Ilahi’ kepada umat manusia. Maka kita tidak perlu memperdebatkan tentang tinjauan teologi, apakah bencana ini sebuah ujian, cobaan, peringatan, azab atau apapun namanya.

Yang pasti, bencana ini terjadi semata-mata atas kehendak Tuhan, dan Ia pasti telah mempunyai rencana lain di balik itu. Ini musibah kita bersama yang harus kita rasakan dan pikul secara bersama pula. Sikap saling menyalahkan bukanlah hal yang bijak, justru akan memperbesar masalah. Dalam suasana seperti ini, mengalihkan dana yang seharusnya digunakan untuk membeli petasan dan kembang api untuk membantu mereka yang sedang berduka adalah merupakan tindakan yang sangat mulia. Bukan hanya menunjukkan empati dan kepedulian terhadap sesama, tetapi juga dapat memberikan manfaat yang nyata bagi mereka yang membutuhkan.

Dalam konteks pergantian tahun, sesungguhnya bukan tahun barunya yang penting, tetapi bagaimana setiap manusia mulai menata ulang sikap mentalnya dalam memasuki tahun baru. Tahun baru berarti memiliki cara pandang yang baru dan suci dalam upaya memperoleh sesuatu yang baru. Ketika memasuki detik-detik pergantian tahun, seyogyanya kita melakukan muhasabah dan sujud syukur, duduk dalam keheningan malam untuk melihat dengan jernih seraya mengharap bimbingan Tuhan, dan berdoa untuk kebaikan bersama, khususnya bagi mereka yang sedang dalam penderitaan.

Malam pergantian tahun hendaknya menjadi momen dan kesempatan untuk berbagi kasih dan kepedulian terhadap sesama. Bencana yang menimpa Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang telah memakan banyak korban jiwa, seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Dalam menyambut tahun baru, kita jadikan momen ini untuk merefleksikan kehidupan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya keselamatan, kesiapsiagaan, dan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian kita dapat memasuki tahun baru dengan semangat yang lebih kuat dan tekad untuk menjadi lebih baik. Jujur harus diakui, banyaknya korban jiwa akibat banjir dan tanah longsor di 3 provinsi ini menunjukkan bahwa masyarakat dan pemerintah belum sepenuhnya siap dalam menghadapi bencana. Lemahnya mitigasi bencana seperti sistem peringatan dini yang tidak evektif, kurangnya edukasi dan pelatihan serta infrastruktur yang tidak memadai, telah memperparah dampak bencana.

Oleh karena itu perlu dilakukan upaya peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi bencana, serta investasi dalam infrastruktur yang lebih baik untuk mengurangi resiko bencana. Mari kita jadikan bencana ini untuk meningkatkan kesadaran dan aksi nyata dalam menjaga dan bersahabat dengan alam. Semoga tahun baru 2026 membawa kita lebih dekat dengan impian dan tujuan yang lebih baik. **

*) Pemerhati masalah sosial, tinggal di Bandar Lampung.

Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 10: Makan Penutup, Warisan Rasa yang Menyatukan Generasi. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Di lereng Gunung Pesagi, di tanah ulayat marga Pemuka, tumbuh sebatang pohon pala raksasa. Pohon itu disebut Si Pahok, konon ditancapkan oleh Ratu Sekekhummong, leluhur pertama marga itu, sebagai tanda perjanjian dengan alam. Buah dan fuli-nya (bunga pala) selalu menjadi rahasia bumbu setiap pesta adat besar. Namun, setelah ratusan tahun, pohon itu mulai merana. Hanya seorang nenek bernama Inai Tepian yang masih tahu cara merawatnya dan mengolah fulinya menjadi bumbu sakral untuk gulai anak punai (gulai anak burung punai), hidangan penutup dalam upacara nyambai (syukuran).

Suatu ketika, cucu Inai Tepian yang bernama Kayla, seorang arsitek di Jakarta, pulang kampung. Ia melihat neneknya sedang susah payah mengulek rempah di batu giling (lesung batu). “Nek, kenapa tidak pakai blender? Atau beli pala saja di supermarket?” tanya Kayla. Inai Tepian menjawab sambil membuka peti kayu tua, “Lihat, ini surat pusako (surat pusaka) dari Ratu Sekekhummong. Tertulis: ‘Pahok ni rempah, ngehaga ni semengat. Sai makai sai ngulak, sai ngulak sai pegang.’ (Pohon rempah, penjaga semangat. Siapa memakai siapa mengulang, siapa mengulang siapa memegang).”

Kayla terdiam. Ia baru memahami bahwa pala itu bukan sekadar rempah, tetapi simbol siklus tanggung jawab. “Mengulang” di sini berarti menghidupkan kembali rasa dan ritual. “Memegang” berarti bertanggung jawab untuk meneruskannya.

Kayla pun memfilmkan proses neneknya merawat pohon, memanen, hingga mengolahnya. Ia membuat buku digital resep dengan penjelasan filosofi setiap langkah. Ia bahkan menghubungi ahli botani untuk menyelamatkan klon pohon itu.

Pada pesta adat berikutnya, Kayla membantu neneknya menyiapkan gulai. Saat aroma pala yang hangat memenuhi balai adat, para sesepuh tersenyum. Warisan rasa itu tidak mati. Ia bertransformasi: dari ingatan di ulekan batu menjadi dokumentasi di gawai, tetapi semangatnya, semengat-nya, tetap sama.

Ancaman Lenyap: Ketika Dapur Berbisik dalam Sunyi.

Perjalanan panjang tradisi kuliner adat Lampung, dari sesaji di bawah pepadun hingga pantun di meja makan, kini menghadapi ujian zaman yang nyata. Ancaman terbesarnya bukanlah larangan, tetapi kelalaian pelan-pelan. Banyak resep turun-temurun yang kompleks, seperti seruit ikan baung dengan puluhan bumbu khusus, tempoyak (durian fermentasi) dengan masa fermentasi tertentu, atau kue lapis sagu yang prosesnya berjam-jam, hanya tersimpan dalam ingatan para tetua.

Jika seorang penjaga resep meninggal tanpa penerus, hilanglah satu bab dari ensikloperia rasa dan filosofi keluarga atau marga.

Dalam manuskrip kuno Kuntara Raja Niti, terdapat bagian yang sering kali diabaikan tentang tanggung jawab terhadap pengetahuan: “Ilmu nengah ghenai, adat nengah tiyuh. Sai pecatung sai peging, sai peging sai pejal.” (Ilmu di tengah perjalanan, adat di tengah komunitas. Siapa melihat siapa mengingat, siapa mengingat siapa menceritakan).

Analisis mendalam terhadap kutipan ini menunjukkan bahwa ilmu (termasuk ilmu masak) adalah sesuatu yang dinamis (ghenai/perjalanan), sementara adat adalah fondasi komunitas (tiyuh).

Proses pewarisannya memerlukan tiga aktor: yang melihat (pelaku/penjaga awal), yang mengingat (penerus yang mempelajari), dan yang menceritakan (penerus yang menyebarkan). Rantai ini mudah terputus di era individualistik.

Gerakan Dokumentasi: Menuliskan yang Selama Ini Diucapkan.

Menyadari ancaman ini, berbagai inisiatif pelestarian telah bangkit. Inisiatif ini tidak sekadar mengumpulkan resep, tetapi merekam konteks filosofisnya. Sebuah proyek dokumentasi oleh Komunitas Sabuk Pahawang, misalnya, berhasil mengumpulkan 50 resep dari lima marga utama di pesisir. Mereka tidak hanya mencatat bahan, tetapi juga mewawancarai penjaga resep tentang kapan hidangan itu disajikan, pantun yang menyertainya, dan makna simbolisnya.

Contohnya, resep lemang (ketan dalam bambu) dari marga Bumi Kencana di Way Kanan. Dokumentasi itu tidak hanya berisi takaran beras ketan dan santan. Tertulis juga: “Lemang ini selalu dibuat saat cakak pepadun, sebagai simbol kesabaran (karena dimasak perlahan) dan keteguhan (bentuknya yang padat). Saat membuka pembungkusnya, diucapkan: ‘Terbukalah bambu, terbukalah rezeki, teguhlah penyimbang seperti lemang di dalam buluh.’”
Dengan demikian, dokumentasi menjadi jembatan antara tekstur rasa dan tekstur makna.

Upaya lain adalah pembuatan “Buku Silsilah Rasa” oleh keluarga besar marga Selatin di Liwa. Buku ini menyambungkan pohon keluarga dengan resep-resep khas setiap generasi. Di samping nama Ratu Pernong, tercatat “Pengembang teknik panggang batu untuk ikan gabus dalam upacara nyapunat.” Ini adalah bentuk konkret dari falsafah sai peging sai pejal, sang penerus tidak hanya mengingat, tetapi menceritakan kembali dengan medium baru.

Inovasi yang Tidak Mengkhianati Akar: Komunitas dan Kuliner Modern.

Pelestarian tidak harus kaku. Di Bandar Lampung dan Jakarta, muncul kafe dan komunitas yang menghidupkan kembali bahan dan filosofi Lampung dengan pendekatan kekinian. Komunitas “Lampung Kitchen” misalnya, kerap mengadakan lokakarya membuat seruit dengan ikan yang lebih mudah didapat di kota, seperti ikan kakap, namun tetap mempertahankan prinsip “mufuh mufah”, dimakan bersama-sama dari satu piring besar sebagai pemersatu.

Sebuah kafe bernama “Ghinan” (yang berarti “kita” dalam bahasa Lampung) berhasil memasukkan tempoyak sebagai saus pasta dan cimplung (ubi rebus dengan santan) sebagai dessert modern. Yang menarik, di setiap sajian disertakan kartu kecil yang berisi cerita asal-usul bahan dan filosofi sederhana, seperti “Hidangan ini mengingatkan kita pada prinsip nengah (seimbang): manisnya santan dan gurihnya ubi.”

Inisiatif-inisiatif ini adalah bentuk modern dari “ngulak” (mengulang) seperti dalam surat pusaka Ratu Sekekhummong. Mereka mengulang esensi, rasa, prinsip kebersamaan, penghormatan pada bahan lokal, tetapi dengan bentuk dan konteks yang baru. Mereka adalah “penerus yang memegang” warisan di era digital.

Makan Penutup sebagai Simbol Penyatuan: Sebuah Refleksi Akhir.

Perjalanan sepuluh seri “Dari Lamban ke Meja Makan” pada akhirnya membawa kita pada sebuah kesadaran bahwa tradisi makan adat Lampung adalah sebuah sistem pengetahuan hidup. Ia bukan museum yang statis. Dari sesaji sakral di pepadun hingga dongeng di meja, dari piring tembaga ke piring plastik, intinya tetap sama: makanan adalah medium untuk merawat relasi, dengan Tuhan (Sanghyang), dengan leluhur, dengan alam, dan dengan sesama manusia.
Makan penutup dalam tradisi Lampung, sering kali berupa manisan atau buah, bukan sekadar penanda akhir jamuan. Ia adalah simbol penyelesaian yang manis, harapan agar setiap ikatan yang telah diperkuat selama makan bersama membawa kebaikan berlanjut.

Demikian pula, upaya pelestarian hari ini adalah “makan penutup” metaforis dari sebuah siklus. Ia adalah upaya memastikan bahwa perjalanan panjang warisan ini tidak berakhir pahit karena dilupakan, tetapi manis karena diteruskan.

Kisah Inai Tepian dan Kayla adalah alegori sempurna untuk bab penutup ini. Pelestarian memerlukan dua kekuatan: Kedalaman (sang penjaga tua yang paham makna sakral setiap rempah) dan Jangkauan (sang penerus muda yang mampu memakai alat baru untuk menyebarkan makna itu). Batu giling dan gawai digital bukanlah musuh; mereka adalah mitra dalam misi yang sama: menjaga semengat (semangat) yang ada dalam setiap warisan rasa.
Maka, buku seri ini ditutup dengan sebuah ajakan: mari jadikan meja makan kita, entah di lamban, apartemen, atau kafe, sebagai ruang dimana kita tidak hanya menikmati rasa, tetapi juga aktif melihat, mengingat, dan menceritakan.

Setiap kali kita menyajikan gulai taboh atau mengadakan makan bersama sederhana sambil bercerita, kita sedang menulis satu baris baru dalam “surat pusako” budaya kita yang terus hidup. Warisan itu akhirnya bukan terletak pada resep yang sempurna, tetapi pada kebersamaan yang terus dipupus dan disemai, dari generasi ke generasi.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Naskah Kuno: Surat Pusako Marga Pemuka, transliterasi oleh Tim Peneliti Universitas Lampung, 2015. (Digital/Arsip PDKL).
2. Buku: Kuntara Raja Niti: Kajian Filologis dan Nilai Kearifan Lokal oleh Iskandar Syah, Penerbit Balai Bahasa Provinsi Lampung, 2017. (Fisik).
3. Dokumentasi Proyek: “Arsip Kuliner Adat Lampung” oleh Komunitas Sabuk Pahawang, 2020-2023. (Digital/Terverifikasi oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Lampung).
4. Buku: Buku Silsilah dan Resep Marga Selatin Liwa, disusun oleh Keluarga Besar Selatin, 2019. (Fisik, edisi terbatas).
5. Laporan Aktivitas & Menu: Dokumentasi Komunitas “Lampung Kitchen” dan Kafe “Ghinan”, 2021-2023. (Digital/Wawancara dan observasi langsung).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 10: Makan Penutup, Warisan Rasa yang Menyatukan Generasi. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Di lereng Gunung Pesagi, di tanah ulayat marga Pemuka, tumbuh sebatang pohon pala raksasa. Pohon itu disebut Si Pahok, konon ditancapkan oleh Ratu Sekekhummong, leluhur pertama marga itu, sebagai tanda perjanjian dengan alam. Buah dan fuli-nya (bunga pala) selalu menjadi rahasia bumbu setiap pesta adat besar. Namun, setelah ratusan tahun, pohon itu mulai merana. Hanya seorang nenek bernama Inai Tepian yang masih tahu cara merawatnya dan mengolah fulinya menjadi bumbu sakral untuk gulai anak punai (gulai anak burung punai), hidangan penutup dalam upacara nyambai (syukuran).

Suatu ketika, cucu Inai Tepian yang bernama Kayla, seorang arsitek di Jakarta, pulang kampung. Ia melihat neneknya sedang susah payah mengulek rempah di batu giling (lesung batu). “Nek, kenapa tidak pakai blender? Atau beli pala saja di supermarket?” tanya Kayla. Inai Tepian menjawab sambil membuka peti kayu tua, “Lihat, ini surat pusako (surat pusaka) dari Ratu Sekekhummong. Tertulis: ‘Pahok ni rempah, ngehaga ni semengat. Sai makai sai ngulak, sai ngulak sai pegang.’ (Pohon rempah, penjaga semangat. Siapa memakai siapa mengulang, siapa mengulang siapa memegang).”

Kayla terdiam. Ia baru memahami bahwa pala itu bukan sekadar rempah, tetapi simbol siklus tanggung jawab. “Mengulang” di sini berarti menghidupkan kembali rasa dan ritual. “Memegang” berarti bertanggung jawab untuk meneruskannya.

Kayla pun memfilmkan proses neneknya merawat pohon, memanen, hingga mengolahnya. Ia membuat buku digital resep dengan penjelasan filosofi setiap langkah. Ia bahkan menghubungi ahli botani untuk menyelamatkan klon pohon itu.

Pada pesta adat berikutnya, Kayla membantu neneknya menyiapkan gulai. Saat aroma pala yang hangat memenuhi balai adat, para sesepuh tersenyum. Warisan rasa itu tidak mati. Ia bertransformasi: dari ingatan di ulekan batu menjadi dokumentasi di gawai, tetapi semangatnya, semengat-nya, tetap sama.

Ancaman Lenyap: Ketika Dapur Berbisik dalam Sunyi.

Perjalanan panjang tradisi kuliner adat Lampung, dari sesaji di bawah pepadun hingga pantun di meja makan, kini menghadapi ujian zaman yang nyata. Ancaman terbesarnya bukanlah larangan, tetapi kelalaian pelan-pelan. Banyak resep turun-temurun yang kompleks, seperti seruit ikan baung dengan puluhan bumbu khusus, tempoyak (durian fermentasi) dengan masa fermentasi tertentu, atau kue lapis sagu yang prosesnya berjam-jam, hanya tersimpan dalam ingatan para tetua.

Jika seorang penjaga resep meninggal tanpa penerus, hilanglah satu bab dari ensikloperia rasa dan filosofi keluarga atau marga.

Dalam manuskrip kuno Kuntara Raja Niti, terdapat bagian yang sering kali diabaikan tentang tanggung jawab terhadap pengetahuan: “Ilmu nengah ghenai, adat nengah tiyuh. Sai pecatung sai peging, sai peging sai pejal.” (Ilmu di tengah perjalanan, adat di tengah komunitas. Siapa melihat siapa mengingat, siapa mengingat siapa menceritakan).

Analisis mendalam terhadap kutipan ini menunjukkan bahwa ilmu (termasuk ilmu masak) adalah sesuatu yang dinamis (ghenai/perjalanan), sementara adat adalah fondasi komunitas (tiyuh).

Proses pewarisannya memerlukan tiga aktor: yang melihat (pelaku/penjaga awal), yang mengingat (penerus yang mempelajari), dan yang menceritakan (penerus yang menyebarkan). Rantai ini mudah terputus di era individualistik.

Gerakan Dokumentasi: Menuliskan yang Selama Ini Diucapkan.

Menyadari ancaman ini, berbagai inisiatif pelestarian telah bangkit. Inisiatif ini tidak sekadar mengumpulkan resep, tetapi merekam konteks filosofisnya. Sebuah proyek dokumentasi oleh Komunitas Sabuk Pahawang, misalnya, berhasil mengumpulkan 50 resep dari lima marga utama di pesisir. Mereka tidak hanya mencatat bahan, tetapi juga mewawancarai penjaga resep tentang kapan hidangan itu disajikan, pantun yang menyertainya, dan makna simbolisnya.

Contohnya, resep lemang (ketan dalam bambu) dari marga Bumi Kencana di Way Kanan. Dokumentasi itu tidak hanya berisi takaran beras ketan dan santan. Tertulis juga: “Lemang ini selalu dibuat saat cakak pepadun, sebagai simbol kesabaran (karena dimasak perlahan) dan keteguhan (bentuknya yang padat). Saat membuka pembungkusnya, diucapkan: ‘Terbukalah bambu, terbukalah rezeki, teguhlah penyimbang seperti lemang di dalam buluh.’”
Dengan demikian, dokumentasi menjadi jembatan antara tekstur rasa dan tekstur makna.

Upaya lain adalah pembuatan “Buku Silsilah Rasa” oleh keluarga besar marga Selatin di Liwa. Buku ini menyambungkan pohon keluarga dengan resep-resep khas setiap generasi. Di samping nama Ratu Pernong, tercatat “Pengembang teknik panggang batu untuk ikan gabus dalam upacara nyapunat.” Ini adalah bentuk konkret dari falsafah sai peging sai pejal, sang penerus tidak hanya mengingat, tetapi menceritakan kembali dengan medium baru.

Inovasi yang Tidak Mengkhianati Akar: Komunitas dan Kuliner Modern.

Pelestarian tidak harus kaku. Di Bandar Lampung dan Jakarta, muncul kafe dan komunitas yang menghidupkan kembali bahan dan filosofi Lampung dengan pendekatan kekinian. Komunitas “Lampung Kitchen” misalnya, kerap mengadakan lokakarya membuat seruit dengan ikan yang lebih mudah didapat di kota, seperti ikan kakap, namun tetap mempertahankan prinsip “mufuh mufah”, dimakan bersama-sama dari satu piring besar sebagai pemersatu.

Sebuah kafe bernama “Ghinan” (yang berarti “kita” dalam bahasa Lampung) berhasil memasukkan tempoyak sebagai saus pasta dan cimplung (ubi rebus dengan santan) sebagai dessert modern. Yang menarik, di setiap sajian disertakan kartu kecil yang berisi cerita asal-usul bahan dan filosofi sederhana, seperti “Hidangan ini mengingatkan kita pada prinsip nengah (seimbang): manisnya santan dan gurihnya ubi.”

Inisiatif-inisiatif ini adalah bentuk modern dari “ngulak” (mengulang) seperti dalam surat pusaka Ratu Sekekhummong. Mereka mengulang esensi, rasa, prinsip kebersamaan, penghormatan pada bahan lokal, tetapi dengan bentuk dan konteks yang baru. Mereka adalah “penerus yang memegang” warisan di era digital.

Makan Penutup sebagai Simbol Penyatuan: Sebuah Refleksi Akhir.

Perjalanan sepuluh seri “Dari Lamban ke Meja Makan” pada akhirnya membawa kita pada sebuah kesadaran bahwa tradisi makan adat Lampung adalah sebuah sistem pengetahuan hidup. Ia bukan museum yang statis. Dari sesaji sakral di pepadun hingga dongeng di meja, dari piring tembaga ke piring plastik, intinya tetap sama: makanan adalah medium untuk merawat relasi, dengan Tuhan (Sanghyang), dengan leluhur, dengan alam, dan dengan sesama manusia.
Makan penutup dalam tradisi Lampung, sering kali berupa manisan atau buah, bukan sekadar penanda akhir jamuan. Ia adalah simbol penyelesaian yang manis, harapan agar setiap ikatan yang telah diperkuat selama makan bersama membawa kebaikan berlanjut.

Demikian pula, upaya pelestarian hari ini adalah “makan penutup” metaforis dari sebuah siklus. Ia adalah upaya memastikan bahwa perjalanan panjang warisan ini tidak berakhir pahit karena dilupakan, tetapi manis karena diteruskan.

Kisah Inai Tepian dan Kayla adalah alegori sempurna untuk bab penutup ini. Pelestarian memerlukan dua kekuatan: Kedalaman (sang penjaga tua yang paham makna sakral setiap rempah) dan Jangkauan (sang penerus muda yang mampu memakai alat baru untuk menyebarkan makna itu). Batu giling dan gawai digital bukanlah musuh; mereka adalah mitra dalam misi yang sama: menjaga semengat (semangat) yang ada dalam setiap warisan rasa.
Maka, buku seri ini ditutup dengan sebuah ajakan: mari jadikan meja makan kita, entah di lamban, apartemen, atau kafe, sebagai ruang dimana kita tidak hanya menikmati rasa, tetapi juga aktif melihat, mengingat, dan menceritakan.

Setiap kali kita menyajikan gulai taboh atau mengadakan makan bersama sederhana sambil bercerita, kita sedang menulis satu baris baru dalam “surat pusako” budaya kita yang terus hidup. Warisan itu akhirnya bukan terletak pada resep yang sempurna, tetapi pada kebersamaan yang terus dipupus dan disemai, dari generasi ke generasi.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Naskah Kuno: Surat Pusako Marga Pemuka, transliterasi oleh Tim Peneliti Universitas Lampung, 2015. (Digital/Arsip PDKL).
2. Buku: Kuntara Raja Niti: Kajian Filologis dan Nilai Kearifan Lokal oleh Iskandar Syah, Penerbit Balai Bahasa Provinsi Lampung, 2017. (Fisik).
3. Dokumentasi Proyek: “Arsip Kuliner Adat Lampung” oleh Komunitas Sabuk Pahawang, 2020-2023. (Digital/Terverifikasi oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Lampung).
4. Buku: Buku Silsilah dan Resep Marga Selatin Liwa, disusun oleh Keluarga Besar Selatin, 2019. (Fisik, edisi terbatas).
5. Laporan Aktivitas & Menu: Dokumentasi Komunitas “Lampung Kitchen” dan Kafe “Ghinan”, 2021-2023. (Digital/Wawancara dan observasi langsung).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

MUTIARA PAGI : Ketika Jabatan Berakhir, Jejak Amal yang Menentukan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id – Pemanggilan – Setiap jabatan yang kita sandang, setinggi apa pun kedudukannya dan sebesar apa pun tanggung jawabnya, pasti akan sampai pada satu titik akhir.

Ada yang berakhir karena pensiun, ada yang selesai karena masa tugas telah habis, dan ada pula yang terhenti secara tiba-tiba oleh kematian.

Tidak ada satu pun kursi kekuasaan yang abadi, dan tidak ada amanah dunia yang dibawa sampai ke alam kubur.

Ketika semua atribut dunia itu dilepas, manusia akan kembali sendirian menghadap Tuhannya. Saat itu, yang tersisa bukan lagi gelar, pangkat, atau tepuk tangan manusia, melainkan jejak yang ditinggalkan selama hidup.

Kebaikan yang pernah dilakukan akan menjadi saksi yang menenangkan, sementara keburukan yang ditinggalkan akan menjelma penyesalan yang menyakitkan.

Karena itu, jabatan sejatinya bukan kehormatan, melainkan ujian.

Ia adalah kesempatan untuk berbuat adil, melayani dengan tulus, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Sebab kelak, bukan lamanya kita berkuasa yang akan ditanya, melainkan bagaimana amanah itu dijalankan.

Dan ketika semuanya telah usai, sejarah dan akhirat akan mencatat: apakah yang tertinggal adalah kebaikan yang mengalir pahalanya, atau aib yang terus dikenang. (KIS/138).
Wallahu A’lamu

_____
? H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Natar Juara Umum PORKAB IV Lampung Selatan 2025, Dominasi Mutlak dari Arena ke Sejarah

nataragung.id, Lampung Selatan — Kecamatan Natar menorehkan tinta emas dalam sejarah olahraga Lampung Selatan. Berdasarkan rekapitulasi resmi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Lampung Selatan, Natar resmi keluar sebagai Juara Umum Pekan Olahraga Kabupaten (PORKAB) IV Lampung Selatan Tahun 2025.

Dalam ajang yang mempertandingkan 7 cabang olahraga, Kecamatan Natar tampil luar biasa dengan perolehan 35 medali emas, 7 perak, dan 9 perunggu, mengungguli seluruh kecamatan lainnya dan mengamankan peringkat pertama secara meyakinkan. Capaian ini menempatkan Natar jauh di atas pesaing terdekatnya, Kecamatan Tanjung Bintang dan Kalianda.

Ketua Komite Olahraga Kecamatan (KOK) Natar, Sunano, SE, MM, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas prestasi gemilang tersebut. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini adalah buah dari proses panjang, kerja kolektif, dan semangat juang para atlet.

“Ini bukan kemenangan biasa. Ini adalah hasil dari latihan tanpa lelah, kedisiplinan atlet, dedikasi pelatih, serta dukungan penuh dari semua pihak. Natar membuktikan bahwa kerja serius akan melahirkan prestasi besar,” tegas Sunano.

Menurutnya, dominasi Natar di PORKAB IV bukan hanya tentang jumlah medali, melainkan simbol kebangkitan olahraga kecamatan yang terkelola dengan baik dan berorientasi pada pembinaan jangka panjang.

Sementara itu, Camat Natar, Eko Irawan, S.STP, MM, memberikan apresiasi tinggi atas pencapaian tersebut. Ia menyebut prestasi ini sebagai kebanggaan kolektif masyarakat Natar dan bukti nyata sinergi antara atlet, organisasi olahraga, dan pemerintah.

“Prestasi Juara Umum ini adalah kebanggaan seluruh masyarakat Natar. Pemerintah Kecamatan Natar akan terus mendukung pembinaan olahraga, karena dari sinilah lahir generasi tangguh, berkarakter, dan berprestasi,” ujar Eko Irawan.

Rekapitulasi medali PORKAB IV Lampung Selatan Tahun 2025 yang ditetapkan di Kalianda pada 23 Desember 2025 itu sekaligus mengukuhkan Natar sebagai kekuatan olahraga baru yang dominan di Lampung Selatan.

Dengan capaian gemilang ini, Kecamatan Natar tak hanya pulang membawa medali, tetapi juga membawa harga diri, kebanggaan, dan harapan besar untuk masa depan olahraga yang lebih gemilang.

Editor : Muhammad Arya

 

Pantau Harga Jelang Akhir Tahun, Menko Pangan dan Mendag Turun Langsung ke Pasar Inpres Kalianda

nataragung.id – Kalianda – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Republik Indonesia (RI), Dr. (H.C.) Zulkifli Hasan, S.E., M.M., bersama Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Dr. Budi Santoso, M.Si., melakukan peninjauan langsung aktivitas perdagangan di Pasar Inpres Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Sabtu (27/12/2025).

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari langkah pemerintah pusat untuk memastikan stabilitas harga serta ketersediaan stok pangan menjelang akhir tahun, di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.

Dalam peninjauan itu, Zulkifli Hasan yang akrab disapa Zulhas dan Mendag Budi Santoso menyusuri sejumlah lapak pedagang. Keduanya berdialog langsung dengan pedagang dan pembeli, sekaligus mengecek harga berbagai komoditas kebutuhan pokok.

Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, harga bawang merah tercatat berada di kisaran Rp38 ribu per kilogram, sementara daging ayam berada di angka sekitar Rp50 ribu per kilogram.

“Alhamdulillah, harga relatif stabil dan stok tersedia,” ujar Zulhas usai melakukan pengecekan di beberapa lapak pedagang.

Tak hanya melakukan pemantauan, Zulhas dan Mendag juga membeli sejumlah dagangan pedagang pasar untuk kemudian dibagikan kepada warga yang tengah berbelanja.

Selain itu, Zulhas turut menyerahkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kemasan 5 kilogram kepada masyarakat.

Kunjungan tersebut turut didampingi Wakil Bupati Lampung Selatan M. Syaiful Anwar, Sekretaris Daerah Kabupaten Supriyanto, Kepala Bulog Kalianda Fedrial Farhan, sejumlah anggota DPRD Lampung Selatan dari Fraksi PAN, serta jajaran pejabat terkait.

Salah satu warga penerima bantuan, Hermaini (50), warga Desa Kecapi yang sehari-hari bekerja sebagai petugas kebersihan, mengaku bersyukur atas perhatian pemerintah.

“Alhamdulillah, habis gotong royong dapat beras dan ikan dari Pak Zulhas. Senang sekali, semoga ke depan semakin maju,” ujarnya.

Kendati demikian, di sela-sela kunjungan, sejumlah warga juga menyampaikan aspirasi terkait harga bahan pokok yang dinilai masih cukup tinggi. Beberapa warga bahkan secara langsung meminta agar harga kebutuhan pokok dapat lebih ditekan.

Menanggapi hal tersebut, Zulhas menegaskan pemerintah terus berupaya menjaga keseimbangan antara pasokan dan harga pangan melalui berbagai kebijakan, termasuk operasi pasar serta distribusi bantuan pangan, agar kebutuhan masyarakat tetap terjangkau dan daya beli tetap terjaga.

Kunjungan ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bersama antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga stabilitas harga pangan, khususnya di Kabupaten Lampung Selatan. (mara)

Gerak Cepat Pemkab Lampung Selatan Tangani Banjir Natar, BPBD dan Perangkat Daerah Langsung Turun ke Lokasi

nataragung.id – Natar – Hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung sejak Kamis (25/12) malam menyebabkan genangan banjir di kawasan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Air meluap hingga memasuki permukiman warga di bawah flyover Natar, dengan ketinggian mencapai satu meter di beberapa titik.

Sedikitnya 15 rumah warga terdampak akibat luapan air yang tidak tertampung sistem drainase. Banjir dipicu oleh kombinasi curah hujan tinggi dan kondisi infrastruktur saluran air yang tidak optimal.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Lampung Selatan, Anasrullah, mengatakan pemerintah daerah langsung merespons cepat setelah menerima laporan dari masyarakat.

“Atas instruksi Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, perangkat daerah terkait segera turun ke lapangan untuk melakukan monitoring dan penanganan awal,” ujar Anasrullah, Jumat (26/12/2025).

Berdasarkan hasil pemantauan di lokasi yang melibatkan Camat Natar, pemerintah desa setempat, serta UPT PU Natar, banjir disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya ukuran gorong-gorong yang tidak memadai, adanya sumbatan saluran air, bangunan liar di bawah flyover, serta pendangkalan sungai yang menghambat aliran air.

“Dari 15 kepala keluarga terdampak, sebagian besar genangan sudah mulai surut. Namun masih terdapat satu rumah yang tergenang dengan ketinggian air sekitar setengah meter,” jelasnya.

Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Selatan juga telah diterjunkan untuk melakukan pendataan serta penanganan darurat. Hasil pendataan sementara memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Sebagai langkah lanjutan, pemerintah daerah menyiapkan pembentukan posko kesehatan, melakukan koordinasi dengan pemerintah desa untuk membuka dan membersihkan gorong-gorong yang tersumbat, serta mengajukan bantuan lanjutan kepada BPBD dan Dinas Sosial.

“Warga terdampak telah menerima bantuan logistik berupa sembako, selimut, dan kebutuhan sandang. Kami juga mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama mengawasi anak-anak agar tidak beraktivitas di sekitar aliran air,” kata Anasrullah. (SMh)