nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah dermaga tua di Krui, Pesisir Barat, hiduplah seorang nenek bernama Inai Rawayan. Ia mewarisi seperangkat piring tembaga (cawan tembaga) berukir yang konon dibawa leluhurnya dari Sekala Brak. Setiap hari, ia makan dari piring itu dengan khidmat, sendirian. Ia memiliki seorang cucu bernama Adi, yang telah lama merantau ke Bandar Lampung, bekerja di perusahaan teknologi.
Suatu hari, Adi pulang membawa sebuah rice cooker listrik dan setumpuk piring plastik berwarna-warni. “Biarkan Nenek istirahat, ini lebih praktis,” katanya. Inai Rawayan diam saja. Saat makan malam tiba, Adi dengan gesit menyajikan nasi dari rice cooker ke piring plastik. Inai Rawayan mengambil piring tembaganya, mengisinya dengan nasi dari rice cooker yang sama, lalu duduk.
Mereka makan dalam hening. Tiba-tiba, Inai berkata, “Adi, dengarkan. Piring tembaga ini dingin bila kosong, tetapi cepat menyerap panas nasi. Tanganmu akan merasakan hangatnya. Plastikmu itu, ia membungkus panas, tak membaginya. Dulu, leluhur kita punya aturan: ‘Mak ngakuk tepi, ngakuk mak tepi.’ Artinya, ‘Makan tidak boleh sampai habis, habis tidak boleh makan.'”
Adi bingung. “Maksudnya, Nek?”
“Ini tentang berbagi,” ujar Inai. “Piring tembaga mengingatkanku: sebelum nasi habis, kita harus melihat ke kanan-kiri, siapa yang belum kebagian. Piring plastik dan rice cookermu bisa memasak nasi banyak dengan cepat, tapi apakah kita masih ingat untuk melihat tetangga? Teknologimu menyediakan banyak, filosofi leluhur mengajarkan untuk membagikan banyak itu.”
Keesokan harinya, Adi membeli beras lebih banyak. Ia memasak nasi di rice cooker, lalu membagikannya kepada janda tua dan anak yatim di sekitar dermaga, menggunakan piring plastiknya. Inai Rawayan tersenyum. Ia melihat, meski wadahnya berubah, api kebersamaan itu masih bisa dipindahkan dari tungku tanah liat ke tungku listrik.
Gelombang Perubahan, Dari Lamban ke Apartemen.
Kehidupan masyarakat Lampung, khususnya generasi muda di perkotaan seperti Bandar Lampung, Metro, atau bahkan di rantau seperti Jakarta, telah mengalami transformasi dramatis. Lamban, rumah panggung kayu yang luas dengan dapur tersendiri, sering kali berganti menjadi unit apartemen atau rumah minimalis di perumahan. Ruang makan bersama yang dulu selalu ada, kini harus berbagi dengan meja kerja atau ruang televisi.
Dalam naskah kuno Kuntara Raja Niti, terdapat petuah tentang rumah: “Lamban ghaghi saka bumi, tepikuk saka langit.” (Rumah bertiang di bumi, beratap di langit).
Analisis mendalam menunjukkan rumah adat dibangun sebagai mikrokosmos yang menghubungkan bumi (kehidupan sehari-hari) dan langit (spiritualitas).
Dapur dan ruang makan adalah ‘bumi’-nya, pusat aktivitas duniawi yang sakral. Pergeseran ke hunian modern seringkali memutus metafora ini. ‘Langit’ mungkin masih diwakili oleh langit-langit apartemen, tetapi ‘bumi’-nya, yaitu ruang makan sebagai pusat, sering terkikis atau menjadi multifungsi.
Namun, benarkah inti filosofinya ikut lenyap? Observasi menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan pada hilangnya ruang fisik, tetapi pada hilangnya waktu dan ritual yang disengaja. Makan bersama yang dulu adalah keharusan, kini harus diagendakan.
Wadah yang Berubah, Rasa yang Bertahan.
Perubahan paling kasat mata adalah pada alat makan. Piring tembaga atau belanga tanah liat (kekuduk) telah digantikan oleh peralatan melamin, plastik, dan stainless steel dari toko serba ada. Makanan yang dulu dimasak berjam-jam di atas kayu bakar, kini disiapkan dengan kompor gas, microwave, atau bahkan dipesan lewat aplikasi.
Namun, dalam banyak keluarga muda Lampung urban, ada upaya konservasi nilai yang menarik. Sebuah penelitian etnografi oleh Sari (2018) pada keluarga muda marga Selagai di Bandar Lampung menemukan fenomena “Malam Kamis Tradisional”. Setiap Kamis malam, keluarga itu berkomitmen makan malam bersama dengan menu yang lebih dekat ke masakan rumah: gulai taboh (gulai nangka muda) atau pindang ikan. Meski dimasak dengan kompor gas dan disajikan di piring melamin, kepala keluarga kerap menyempatkan diri bercerita tentang asal-usul marga Selagai yang legendaris, konon keturunan dari panglima perang Kerajaan Sekala Brak yang diberi tugas menjaga wilayah di ujung Way Seputih.
“Kita marga penjaga,” kata sang ayah, seperti dikutip dalam penelitian. “Dulu menjaga batas wilayah, sekarang di kota, kita menjaga waktu untuk keluarga di tengah kesibukan.”
Di sini, adaptasi terjadi. Legenda marga tidak lagi diceritakan di beranda lamban setelah makan, tetapi di meja makan minimalis setelah pulang kerja. Fungsinya sama: menguatkan identitas dan mengajari anak tentang akar.
Digitalisasi dan Rekonstruksi Kebersamaan
Generasi digital menghadapi godaan baru: gangguan gawai. Ancaman terbesar bagi filosofi mufuh mufah (berkumpul dan bersatu) saat ini mungkin adalah notifikasi media sosial. Namun, di balik tantangan ini, teknologi juga menjadi alat adaptasi yang tak terduga.
Dalam banyak keluarga, meski tidak tinggal satu atap, grup percakapan di aplikasi pesan instan menjadi “ruang makan virtual”. Mereka saling mengirim foto makanan, berbagi resep turun-temurun yang sudah dimodifikasi (“Gulai pepaya muda versi presto, Nek!”), atau sekadar mengucapkan selamat makan.
Upacara adat besar yang tidak dapat dihadiri karena jarak, sering kali disiarkan langsung atau dibagikan fotonya di grup keluarga, disertai penjelasan tentang makna sesajian oleh para sesepuh.
Ini adalah bentuk baru dari “bejuluk bejama” (berkata-kata dan bersantap). Ruangnya bukan fisik, tetapi digital. Nilai yang disampaikan tetap sama: menjaga komunikasi dan kebersamaan. Sebuah kutipan dari petuah adat Lampung yang lebih umum, “Piil Pesenggiri” (harga diri yang dijunjung tinggi), kini juga diinterpretasikan sebagai tanggung jawab untuk tetap terhubung dengan keluarga dan adat di mana pun berada, dengan alat apa pun yang tersedia.
Inti yang Tak Tergantikan: Ngemikhi dan Nengah.
Di balik semua perubahan bentuk, dua prinsip inti tampaknya paling tangguh bertahan: Ngemikhi dan Nengah.
* Ngemikhi (memikirkan, memperhitungkan) adalah prinsip bahwa dalam menyiapkan dan menyantap makanan, kita harus memikirkan orang lain. Dulu, ini berarti menyisakan lauk untuk anggota keluarga yang pulang terlambat. Sekarang, ini bisa berarti memesan makanan ekstra via aplikasi untuk saudara yang sedang lembur, atau mengingatkan via pesan singkat untuk makan yang teratur. Esensinya adalah empati dan perhatian yang aktif.
* Nengah (tengah, seimbang) adalah prinsip moderasi dan keadilan. Di meja makan, ini berarti tidak mengambil lauk berlebihan, memperhatikan porsi orang lain. Dalam konteks generasi digital, prinsip nengah dimaknai sebagai kemampuan menyeimbangkan dunia digital dan fisik. Misalnya, menerapkan aturan “tanpa gawai” selama 30 menit pertama waktu makan malam, untuk memastikan adanya kontak mata dan percakapan nyata. Ini adalah adaptasi yang cerdas: menggunakan teknologi untuk memudahkan, tetapi juga membatasi dampaknya agar esensi kebersamaan tidak hilang.
Api di Dalam Rice Cooker.
Kisah Inai Rawayan dan Adi adalah alegori yang sempurna. Piring tembaga adalah simbol tradisi yang dalam, penuh dengan muatan filosofis dan historis. Piring plastik dan rice cooker adalah simbol modernitas yang praktis dan efisien.
Konfliknya hanya ada jika kita menganggap bahwa nilai hanya bisa hidup dalam wadah lama.
Filosofi makan dan kebersamaan masyarakat Lampung tidak terikat pada material tembaga atau asap kayu bakar. Ia terikat pada niat untuk berkumpul (mufuh mufah), untuk berbagi (ngemikhi), dan untuk bersikap adil (nengah). Nilai-nilai ini bersifat plastis, dalam arti yang positif, yaitu mampu dibentuk dan diwujudkan dalam konteks baru.
Generasi muda Lampung di era digital tidak meninggalkan tradisi. Mereka sedang memindahkan api dapur leluhur ke dalam rice cooker kehidupan modern.
Tantangannya adalah menjaga agar api itu tetap menyala, tetap menghangatkan, dan tetap menjadi pusat yang mempertemukan, sekalipun dapur yang dimiliki sekarang berukuran tiga meter persegi dan meja makannya juga berfungsi sebagai meja kerja. Selama masih ada upaya untuk, sesekali, mematikan layar dan menyalakan obrolan dari hati ke hati di atas sajian, sekalipun itu pizza pesan antar, maka inti dari Dari Lamban ke Meja Makan tetap hidup dan relevan.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Buku: Adaptasi Budaya Masyarakat Lampung di Perkotaan oleh Indra Wijaya, Penerbit Universitas Lampung Press, 2020. (Fisik/Digital).
2. Naskah Kuno: Kuntara Raja Niti, transliterasi oleh Hasanuddin, 1990. (Digital/Foto kopi naskah koleksi Museum Lampung).
3. Jurnal Penelitian: “Pergeseran Makna Ruang Makan pada Keluarga Muda Etnis Lampung di Bandar Lampung” oleh Rina Sari, dalam Jurnal Sosiohumaniora, Vol. 20, No. 2, 2018. (Digital/Terverifikasi).
4. Buku: Piil Pesenggiri: Etika Moral Masyarakat Lampung karya Akmaluddin dkk., Penerbit Ladang Kata, 2019. (Fisik).
5. Wawancara dan Observasi Lapangan: Dokumentasi wawancara dengan tokoh masyarakat dan keluarga muda Lampung di Kota Bandar Lampung, koleksi Pusat Dokumentasi Kebudayaan Lampung (PDKL), periode 2020-2022. (Digital/Terverifikasi oleh lembaga).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

