Wujudkan Laboratorium Toleransi, Banser Sumber Agung Kawal Khidmat Natal di Bawah Terik Mentari

nataragung.id – Sragi – Di bawah langit cerah yang memayungi Desa Sumber Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) kembali menunjukkan dedikasi tanpa batas. Dengan semangat membara yang tak luntur oleh terik matahari, empat personel Banser Ranting Sumber Agung tampak bersiaga penuh mengamankan jalannya ibadah Natal di sejumlah titik rumah ibadah, Kamis (25/12/2025).

Giat pengamanan yang dipimpin langsung oleh komandan lapangan Sahabat Rijal Muttaqin ini menyasar lokasi-lokasi strategis yang menjadi simbol harmoni desa. Personel Banser bersiaga di Gereja Kerasulan Baru (GKB) yang dipimpin oleh Pendeta Sugiatno, serta Gereja Panti Kosta (nama baru dari Gereja Katolik Stasi Hati Kudus Yesus) di bawah bimbingan spiritual Pastur Tomas. Kehadiran para pemuda berbaju doreng ini bukan sekadar rutinitas keamanan fisik, melainkan pengejawantahan dari visi besar yang sering didengungkan oleh Kepala Desa Sumber Agung, Bapak Ali Rohim.

Sebagai seorang kader Nahdlatul Ulama (NU), Ali Rohim dalam berbagai kesempatan sambutannya selalu menekankan cita-cita mulia untuk menjadikan desanya sebagai “Laboratorium Toleransi”. Baginya, keamanan dan kenyamanan setiap warga dalam menjalankan hak spiritualnya adalah fondasi utama pembangunan desa yang ia pimpin. Visi strategis ini pun disambut dengan penuh khidmat oleh pengurus struktural PAC GP Ansor Sragi di bawah pimpinan Mas Redo, S.Pd.

Secara kultural, masyarakat Sumber Agung memang sudah lama mempraktikkan toleransi yang bersifat timbal balik atau resiprokal. Ahmad, salah satu tokoh pemuda setempat, menceritakan betapa indahnya harmoni di desa tersebut; di mana saat umat Islam menggelar peringatan hari besar, warga dari lintas agama justru yang paling aktif membantu mengatur parkir dan menjaga ketertiban. Kehadiran Sahabat Rijal Muttaqin bersama personel Banser hari ini adalah bentuk balasan rasa kasih sayang dan persaudaraan tersebut.

Apresiasi mendalam pun mengalir dari Pendeta Sugiatno dan Pastur Thomas. Bagi mereka, sinergi yang terbangun antara pemerintah desa yang dipimpin kader NU, aparat TNI-Polri, serta militansi pemuda Ansor-Banser memberikan rasa aman yang tulus bagi jemaah. Apa yang terjadi di Sumber Agung membuktikan bahwa konsep Islam rahmatan lil alamin dapat mewujud nyata melalui kepemimpinan yang inklusif dan tindakan nyata di lapangan. Dengan menjaga gereja, Banser sejatinya sedang merawat tenun kebangsaan agar tetap utuh dan kokoh dari tingkat basis. (**)

Editor : Edi Sriyanto

Korupsi dan Frustasi Massal (Renungan akhir Tahun 2025). Oleh : Gunawan Handoko *)

nataragung.id – Bandar Lampung – BERITA TENTANG kasus korupsi sudah menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan ini. Masyarakat tidak terlalu terkejut ketika ada pejabat tinggi seperti kepala daerah, menteri, politisi, dan bahkan aparat penegak hukum ditangkap karena korupsi. Seolah korupsi sudah menjadi budaya dan wajib dilakukan oleh siapa saja yang memiliki peluang untuk melakukannya.
Pejabat yang tertangkap dianggap hanya sedang sial saja dan kurang hati-hati, karena apa yang mereka lakukan juga dilakukan pejabat di daerah lain.

Hal ini pula yang membuat pejabat yang tertangkap masih bisa tersenyum sambil melambaikan tangan yang terborgol, saat digelandang petugas masuk mobil tahanan. Anggapan ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah kehilangan kepercayaan terhadap sistem dan penegakan hukum. Frustasi ketika menyaksikan para pejabat yang sudah tidak pilih-pilih dalam melakukan korupsi, apakah itu uang suap, setoran proyek, bantuan sosial, bencana alam bahkan uang santunan bagi masyarakat miskin sekalipun yang angkanya bukan hanya miliaran, tapi hingga triliunan rupiah. Para pejabat menjadi gelap mata ketika melihat ada tumpukan uang yang disodorkan pihak penyuap. Masalah korupsi di Indonesia sudah mencapai tingkat yang sangat berbahaya, dan dapat menimbulkan frustasi massal bagi rakyat, terlebih terhadap aparat penegak hukum yang seharusnya menjadi contoh dalam penegakan hukum justru malah melanggarnya. Pada tahun 2011 lalu KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) pernah mengkampanyekan slogan Berani Jujur Hebat’, sebagai bentuk keseriusan KPK dalam menumpas tindak pidana korupsi sampai ke akar-akarnya.

Kampanye ini untuk mendorong masyarakat agar ikut membantu perjuangan KPK dalam melawan korupsi. Boleh jadi waktu itu KPK ingin menyampaikan pesan moral sekaligus memberi peringatan bagi mereka-mereka yang berpotensi melakukan korupsi. KPK juga ingin agar masyarakat dapat menyadari, memahami dan menerapkan sikap anti korupsi dalam kehidupan sehari-hari, karena sikap berani jujur sangat erat kaitannya dengan masalah moral dan integritas. Di masa-masa Pemilihan Umum, apakah Pemilu legislatif, pemilihan Presiden/Wakil Presiden maupun kepala daerah, masalah integritas paling nyaring diperdengarkan oleh para calon, meski tolok ukurnya sulit dipahami, atau justru sulit dijalankan. Semua calon berjanji akan menjalankan amanah rakyat dengan baik, jujur dan tidak akan melakukan korupsi. Para pengamat dan ahli hukum sering mengaitkan kasus korupsi dan tindakan tidak terpuji lainnya dengan integritas dan moral. Dalam melakukan penjaringan bakal calon Presiden/Wakil Presiden, bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon anggota legislatif, partai politik juga mensyaratkan sosok atau figur yang memiliki integritas, walaupun kita sering menyaksikan praktik-praktik yang tidak sejalan dengan pemahaman integritas. Upaya untuk menarik simpati publik tidak cukup hanya dengan paham saja, karena yang dinantikan rakyat adalah jujur dalam perkataan dan perbuatan, bukan hanya pandai dalam berkata-kata.

Memang, kualitas seseorang dapat di ukur sejauh mana dirinya berani jujur dan memiliki prinsip moral yang kuat dalam menjunjung tinggi kebenaran, serta konsisten dalam perkataan dan perbuatannya. Tapi pada kenyataannya banyak orang yang kehilangan idealisme dalam menjunjung tinggi integritas dan moral, ketika mendapat tekanan atau godaan yang hadir di depan mata. Yang namanya godaan tidak mengenal dimana kita beraktivitas, bisa saja di birokrasi pemerintahan, legislatif, yudikatif, perusahaan dan lainnya, termasuk di partai politik. Bahkan tidak sedikit orang yang menjadikan partai politik sebagai sumber mata pencaharian. Lantas orang rame-rame terjun ke partai politik meski sesungguhnya dirinya tidak paham, bahkan buta tentang politik. Lalu, bagaimana cara melawannya? Ini bukan soal matematika yang ada formula untuk menjawabnya. Ini erat kaitannya dengan bagaimana kita mau melatih untuk lebih peka mendengar hati nurani dan merefleksi kembali nilai atau prinsip apa yang ingin kita pegang dalam hidup ini. Kalau cara berpikir hanya untuk mencari kekayaan atau untuk menyenangi keluarga dan melayani pihak-pihak tertentu, dengan mengorbankan kepentingan yang lebih besar, maka bisa jadi ini awal di mana kita mempertaruhkan integritas pribadi. Berani patuh bukan kepada pihak atau kelompok tertentu, melainkan patuh terhadap aturan dan nilai prinsip kebaikan dan kebenaran yang kita anut. Berani untuk berkata ya bila itu memang baik dan benar, serta berani untuk berkata tidak apabila memang itu tidak sesuai dengan hati nurani.

Pertanyaannya adalah, beranikah kita jujur terhadap diri sendiri, atau perilaku semacam ini yang akan diwariskan kepada anak cucu kelak? Banggakah kita jika kelak anak cucu melihat profil kita bukan dalam deretan orang yang memegang teguh integritas dan moral, melainkan menjadi orang yang pernah berkuasa dan memperjualbelikan nilai integritas? Pasca tumbangnya rezim Orde Baru tahun 1998, semua berharap bahwa pemerintahan akan berjalan demokratis dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Namun yang terjadi justru sebaliknya, korupsi tumbuh semakin subur dan merata di semua lini. Andai saja korupsi hanya dilakukan secara perorangan, tentu dampak yang ditimbulkan tidak terlalu besar. Tetapi korupsi yang terjadi berlangsung secara berjamaah, sehingga kerugian negara menjadi sangat besar.
Frustasi masyarakat semakin membesar ketika para pegawai KPK yang memiliki integritas dipaksa untuk keluar secara halus dan diberhentikan dengan hormat. Sehingga muncul slogan baru versi masyarakat yang frustasi, yakni Berani Jujur, Pecat. Di sisi lain, kalangan elite kita sibuk memanfaatkan hukum sebagai tameng untuk bersembunyi dari perbuatan tercelanya. Para koruptor yang terlanjur ditetapkan menjadi terpidana tidak perlu gusar, karena ada upaya keras dari Pemerintah untuk memberi remisi. Rasanya hanya orang yang gila beneran yang tidak frustrasi menyaksikan hal-hal semacam ini terjadi di depan mata. Situasi saat ini benar-benar karut marut, baik dalam penanganan korupsi, politik dan hukum.

Dalam sejarah pergerakan bangsa, frustasi massal akan melahirkan gerakan perlawanan, cepat atau lambat. Perlawanan publik tidak mesti harus melalui demonstrasi atau aksi massa yang hanya terlihat heboh di halaman media. Bisa saja rakyat melakukan boikot terhadap pelaksanaan Pemilu Serentak pada 2029 nanti apabila calon-calon yang di usung partai politik terindikasi korup atau hasil dari kekuatan politik oligarki. Boleh jadi tulisan ini hanya sebuah pemikiran konyol yang lahir dari rasa frustrasi seorang anak bangsa yang mendambakan sebuah negeri bebas korupsi.
Semoga tahun 2026 nanti Indonesia menjadi negara yang bersih dari korupsi, dengan pemimpin yang berintegritas. (**).

*) Pengamat kebijakan publik PUSKAP (Pusat Pengkajian Etika Politik dan Pemerintahan), tinggal di Bandar Lampung

Episentrum Sanad Tremas Dalam Arus Modernitas Jati Agung. Oleh: Edi Sriyanto *)

nataragung.id – Sidomulyo – Di tengah arus modernitas yang kian menderu, Pondok Pesantren Bahrul Ulum berdiri sebagai sebuah mercusuar yang memadukan kedalaman tradisi klasik dengan progresivitas zaman. Saya, yang sempat menyerap langsung atmosfer spiritual pesantren ini selama lima hari penuh (19-23 Desember 2021), mendapati bahwa Bahrul Ulum bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan sebuah laboratorium peradaban di mana sanad keilmuan luhur bertemu dengan totalitas pengabdian organisatoris.

Eksistensi Bahrul Ulum yang dipelopori oleh Kiai Abdul Aziz Attarmasi sejak tahun 2010 adalah sebuah fenomena “transplantasi” keberkahan dari tanah Jawa ke tanah Sumatera. Sebagai putra ideologis Pondok Tremas, Pacitan, Kiai Aziz mengemban amanah besar untuk melestarikan sanad yang bersambung langsung kepada Musnidud Dunya, Syekh Mahfudz At-Tarmasi. Identitas “Attarmasi” bukan sekadar atribut, melainkan jaminan bahwa kurikulum yang diajarkan mulai dari pendalaman Ilmu Alat (Nahwu, Shorof, Balaghah) hingga penguasaan kitab-kitab Fiqih Syafi’iyah dan Madzahibul Arba’ah memiliki akar yang menghujam ke dasar tradisi keilmuan Islam yang otentik.

Kematangan Bahrul Ulum hari ini adalah cerminan dari ketekunan pengasuhnya dalam berkhidmat di jam’iyyah Nahdlatul Ulama melalui jalur organik. Kiai Aziz adalah potret langka seorang ulama yang menapaki tangga organisasi dari level paling dasar: Ketua Ranting NU (2004-2009), menjadi Wk Ketua MWCNU Jati Agung (2009-2014) memimpin MWCNU Jati Agung masa khidmat (2014-2019), hingga dipercaya sebagai nakhoda LDNU Lampung Selatan (2019-2024). Kini, amanah sebagai Wakil Ketua PCNU Lampung Selatan periode 2024-2029 dipikulnya sebagai bagian dari tanggung jawab struktural yang lebih luas.

Lebih dari sekadar jabatan, dedikasi beliau sebagai Instruktur PD PKPNU Wilayah Lampung menegaskan posisi Bahrul Ulum sebagai episentrum kaderisasi penggerak NU. Hal ini terbukti secara empiris saat pesantren ini dipercaya menjadi tuan rumah PKPNU Edisi Khusus Muktamar PCNU Lampung Selatan di tengah perhelatan besar Muktamar ke-34 lalu. Di bawah asuhan seorang instruktur wilayah, Bahrul Ulum menjelma menjadi kawah candradimuka di mana ideologi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah dikristalisasi dalam diri para kader.

Filosofi pendidikan di Bahrul Ulum berpijak pada kaidah al-muhafazhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Di satu sisi, pesantren ini begitu ortodoks dalam menjaga kemurnian kitab kuning; di sisi lain, ia begitu progresif dengan kehadiran Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) bidang Desain Grafis. Kiai Aziz sangat menyadari bahwa santri hari ini harus memiliki kompetensi “ilmu kekinian” untuk menjawab tantangan dunia kerja dan mengisi ruang digital dengan narasi dakwah yang beradab.

Kemandirian ini juga tercermin dalam ikhtiar fisik melalui pembangunan Masjid At-Taufiq dengan estimasi dana Rp 750.000.000. Masjid ini diproyeksikan bukan hanya sebagai pusat ibadah bagi 120 santri mukim yang datang dari Lampung, Sumatera Selatan, hingga Bengkulu, melainkan sebagai monumen gotong royong umat dalam menjaga masa depan peradaban Islam di Sumatera.

Setelah satu setengah dasawarsa berkhidmat, Bahrul Ulum telah membuktikan bahwa keberhasilan sebuah pesantren tidak hanya diukur dari megahnya bangunan, melainkan dari konsistensi menjaga sanad keilmuan dan keteguhan dalam berkhidmat kepada umat dan organisasi. Di bawah asuhan Kiai Abdul Aziz Attarmasi, Bahrul Ulum terus melangkah, memastikan bahwa cahaya ilmu dari lembah Tremas akan terus bersinar terang, melahirkan generasi yang tidak hanya alim secara intelektual, tetapi juga sholih secara sosial dan amil dalam pengabdian.
Tabik.

*) Penulis Adalah : Aktivis PCNU Kabupaten Lampung Selatan, tinggal di Sidomulyo – Lampung Selatan.

Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 7: Dibawah Pepadun, Makna Sesajian dalam Pelantikan Penyimbang. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Pada zaman ketika Bukit Barisan masih muda dan sungai Way Komering berbicara dengan gemericik penuh rahasia, hiduplah seorang pemuda bernama Ratu Dipangara. Ia bukan bangsawan, tetapi anak rimba yang bijak, pemberani, dan dihormati binatang buas. Suatu ketika, wabah melanda kampung-kampung di sepanjang sungai. Tanaman layu, hewan ternak mati, dan orang-orang sakit tanpa sebab yang jelas. Para tetua dan penyimbang lama telah kehabisan akal.

Ratu Dipangara kemudian bertapa di puncak Gunung Dahek. Di sana, ia mendapatkan wangsit: untuk menyelamatkan rakyat, ia harus mengumpulkan hasil bumi terbaik dari tujuh bukit dan tujuh lembah, menyusunnya dalam sebuah wadah bambu, dan mempersembahkannya di bawah sebatang pohon beringin tua sambil memanggil roh leluhur pelindung.

Ia pun melakukannya.
Dengan susah payah, ia mengumpulkan padi huma, ikan jurung, buah-buahan hutan, dan rempah-rempah. Saat sesaji dipersembahkan, angin berhembus lembut membawa kabar. Keesokan harinya, hujan turun, tanah subur kembali, dan wabah sirna. Sebagai tanda terima kasih dan pengakuan, seluruh masyarakat adat mengangkat Ratu Dipangara menjadi Penyimbang Adat pertama.
Prosesi pengangkatannya diabadikan dalam sebuah pepadun, dan ritual sesaji yang ia lakukan menjadi inti dari setiap pelantikan penyimbang setelahnya. Inilah asal-muasal filosofi bahwa seorang pemimpin sejati haruslah sanggup merangkum dan mempersembahkan kembali seluruh kekuatan dan harapan masyarakatnya.

Pepadun dan Penyimbang – Pilar Kosmos Masyarakat Adat Lampung.

Pepadun bukan sekadar singgasana. Ia adalah miniatur kosmos, representasi dunia yang tertata. Menurut manuskrip kuno Kuntara Raja Niti yang berasal dari era Kerajaan Sekala Brak, disebutkan: “Pepadun itu bagai gunung yang tegak, alasnya bumi, payungnya langit, yang duduk di tengahnya adalah penyambung antara keduanya.”

Analisis terhadap kutipan ini mengungkap pandangan dunia (worldview) hierarkis namun harmonis. Penyimbang yang akan dilantik tidak diletakkan di ‘atas’, melainkan di ‘tengah’—menjadi poros, penghubung, dan penjaga keseimbangan antara alam bawah (bumi/tanah, rakyat) dan alam atas (langit/ilahi, leluhur).

Pelantikan penyimbang atau Cakak Pepadun adalah peristiwa paling sakral dalam siklus kehidupan adat Lampung, khususnya bagi masyarakat beradat Pepadun.

Prosesi ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi sebuah regenerasi spiritual seluruh komunitas. Penyimbang yang baru akan menjadi Jukuk Pemangkut, tiang penyangga utama rumah adat (lamban) masyarakat.

Legenda Ratu Dipangara menjadi mitos pendiri yang menegaskan bahwa legitimasi seorang penyimbang datang dari kemampuannya menyelesaikan krisis dan keberhasilannya ‘berkomunikasi’ dengan dimensi lain melalui medium yang tepat: sesajian.

Dekonstruksi Sesajian – Simbolisme dalam Setiap Unsur.

Sesaji dalam Cakak Pepadun bukanlah ‘makanan leluhur’ dalam pengertian harfiah. Ia adalah bahasa simbol, sebuah narasi visual yang menjelaskan tugas, tanggung jawab, dan harapan kepada penyimbang yang baru. Setiap item dipilih dengan ketat berdasarkan filosofinya.
1. Padi dan Beras (Beghi/Pukek): Merupakan dasar dari hampir semua sesaji. Padi melambangkan kemakmuran, kehidupan, dan hasil bumi. Dalam prosesi, beras sering ditaburkan di sekitar pepadun. Ini adalah simbol dari harapan agar sang penyimbang mampu menjadi sumber kehidupan dan mengelola kemakmuran bagi seluruh anak kemanakannya. Sebuah pantun adat menyebut: “Beras di saji, tujuannya satu, yang duduk di pepadun mengayomi semua.” Beras adalah metafora untuk rakyat—banyak tetapi satu kesatuan, dan penyimbang harus mampu ‘memelihara’ setiap butirnya.
2. Ayam (Hayam), Telur, dan Ikan: Ayam jago yang sehat, biasanya berwarna cerah, melambangkan kewaspadaan, keberanian, dan kesiapan. Penyimbang harus seperti ayam jago yang selalu terjaga di tengah malam, siap melindungi wilayahnya. Telur, terutama yang utuh, melambangkan kesempurnaan, awal yang baru, dan potensi kehidupan. Ikan, khususnya ikan sungai segar, melambangkan kelincahan, kebijaksanaan, dan kesuburan. Ketiganya bersama-sama merepresentasikan sumber protein—yakni kekuatan dan kesehatan—yang harus dijaga oleh pemimpin.
3. Air (Way), Tuak, dan Kopi: Air putih jernih dalam kendi tembikar melambangkan kesucian niat dan kelancaran rezeki. Tuak (minuman tradisional) yang difermentasi melambangkan kearifan lokal, kebersamaan, dan juga peringatan akan bahaya jika berlebihan. Kopi pahit melambangkan keteguhan dan kesiapan menelan pahitnya tanggung jawab. Minuman-minuman ini menggambarkan spektrum pengalaman yang akan dihadapi penyimbang: dari yang murni, yang mengikat kebersamaan, hingga yang pahit untuk dijalani.
4. Kain (Kain Tapis), Benang, dan Sirih-Pinang: Kain Tapis, tenunan bermotif emas, adalah simbol martabat, kebudayaan, dan kehalusan budi. Ia melambangkan ‘pakaian’ atau identitas masyarakat yang harus dijaga. Benang putih melambangkan ikatan dan kesinambungan yang harus dipintal dengan kuat. Sirih, pinang, kapur, dan gambir dalam cerana (Tepak) adalah simbol persatuan. Unsur-unsur yang berbeda ini, ketika dikunyah bersama, menghasilkan warna merah yang menyatu. Ini adalah pesan kuat tentang peran penyimbang sebagai perekat berbagai perbedaan dalam masyarakat.

Prosesi dan Filosofi Penyajian – Ritual sebagai Narasi
Ritual penyajian tidak dilakukan secara sembarangan. Urutannya membentuk sebuah alur cerita.
* Tahap Persiapan (Ngemati): Bahan-bahan dikumpulkan dari berbagai keluarga, bukan hanya dari calon penyimbang. Ini menegaskan bahwa sesaji ini adalah representasi kolektif. Penyiapan dilakukan dengan khidmat, seringkali diiringi zikir atau mantra (pengasih) agar memiliki ‘nyawa’ spiritual.
* Tahap Penataan (Nengah): Sesaji ditata di atas Tikou (tikar khusus) di hadapan atau di sekitar Pepadun. Penataan biasanya melingkar atau sesuai arah mata angin, melambangkan kesempurnaan dan cakupan yang menyeluruh. Proses ini disebut “ngedok ni ulun, ngedok ni alam” yang artinya ‘menata hati, menata alam’. Saat menata, sang calon penyimbang diamati—apakah ia tenang, hormat, dan paham makna di balik setiap benda.
* Tahap Persembahan dan Doa (Pepancak): Dipimpin oleh penyimbang tertua atau pemangku adat (Punyimbang Tuha), doa-doa dipanjatkan dalam bahasa Lampung kuno. Salah satu doa inti yang tercatat dalam naskah Piil Pesenggiri berbunyi: “Dewa Sai, tua sai, kunun sai. Sang Bumi, Sang Langit, saintekha ni ulun punya pekukuah…” yang kira-kira berarti: “Kekuatan dari yang Esa, dari leluhur, dari alam. Semuanya terkumpul dalam diri pemimpin ini…” Doa ini adalah pemakluman kepada alam dan leluhur tentang penerus yang sah. Setelah doa, sebagian kecil sesaji mungkin dibakar (dipersembahkan ke alam halus) atau dibuang ke sungai (dikembalikan ke alam), sementara sisanya akan dinikmati bersama dalam jamuan besar.
* Tahap Penyatuan (Makan Bersama): Inilah klimaks filosofis. Sesaji yang telah ‘diberkahi’ melalui doa kemudian diolah dan disantap bersama-sama oleh seluruh undangan. Di sinilah terjadi transformasi dari yang sakral kembali ke yang profan, dari simbol menjadi tenaga dan kebersamaan yang nyata. Penyimbang yang baru, setelah ‘disahkan’ oleh leluhur dan alam melalui sesaji, kini membagikan kekuatan itu kembali kepada rakyatnya melalui hidangan. Ia tidak memakannya sendirian, tetapi memastikan semua kebagian. Filosofi “nyaman, nyimah, ngakukugh” (enak, cukup, dan mengenyangkan) harus terwujud di meja makan ini.

Sesaji sebagai Jembatan Abadi
Ritual sesaji dalam Cakak Pepadun adalah teks hidup yang dibaca ulang setiap generasi. Ia adalah jembatan tiga arah: menghubungkan manusia dengan leluhur (sejarah dan tradisi), manusia dengan alam (sumber kehidupan), dan manusia dengan manusia lainnya (solidaritas sosial). Setiap butir beras, setiap helai kain tapis, dan setiap tetes air dalam sesaji berbisik tentang tanggung jawab seorang penyimbang.
Dari lamban (rumah adat) tempat sesaji disiapkan, ke meja makan di mana seluruh masyarakat menyantapnya, terciptalah sebuah siklus lengkap. Kepemimpinan yang sah dan bermartabat, menurut adat Lampung, adalah yang lahir dari pengakuan alam dan leluhur, dirayakan dengan simbol-simbol yang penuh makna, dan diwujudkan dalam tindakan nyata: kebersamaan dan keadilan di meja makan. Dibawah Pepadun yang megah, sesaji yang sederhana mengajarkan bahwa pemimpin sejati adalah pelayan yang menghubungkan, merawat, dan membagikan setiap berkah dari tanah yang dipijaknya.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Buku: Adat Istiadat Daerah Lampung, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978. (Fisik/Perpustakaan Nasional).
2. Naskah Kuno: Kuntara Raja Niti, transkripsi dan terjemahan Hasanuddin, 1990. (Digital/Foto kopi naskah koleksi Museum Lampung).
3. Buku: Pepadun: Martabat Orang Lampung karya Iwan Nurdaya Djafar, Penerbit Aura, 2007. (Fisik).
4. Transkrip Wawancara & Dokumentasi Lapangan: Arsip Pusat Dokumentasi Kebudayaan Lampung (PDKL) mengenai prosesi Cakak Pepadun di Kabupaten Way Kanan dan Tulang Bawang, 2015-2019. (Digital/Terverifikasi oleh lembaga).
5. Buku: Makanan dalam Upacara Adat Lampung oleh Rina Sari, Penerbit Universitas Lampung Press, 2012. (Fisik/Digital).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

KHUTBAH JUM’AT : Muhasabah Akhir Tahun: Memetik Hikmah Perjalanan 2025 dengan Sabar dan Syukur. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id – Pemanggilan – Saat ini kita berada di penghujung tahun 2025, sebuah momentum penting untuk melakukan muhasabah, yakni mengoreksi dan mengevaluasi perjalanan hidup, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa. Pada kesempatan Khutbah Jum’at kali ini khatib akan membawakan Khutbah yang berjudul “Muhasabah Akhir Tahun: Memetik Hikmah Perjalanan 2025 dengan Sabar dan Syukur.

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَّهْدِهِ اللّٰهُ فَahi مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Al-ḥamdu lillāhi naḥmaduhū wa nasta‘īnuhū wa nastaghfiruhū, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā. Man yahdihillāhu fa lā muḍilla lah, wa man yuḍlil fa lā hādiya lah. Asyhadu allā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad.

أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Uṣīkum wa iyyāya bitaqwāllāh, faqad fāzal-muttaqūn.

Aku wasiatkan kepada kalian dan diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah, karena sungguh orang-orang yang bertakwa itulah orang-orang yang beruntung.

Shalawat teriring salam kita sanjungkan kepada junjungan kita Baginda Nabi Besar Muhammad SAW, yang kita harapkan syafaatnya di yaumil akhir nanti. Aamiin Ya Rabbal Aalamiin

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Kita berada di penghujung tahun 2025, sebuah momentum penting untuk melakukan muhasabah, yakni mengoreksi dan mengevaluasi perjalanan hidup, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa.

Allah SWT mengingatkan bahwa waktu adalah amanah:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Wal-‘aṣr. Innal-insāna lafī khusr.

Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. (QS. Al-‘Ashr: 1–2)

Kerugian yang dimaksud bukan hanya kerugian materi, tetapi mencakup kerugian spiritual ketika waktu berlalu tanpa peningkatan iman dan amal saleh.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Sepanjang tahun 2025, bangsa Indonesia menghadapi berbagai peristiwa, antara lain:
– Bencana alam di sejumlah wilayah berupa banjir, longsor, dan kekeringan

– Tantangan ekonomi, meningkatnya biaya hidup, dan keterbatasan lapangan kerja

– Dinamika sosial dan politik yang menguji persatuan dan kedewasaan bangsa

Semua peristiwa tersebut merupakan ujian dari Allah SWT agar kita kembali memperkuat iman, kesabaran, dan solidaritas sosial. Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Wa lanabluwannakum bisyai`im minal-khaufi wal-jū‘i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi wats-tsamarāt, wa basysyiris-ṣābirīn.

Sungguh Kami akan menguji kamu dengan rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan hasil. Dan sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah: 155)

Sabar bukanlah sikap pasrah tanpa usaha, tetapi keteguhan hati untuk tetap taat kepada Allah, terus berikhtiar, dan tidak berputus asa.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

Wa mā u‘ṭiya aḥadun ‘aṭā`an khairan wa awsa‘a minaṣ-ṣabr.

Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran. (HR. Bukhari dan Muslim)

Jamaah rahimakumullah,

Di tengah berbagai ujian, Allah SWT masih menganugerahkan nikmat yang tidak ternilai, yaitu iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan untuk bertobat. Allah berfirman:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

La`in syakartum la-azīdannakum.

Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.(QS. Ibrahim: 7)

Syukur harus diwujudkan dalam ketaatan beribadah,
kepedulian sosial,
menjaga persatuan dan kedamaian bangsa. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

Al-kayyisu man dāna nafsahū wa ‘amila limā ba‘dal-maut.

Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.
(HR. Tirmidzi)

Sebelum tahun ini ditutup:
– Sudahkah shalat kita lebih baik?

– Sudahkah lisan kita lebih terjaga?

– Sudahkah dosa kita lebih sedikit?

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jumat rahimakumullah

Demikianlah khutbah singkat pada hari Jumat yang mulia dan penuh berkah ini. Semoga apa yang telah Khotib sampaikan bisa dijadikan pegangan bagi kita dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia yang fana’ ini. Aamiin ya Rabbal Aalamiin.

بارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Bārakallāhu lī wa lakum fīl-Qur’ānil-‘aẓīm, wa nafa‘anī wa iyyākum bimā fīhi minal-āyāti wadz-dzikril-ḥakīm, wa taqabbalallāhu minnī wa minkum tilāwatahu, innahu huwa-s-samī‘ul-‘alīm. Aqūlu qawlī hādzā wa astaghfirullāhal-‘aẓīma lī wa lakum wa lisā’iril-muslimīn min kulli dzanbin, fastaghfirūh, innahu huwa al-Ghafūru ar-Raḥīm…

KHUTBAH JUM’AT KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Alhamdu lillāhi ḥamdan katsīran ṭayyiban mubārakan fīh, kamā yuḥibbu rabbunā wa yardhā. Asyhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā nabiyyinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ الْمُتَّقِينَ، وَنُورُ السَّالِكِينَ، وَوَصِيَّةُ رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Uuṣīkum ‘ibādallāh wa nafsī bitaqwāllāh, fa innahā zādal-muttaqīn, wa nūrus-sālikīn, wa waṣiyyatu rasūli rabbil-‘ālamīn. Fattaqullāha ḥaqqa tuqātih, wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا، وَارْفَعِ الْبَلَاءَ عَنَّا وَعَنْ بِلَادِنَا.

Allāhumma ighfir lil-mu’minīna wal-mu’mināt, wal-muslimīna wal-muslimāt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt. Allāhumma ṭahhir qulūbanā, wa aṣliḥ aḥwālanā, wa bārik lanā fī a‘mārinā wa arzāqinā, wa rfa‘il-balā’a ‘annā wa ‘an bilādinā.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَارْزُقْنَا صِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ، وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ، وَلُزُومَ طَاعَتِكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ.

Allāhumma ij‘alnā min ‘ibādikas-ṣāliḥīn, warzuqnā ṣidqat-tawakkuli ‘alaik, wa ḥusnaẓ-ẓanni bik, wa luzūma ṭā‘atika fis-sirri wal-‘alan. Yā muqallibal-qulūb tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa yā muṣarrifal-qulūb ṣarrif qulūbanā ilā ṭā‘atik.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَاجْعَلْهُمْ رُحَمَاءَ بِالرَّعِيَّةِ، قُوَّامًا بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ.

Allāhumma aṣliḥ wulāta umūrinā, wa waffiqhum limā fīhi ṣalāḥud-dīn wad-dunyā, waj‘alhum ruḥamā’a bir-ra‘iyyah, quwwāman bil-ḥaqqi wal-‘adl.

اَللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Allāhumma ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirah ḥasanah, wa qinā ‘adzāban-nār.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

‘Ibādallāh, innallāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhil-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy. Ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn. Fa dzkurullāha yadzkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Edo Saputra Wijaya Ucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru 2026, Gaungkan Damai, Persatuan, dan Harapan Baru bagi Lampung Selatan

nataragung.id, Lampung Selatan — Momentum perayaan Hari Raya Natal dan pergantian Tahun Baru 2026 menjadi ruang refleksi penting bagi seluruh elemen bangsa. Menyikapi hal tersebut, Sekretaris Fraksi Partai Gerindra DPRD Lampung Selatan, Edo Saputra Wijaya, SH, MH, menyampaikan ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani serta harapan terbaik menyambut Tahun Baru 2026 bagi seluruh masyarakat Lampung Selatan.

Dalam keterangannya kepada tim redaksi nataragung.id, Edo menyampaikan bahwa Natal merupakan simbol lahirnya harapan, cinta kasih, dan semangat pengorbanan yang harus terus hidup dalam denyut kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sementara pergantian tahun menjadi titik awal untuk memperbarui komitmen bersama dalam menjaga persatuan dan membangun daerah yang lebih baik.

“Saya mengucapkan Selamat Hari Natal bagi saudara-saudara umat Kristiani. Semoga damai Natal senantiasa hadir di setiap keluarga, menumbuhkan cinta kasih, ketulusan, serta mempererat persaudaraan di tengah keberagaman. Selamat menyongsong Tahun Baru 2026, semoga menjadi tahun yang penuh harapan, keberkahan, dan kemajuan bagi kita semua,” ujar Edo, akhir Desember 2025.

Edo menegaskan bahwa keberagaman agama, budaya, dan latar belakang sosial merupakan kekuatan utama bangsa Indonesia, termasuk di Lampung Selatan. Menurutnya, nilai-nilai toleransi dan saling menghormati harus terus dirawat agar kehidupan bermasyarakat tetap harmonis dan damai.

Sebagai Sekretaris Fraksi Partai Gerindra DPRD Lampung Selatan, Edo menilai stabilitas sosial dan persatuan masyarakat menjadi fondasi utama dalam mendorong pembangunan daerah. Tanpa kebersamaan, kata dia, setiap program dan kebijakan tidak akan berjalan optimal.

“Natal mengajarkan kita tentang kasih tanpa batas dan kepedulian terhadap sesama. Nilai inilah yang harus kita rawat bersama agar Lampung Selatan tetap menjadi rumah yang nyaman bagi semua, tanpa memandang perbedaan,” ungkapnya.

Tak hanya sebagai legislator, Edo juga dikenal luas sebagai Ketua DPW Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Provinsi Lampung. Dalam peran tersebut, ia kerap bersentuhan langsung dengan kerja-kerja kemanusiaan, kebencanaan, serta komunikasi sosial di tengah masyarakat. Pengalaman itu, menurut Edo, semakin menguatkan keyakinannya bahwa solidaritas dan kolaborasi adalah kunci menghadapi berbagai tantangan zaman.

Ia menambahkan, Tahun Baru 2026 harus dimaknai sebagai momentum evaluasi dan kebangkitan semangat baru, baik bagi pemerintah, wakil rakyat, maupun masyarakat secara keseluruhan. Tantangan pembangunan, dinamika sosial, hingga persoalan ekonomi membutuhkan sinergi dan kesadaran kolektif.

“Mari kita jadikan Tahun Baru 2026 sebagai lembaran baru untuk memperkuat persaudaraan, meningkatkan kepedulian sosial, serta berkontribusi nyata bagi kemajuan Lampung Selatan dan Indonesia,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Edo Saputra Wijaya mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kondusivitas wilayah selama perayaan Natal dan Tahun Baru, serta menumbuhkan semangat gotong royong sebagai warisan luhur bangsa.

Dengan penuh optimisme, ia berharap damai Natal dan semangat Tahun Baru 2026 mampu menjadi cahaya penuntun menuju Lampung Selatan yang lebih maju, sejahtera, dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Editor  : Muhammad Arya

​DPD LPM Lampung Salurkan Bantuan untuk Mahasiswa Unila Terdampak Bencana

nataragung.id – Bandar Lampung – Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (DPD LPM) Provinsi Lampung menunjukkan aksi kemanusiaan nyata dengan menyalurkan bantuan kepada mahasiswa Universitas Lampung (Unila) yang terdampak bencana alam. Penyerahan santunan tersebut berlangsung khidmat di Ruang Rektorat Universitas Lampung pada Rabu, (24/12/2025)

​Aksi ini merupakan bentuk empati mendalam atas musibah banjir bandang dan tanah longsor yang baru-baru ini melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh, Sumatera Utara (Medan), dan Sumatera Barat (Padang).

Kehadiran rombongan DPD LPM Lampung disambut hangat oleh Rektor Unila, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng.

​Sebanyak sepuluh mahasiswa Unila yang keluarganya menjadi korban bencana di tiga provinsi tersebut menerima bantuan berupa uang saku tunai dan buku empat pilar dari MPR.

Bantuan ini bertujuan untuk meringankan beban ekonomi mahasiswa agar mereka dapat tetap fokus menempuh pendidikan di tengah ujian yang menimpa kampung halaman mereka.

​Ketua DPD LPM Provinsi Lampung, Drs. H. Ahmad Bastian SY, memimpin langsung delegasi tersebut. Ia didampingi oleh Sekretaris DPD LPM Lampung, Ali Sopyan, S.H., serta Ketua Bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (OKK), Dr. Topan Indrakarsa, S.H., M.H.

Turut hadir pula para pengurus daerah lainnya, termasuk Ketua LPM Kota Bandar Lampung, Busroni, S.H., M.H., dan Ketua LPM Lampung Timur, Usman, Wakil Sekretaris LPM Lampung, Arista dan Faanjir Zarami serta Tenaga Ahli Ketua, Dhanily A.S.P., S.H.

Dalam arahannya, Ahmad Bastian menekankan bahwa mahasiswa adalah bagian tidak terpisahkan dari masyarakat yang wajib mendapatkan perlindungan.

​”Musibah di Aceh, Medan, dan Padang adalah duka bagi kita semua. Kami ingin memastikan bahwa adik-adik mahasiswa yang menimba ilmu di Lampung merasa didukung. Jangan sampai semangat belajar kalian patah akibat bencana ini,” pesan Ahmad Bastian dengan penuh empati

​Senada dengan hal itu, Dr. Topan Indrakarsa memberikan catatan penting mengenai aspek mental dan masa depan para mahasiswa. Beliau menyoroti bahwa bantuan ini bukan sekadar soal materi, melainkan soal menjaga api semangat belajar agar tetap menyala.

​”Kami menyadari bahwa bencana di kampung halaman seringkali mengguncang fokus dan psikologis mahasiswa perantau. Kehadiran kami di sini adalah untuk memastikan stabilitas emosional mereka tetap terjaga. Kami ingin mereka merasa memiliki keluarga besar di Lampung yang siap mendukung hingga mereka meraih gelar sarjana. Pendidikan mereka tidak boleh terhenti karena keadaan ini,” tegas Dr. Topan.

​Sementara itu, Sekretaris DPD LPM Lampung, Ali Sopian, S.H, M.H, C.PM., menambahkan bahwa aksi ini merupakan bagian dari implementasi peran LPM dalam memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat.

Menurutnya, gerakan ini adalah bentuk respons cepat organisasi terhadap situasi darurat yang dialami oleh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa.

​”LPM hadir bukan hanya untuk pembangunan fisik di desa-desa, tapi juga pembangunan kemanusiaan. Kami ingin menanamkan keyakinan kepada adik-adik mahasiswa bahwa solidaritas tidak mengenal batas wilayah. Selama mereka menuntut ilmu di Lampung, maka mereka adalah tanggung jawab moral kami juga,” ujar Ali Sopyan.

​Menanggapi kepedulian tersebut, Rektor Unila, Prof. Lusmeilia Afriani, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran pengurus LPM Lampung. Ia menilai inisiatif ini sebagai teladan luar biasa mengenai bagaimana organisasi kemasyarakatan dapat bersinergi dengan dunia pendidikan untuk memberikan dampak langsung.

​”Kami sangat terharu dan bangga atas inisiatif DPD LPM Lampung. Bantuan ini bukan sekadar nilai materinya, melainkan pesan kuat bahwa mahasiswa kami tidak berjuang sendirian di perantauan,” ujar Prof. Lusmeilia.

​Diana, salah satu mahasiswa asal Medan yang menjadi penerima manfaat, tidak dapat menyembunyikan rasa harunya. Dengan mata berkaca-caca, ia mengungkapkan rasa syukur atas kepedulian DPD LPM Lampung dan pihak rektorat.

​”Dukungan ini sangat berarti bagi kami. Hal ini membuktikan bahwa di Lampung, kami tidak sendirian. Kami merasa memiliki keluarga yang peduli pada kondisi kami dan keluarga kami di Sumatera Utara,” ucap Diana lirih.

​Kegiatan yang berlangsung penuh kekeluargaan ini ditutup dengan sesi ramah tamah yang mempererat silaturahmi antara pengurus LPM, jajaran rektorat, serta para mahasiswa terdampak. (SMh)

Kado Akhir Tahun Penuh Haru: 5.792 Honorer Resmi Jadi PPPK Paruh Waktu, Bupati Egi Dorong Birokrasi “Betik” di Lampung Selatan

nataragung.id – Kalianda – Suasana bahagia dan haru menyelimuti Lapangan Radin Inten, Kalianda, Rabu (24/12/2025), saat 5.792 tenaga non-Aparatur Sipil Negara (ASN) menerima Surat Keputusan (SK) Bupati Lampung Selatan tentang Pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu.

Senyum lega dan air mata syukur tampak di wajah para penerima SK yang telah menanti pengakuan status kerja selama belasan bahkan puluhan tahun.

Bagi para tenaga non-ASN tersebut, penyerahan SK bukan sekadar seremoni administratif, melainkan awal baru setelah masa pengabdian panjang yang penuh ketidakpastian.

Di wajah-wajah mereka tergambar kelegaan, kebanggaan, dan rasa syukur yang sulit disembunyikan, sebuah kado akhir tahun yang sangat berarti, bukan hanya bagi mereka, tetapi juga bagi keluarga yang setia mendampingi perjuangan panjang tersebut.

Penyerahan SK dilakukan secara simbolis oleh Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, didampingi Wakil Bupati M. Syaiful Anwar dan Sekretaris Daerah Kabupaten Supriyanto, serta disaksikan unsur Forkopimda, pejabat utama, kepala perangkat daerah, dan para camat di lingkungan Pemkab Lampung Selatan.

Ribuan penerima SK tampak kompak mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Nuansa khidmat semakin terasa dengan sentuhan aksesoris adat daerah, seperti Tukus bagi laki-laki dan selendang tapis bagi perempuan, sebagai simbol kebanggaan identitas dan kebersamaan.

Dalam sambutannya, Bupati Radityo Egi Pratama menyampaikan apresiasi atas kesabaran dan ketekunan para tenaga honorer yang telah lama mengabdi. Ia bahkan menyapa langsung beberapa peserta yang mengaku telah menunggu pengangkatan hingga lebih dari 20 tahun, disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

Bupati Egi menegaskan bahwa pengangkatan sebagai PPPK Paruh Waktu merupakan awal perjalanan baru yang mengandung amanah besar. Ia berharap kebahagiaan yang terpancar hari itu dapat terus terjaga dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

Lebih lanjut, Bupati Egi menekankan pentingnya membangun birokrasi yang bersih dan berintegritas melalui semangat “Betik”, akronim dari Bebas Transaksi Ilegal dan Korupsi.

Menurutnya, budaya anti korupsi tidak hanya menyangkut penyalahgunaan materi, tetapi juga disiplin waktu, etos kerja, dan tanggung jawab dalam melayani masyarakat.

“Saya ingin ASN di Lampung Selatan adalah pegawai yang bersih, disiplin tanpa diawasi, serta melayani masyarakat dengan senyum tulus,” tegasnya.

Ia juga mendorong para PPPK Paruh Waktu untuk menjadi aparatur yang adaptif, inovatif, dan bekerja dengan hati, menjadikan pekerjaan sebagai bagian dari ibadah.

Pengangkatan PPPK Paruh Waktu ini didasarkan pada Keputusan Bupati Lampung Selatan Nomor 800.1.2.5/1185/V.05/2025 tentang Pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja Paruh Waktu.

Dari total 5.792 tenaga non-ASN yang diangkat, terdiri atas 2.299 tenaga guru dengan TMT 1 November 2025, 474 tenaga kesehatan dengan TMT 1 November 2025, serta 3.019 tenaga teknis dengan TMT 1 Oktober 2025.

Melalui kebijakan ini, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menegaskan komitmennya dalam memberikan kepastian status kerja sekaligus meningkatkan kesejahteraan tenaga honorer yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan publik di daerah. (mara)

Sektor Kesehatan Lampung Selatan Diperkuat, RS Tipe C Sapta Jaya Resmi Dibangun di Kalianda

nataragung.id – Kalianda – Sektor kesehatan di Lampung Selatan kembali mendapat penguatan signifikan dengan dimulainya pembangunan rumah sakit baru. Hal itu ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan Rumah Sakit (RS) Tipe C Sapta Jaya di Jalan Lintas Sumatera, Desa Munjuk Sempurna, Kecamatan Kalianda, Rabu (24/12/2025).

Peresmian awal pembangunan tersebut dilakukan langsung oleh Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, sebagai wujud komitmen pemerintah daerah dalam mendorong pemerataan layanan kesehatan sekaligus membuka ruang investasi yang berdampak sosial bagi masyarakat.

Kegiatan itu turut dihadiri Anggota DPRD Lampung Selatan Agus Sartono, Sekretaris Daerah Kabupaten Supriyanto, sejumlah kepala perangkat daerah terkait, Camat Kalianda dan Sidomulyo, serta jajaran manajemen PT Sapta Jaya Medika selaku pengembang.

Wakil Direktur PT Sapta Jaya Medika, Dahlan Sulaiman, menjelaskan bahwa RS Sapta Jaya dibangun di atas lahan seluas 31.279 meter persegi dengan total luas bangunan mencapai 21.761 meter persegi. Ia menyebut Lampung Selatan dipilih sebagai lokasi prioritas karena tingginya dukungan dan antusiasme masyarakat terhadap pembangunan.

“Banyak faktor yang kami pertimbangkan, namun alasan utama memilih Lampung Selatan adalah karena masyarakatnya sangat suportif. PT Sapta Jaya Medika dibentuk agar kehadirannya benar-benar dirasakan langsung melalui pelayanan kesehatan,” ujar Dahlan.

Dukungan terhadap pembangunan rumah sakit tersebut juga datang dari tokoh masyarakat setempat, Sukino Sasmito. Ia menyampaikan rasa syukur atas masuknya investasi besar di wilayah Kalianda yang dinilai akan membawa manfaat luas bagi warga.

“Kami berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan yang telah memberikan izin investasi ini. Dengan adanya rumah sakit ini, warga tidak perlu lagi menempuh jarak jauh untuk berobat. Kami juga berharap ini membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar,” katanya.

Sementara itu, Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama menegaskan bahwa pembangunan RS Sapta Jaya memiliki nilai strategis yang melampaui aspek bisnis semata.

Menurutnya, kehadiran rumah sakit baru tersebut merupakan bentuk investasi sosial untuk kepentingan kemanusiaan.

“Saya sangat mengapresiasi langkah berani PT Sapta Jaya Medika. Ini bukan hanya investasi ekonomi, tetapi juga investasi sosial yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” tegas Bupati Egi.

Bupati Egi berharap RS Sapta Jaya dapat menjadi solusi atas kebutuhan layanan kesehatan yang merata di Lampung Selatan. Ia juga berpesan agar proses pembangunan dijaga dengan baik serta memberi ruang seluas-luasnya bagi tenaga kerja lokal.

“Saya berharap rumah sakit ini menjadi ruang sosial bagi masyarakat dalam mendapatkan akses kesehatan yang layak. Jaga proses pembangunannya agar berjalan lancar dan berikan manfaat nyata, termasuk bagi pencari kerja lokal,” tambahnya.

Rangkaian kegiatan peletakan batu pertama tersebut diakhiri dengan aksi sosial berupa penyerahan paket sembako oleh Bupati Lampung Selatan kepada warga penerima manfaat sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah dan pihak pengembang terhadap lingkungan sekitar. (mara)

Jelang Nataru 2026, DPP KAMPUD Terima Kunjungan Ditintelkam Polda Lampung

nataragung.id – Bandar Lampung – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Komite Aksi Masyarakat dan Pemuda untuk Demokrasi (KAMPUD) menerima kunjungan silaturahmi Direktorat Intelijen dan Keamanan (Ditintelkam) Kepolisian Daerah (Polda) Lampung, di Kantor DPP KAMPUD, Jalan P Tirtayasa, Komplek Ruko Griya Bukit Kencana nomor A5, Kelurahan Campang Raya, Kecamatan Sukabumi, Kota Bandar Lampung, pada Rabu (24/12/2025).

Pertemuan DPP KAMPUD dengan Ditintelkam Polda Lampung selain untuk bersilaturahim, juga dalam rangka mewujudkan sinergitas dalam menjaga situasional di tengah masyarakat agar selalu kondusif khususnya menjelang perayaan hari Natal dan tahun baru.

Hadir dalam agenda silaturahmi ini yaitu Ketua Umum DPP KAMPUD, Seno Aji, S.Sos, S.H, M.H didampingi oleh Sekretaris Umum, Agung Triyono, A.Md, sedangkan Ditintelkam Polda Lampung oleh Ipda Yunan Zamzani, SH sebagai Kanit 2 Subdit 1 Politik Ditintelkam didampingi oleh jajaran terkait.

Adapun maksud dan tujuan dari agenda kunjungan silaturahmi dalam bingkai semangat kekeluargaan tersebut, bertujuan untuk tetap menjalin sinergitas dalam menjaga keamanan dan ketertiban.

“Kita menyambut baik penuh dengan rasa kekeluargaan atas kunjungan silaturahmi dan kehadiran dari Ditintelkam Polda Lampung, dan In Shaa Allah, DPP KAMPUD akan selalu menjaga sinergitas dan mendukung program kerja Polda Lampung menjaga lingkungan yang aman, tertib, kondusif dan nyaman, kata Seno Aji.

Sementara, Ipda Yunan Zamzani menyampaikan ucapan terimakasih kepada DPP KAMPUD atas sambutan dalam kunjungan silaturahmi tersebut, dan siap berkolaborasi dengan unsur masyarakat dalam menjaga suasana kondusif, aman dan tertib.

“Alhmdulillah, Kami (Ditintelkam Polda Lampung) mengucapkan rasa terima kasih atas sambutan yang luar biasa dari DPP KAMPUD, jadi kedatangan kami, tidak sekedar silaturahmi, tetapi kedepannya terus terbangun kebersamaan, sinergitas dan bersama-sama menjaga kondusifitas dalam bingkai keamanan dan ketertiban masyarakat demi Provinsi Lampung yang telah terbangun dengan sangat kondusif,” ujar Ipda Yunan Zamzani.

Agenda yang berlangsung hangat penuh rasa persaudaraan tersebut diiringi dengan nuansa diskusi terkait isu- isu politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan yang merujuk pada dimensi-dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara yang rentan terhadap ancaman. Melalui diskusi tersebut diharapkan tercipta pola kolaborasi yang saling mendukung.

“Tanggungjawab menjaga keamanan dan ketertiban, bukan hanya menjadi tugas dari Polda Lampung semata, namun harus melibatkan seluruh unsur dan sektor dari berbagai stakeholder yang ada di masyarakat, untuk berperan aktif. Kami yakin DPP KAMPUD menjadi garda terdepan bersama-sama kami, mewujudkan hal itu,”terang Ipda Yunan sapaan akrabnya.

Dalam kesempatan yang sama, isu-isu kegiatan penambangan tanpa izin (Peti) dan kelangkaan BBM jenis solar subsidi menjadi topik pembahasan yang sangat menarik diperbicangkan dalam pertemuan DPP KAMPUD dengan Ditintelkam Polda Lampung sebagai isu yang sedang trend di masyarakat.

“Kita juga menyampaikan sejumlah situasi terkini terkait maraknya penambangan tanpa izin (Peti) di wilayah Kota Bandar Lampung dan Provinsi Lampung, serta susahnya mendapatkan BBM jenis solar subsidi, semoga keadaan ini menjadi perhatian khusus oleh Polda Lampung dan segera mendapatkan solusi terbaik”, ungkap Seno Aji didampingi Agung Triyono.

“Perihal itu, kami telah melakukan langkah-langkah dan saling berkoordinasi dengan berbagai pihak. Kami berharap kepada DPP KAMPUD agar terus berkolaborasi bersama kami dan mengawal fenomena adanya penambangan tanpa izin (Peti) dan kelangkaan BBM jenis solar subsidi ini, harapannya suasana kondusif, aman dan tertib terus terjaga untuk Provinsi Lampung”, pungkas Ipda Yunan. (SMh)